Kebolehan Mempelajari Ilmu Kalam

0

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rosulillah wa aalihi wa sohbihi wa man walaah, wa ba’d. Ilmu kalam, ilmu usuluddin, dan ilmu tauhid adalah 3 nama dari satu bidang ilmu yang sama.

Sa’duddin at-Tiftazani telah menjelaskan dengan panjang lebar ketika menerangkan sebab munculnya penamaan ilmu ini dengan ilmu kalam. Beliau mengatakan, “dinamakan dengan ilmu kalam karena judul pembahasan dari ilmu ini sering memakai kalimat ‘al-kalam fi kadza’ (pembahasan tentang permasalahan tertentu). Oleh karena ‘al-kalam’ (perdebatan dan dialog) yang banyak ditulis dalam kitab-kitab, maka penamaan ilmu ini dengan kalam menjadi masyhur.

Berawal dari kalam-kalam yang saling berbeda pendapat sampai berlanjut pada tindakan pembunuhan suatu kelompok kepada kelompok yang lain, maka penyebutan ilmu ini dengan ‘kalam’ menjadi semakin terkenal”. (syarkh al-‘aqo’id an-nasafiyah). Dan masih ada hal-hal lain yang menyebabkan munculnya istilah kalam yang termaktub di dalam beberapa kitab.

Adapun penamaan ilmu ini dengan ilmu tauhid karena permasalahan tauhid yang paling banyak dibicarakan. Dan dinamakan dengan ilmu usuluddin (dasar-dasar agama), karena agama dibangun di atas ilmu ini. Ilmu ini adalah ilmu yang sangat bernilai, karena ia mampu memberikan solusi atas berbagai permasalahan umat Islam.

Diantaranya permasalahan tentang al-uluhiyyah (ketuhanan), ar-risalah (kenabian), permasalahan tentang hari akhir, dan lain-lain.

APAKAH ITU ILMU KALAM

Ilmu kalam adalah ilmu yang membahas tentang penguatan dalil-dalil/bukti-bukti tentang kebenaran aqidah keimanan. Dari pengertian ini kita dapat mengatakan bahwa ilmu kalam bukanlah ilmu yang buruk. Akan tetapi sebaliknya, ia adalah ilmu yang bagus karena selaras dengan ajaran al-Qur’an dan al-Hadits. Para mutakallimin (ulama ahli ilmu kalam) telah mendefinisikan ilmu kalam yang berarti ilmu yang disarikan dari dalil-dalil yang kuat untuk memantapkan pondasi-pondasi agama. (tuhfatul murid ‘ala jauharotit tauhid).

PERKEMBANGAN ILMU KALAM

Awal kemunculan ilmu kalam bermula dari keinginan para ulama untuk melawan para ahli bid’ah yang gemar memancing perdebatan atas permasalahan aqidah Islam. Para ahli bid’ah seringkali memunculkan syubhat (kerancuan-kerancuan) yang menabrak batasan dan dasar-dasar agama yang telah dibangun oleh para ulama zaman dahulu. Mereka juga gemar mencampuradukkan kerancuan-kerancuan itu dengan kaidah-kaidah filsafat. Oleh sebab itu para ulama ahlussunnah wal jama’ah merasa perlu untuk melawan mereka dengan berdebat dan berdiskusi, sehingga kerancuan-kerancuan yang mereka munculkan -yang menyebabkan kebingungan umat Islam yang masih awam dan lemah akalnya- dapat dihilangkan.

Jika para ulama membiarkan perbuatan mereka, maka umat Islam yang kurang tajam pemikirannya mengira bahwa pemikiran para ahli bid’ah itu bagian dari agama -sehingga banyak yang tersesat dan menyimpang dari jalan kebenaran aqidah yang lurus. Maka dari itu bagi ulama yang diberi kemampuan lebih oleh Allah diharuskan untuk mempelajari dan mendalami ilmu ini guna menolak pemikiran-pemikiran ahli bid’ah yang membahayakan umat Islam.

Para ulama ahlussunnah memiliki tugas untuk menolak dan membatalkan pemikiran dan kerancuan-kerancuan mereka. Adapun metode yang mereka gunakan adalah dengan menetapkan dasar-dasar agama Islam dan menguatkannya dengan dalil-dalil yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits dengan bahasa yang menentramkan sanubari dan menyejukkan kalbu.

ILMU KALAM YANG BURUK

Apabila ilmu kalam memiliki keutaman yang tinggi -yakni berguna untuk menolak kerancuan para ahli bid’ah-, tetapi mengapa beberapa ulama salaf melarang kita untuk menyibukkan diri dengan ilmu ini?

Sebelum menjawab pertayaan ini, terlebih dahulu kami akan menyebutkan beberapa perkataan dari para ulama salaf yang melarang memperdalam ilmu kalam.

Imam al-Ghozali mengatakan, “hukum mempelajari ilmu kalam bermacam-macam. Hukum mempelajari ilmu kalam adalah mubah atau sunnah ketika seseorang menghabiskan sebagian besar waktunya dan mencurahkan segala pikirannya untuk mendalami ilmu ini”. Dan mengenai keharaman ilmu kalam Imam beliau mengatakan, “seorang hamba yang membawa segala dosa selain syirik lebih baik baginya dari pada ia bertemu Allah dengan membawa ilmu kalam”.

Sedangkan mengenai wajibnya mempelajari ilmu kalam beliau berkata, “hukum mempelajari ilmu kalam menjadi wajib -baik fardlu ‘ain atau fardlu kifayah ketika ilmu kalam dapat menjadi sebuah amalan atau perantara yang paling baik untuk mendekat kepada Allah. Hal ini karena ilmu kalam berfungsi untuk memantapkan tauhid dan menjaga agama Allah”.

Dan diantara ulama yang mengharamkan ilmu kalam diantaranya Imam as-Syafi’i, Malik, Ahmad bin Hambal, Sufyan, dan semua ahli hadits dari ulama salaf. Mereka mengatakan bahwa apabila ilmu kalam termasuk bagian dari agama maka nabi Muhammad SAW akan memerintahkan untuk mempelajarinya, mengajarkannya, dan memuji para pelakunya.

Akan tetapi nabi tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk mempelajarinya. Diriwayatkan dari Abu Yusuf, Rasulullah SAW bersabda, man tholaba ad-dina bilkalaam, tazandaqo (ihya’ ulumuddin), artinya: “barangsiapa yang mencari agama dengan ilmu kalam, maka ia akan menjadi kafir zindik”.

HAKEKAT LARANGAN MEMPELAJARI ILMU KALAM

Sesungguhnya larangan para ulama untuk mempelajari ilmu kalam tidak sepenuhnya bersifat mutlak. Ilmu kalam yang dilarang oleh para ulama adalah ilmu kalam yang menggunakan metode para filosof, cara-cara ahli bid’ah, dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsu -untuk memenangkan akal dan mengalahkan al-Qur’an dan al-Hadits-. Para filosof itu senantiasa menjadikan akalnya sebagai tuhan.

Dan ilmu kalam bagi mereka adalah menyamakan antara kedudukan akal dengan kedudukan al-Qur’an dan al-Hadits. Padahal kedudukan al-Qur’an harus jauh lebih tinggi dari pada akal. Ilmu kalam versi mereka mengikuti cara-cara filosof yang amat rumit dalam menguraikan pembagian-pembagian teori sesuatu yang hanya bisa dipahami oleh sedikit orang. Oleh karena itu ilmu kalam ini terlalu banyak memunculkan pertanyaan dan jawaban yang amat mendetail yang mengakibatkan timbulnya banyak kerancuan dan keraguan.

Dan dalam hal ini nabi bersabda, halaka al-mutanatthi’uun (akan hancur orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mendalami ilmu kalam) (HR. Muslim). Mengenai hadits ini imam al-Ghozali mengatakan bahwa ilmu kalam yang dimaksud di sini adalah yang mengikuti cara-cara filsafat yang mengedepankan akal dan meninggalkan al-Qur’an dan al-Hadits, dan menjadikan akal mereka sebagai ukuran kebenaran. Inilah ilmu kalam yang dilarang oleh para ulama.

Sa’duddin at-Tiftazani mengatakan bahwa pelarangan ilmu kalam ini diperuntukkan bagi mereka yang bermaksud ingin menghancurkan agama Islam, juga bagi orang-orang yang memiliki akal dan pemahaman yang lemah, dan bagi orang yang bertujuan untuk menyebarkan fitnah di kalangan umat Islam. (syarh al-‘aqo’id an-nasafiyah). Alasan lainnya yaitu karena dikhawatirkan seseorang akan melakukan suatu perbuatan bid’ah dan kufur, karena ia belum siap dan belum mampu, yang pada akhirnya akan menjadi tersesat setelah mempelajari ilmu ini.

Disamping itu pelarangan ini juga mungkin karena adanya cerita dan kisah-kisah yang termaktub di dalam ilmu kalam yang menceritakan tentang adanya orang-orang ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang gemar memunculkan kerancuan-kerancuan di dalam madzhab ahlussunnah wal jama’ah, sehingga mengakibatkan tersebarnya pemikiran-pemikiran ahli bid’ah yang dampaknya sangat membahayakan.

Sementara para ulama memiliki tanggung jawab untuk mematikan pemikiran-pemikiran mereka. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hambal sangat keras dalam mencela ilmu ini, bahkan ia memarahi seorag ulama yang bernama al-Harits al-Mukhasibi setelah ia mengarang sebuah kitab yang mengandung jawaban-jawaban atas kerancuan para pelaku bid’ah. Imam Ahmad berkata kepadanya, “celaka engkau wahai Harist!, bukankah dengan kitabmu itu engkau akan menceritakan kembali kebid’ahan mereka dahulu, kemudian engkau akan menolaknya dengan pemikiranmu.

Bukankah engkau akan mengajak manusia untuk melihat dan membaca bid’ah-bid’ah yang rancu itu, dan mereka akan berfikir mengenai kerancuan itu yang berakibat menyibukkan pikiran mereka, dan selanjutnya mereka akan berlebih-lebihan dalam mencari tahu dan mendalami ilmu ini”. (ihya’ ulumuddin).

Atau boleh jadi alasan pelarangan mereka adalah karena ilmu kalam akan berakibat pada kegoncangan iman, jatuhnya kewibawaan Allah dari pandangan mata hati manusia, dan meninggalkan ilmu-ilmu lain yang lebih bermanfaat. Disamping itu seseorang akan banyak meluangkan banyak waktu unuk mendalami ilmu ini, padahal sebenarnya ia tidak terlalu memerlukannya. Ilmu kalam ini bagaikan obat yang hanya bermanfaat bagi sedikit orang, namun membahayakan bagi banyak orang.

NASH-NASH YANG MENYEBUTKAN BERTAUBATNYA BEBERAPA ULAMA DARI MEMDALAMI ILMU KALAM

Perkataan sebagian orang mengenai taubatnya para ulama di akhir hayatnya karena telah mendalami ilmu kalam, lalu mereka menyesal atas waktu yang telah mereka sia-siakan adalah tuduhan yang tidak memiliki dalil yang pasti dan bukti yang jelas.

Perkataan sebagian orang atas pernyataan para ulama yang bertaubat dari mempelajari ilmu kalam di akhir hidupnya tidak memiliki landasan yang kuat. Dan apabila kita mau membacanya dengan akal sehat maka kita akan memahami bahwa justru perkatan para ulama itu bertentangan dengan tuduhan mereka.

Diantara pernyataan para ulama yang menjadi dalil atas tuduhan mereka adalah mengenai taubatnya imam Fakhrur Rozi dari ilmu kalam. Beliau mengatakan, “aku telah mengamati dan meneliti berbagai cara dan metode para ahli ilmu kalam dan para filosof, dan aku berpendapat bahwa semua itu tidak bisa menyembuhkan penyakit dan menyegarkan kegundahan kecuali satu hal. Aku berfikir bahwa metode yang paling dekat untuk menuju Allah adalah metode al-Qur’an”. (siar a’lamun nubala’).

Berdasarkan ungkapan imam ar-Rozi diatas, ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa ini adalah bukti bahwa imam Fakhrur Rozi meninggalkan ilmu kalam di akhir hidupnya. Kemudian mereka menyimpulkan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang buruk. Sesungguhnya jika kita mau kembali memahami perkataan imam Fakhrur Rozi dengan akal yang jernih maka kita akan mendapatkan kesimpulan yang berbeda dengan mereka.

Kita akan menyimpulkan bahwa al-Qur’an yang merupakan firman Allah tentu lebih tinggi nilai dan kemuliaannya dari semua perkataan manusia, dan semua umat muslim pasti akan mengakui hal ini. Oleh karena itu, sama sekali tidak ada keterangan yang jelas yang mengatakan bahwa imam Fakhruddin meninggalkan ilmu kalam.

Dan yang menjadikan aneh bagi kita adalah tuduhan mereka kepada sebagian ulama -yang mereka anggap meninggalkan ilmu kalam itu- dikatakan setelah mereka wafat. Mengapa mereka tidak mengatakannya ketika mereka masih hidup, sehingga kita bisa mendengar langsung jawaban-jawaban dari para ulama atas tuduhan yang mereka lemparkan?!. Jika kita mau berfikir sejenak, maka kita akan mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa pada hakekatnya mereka memiliki tujuan terselubung dibalik tuduhan mereka.

Mereka ingin menyebarkan isu ini untuk menyibukkan pikiran umat Islam. Mereka menginginkan agar umat islam berfikir bahwa madzhabnya imam Fakhruddin ar-Rozi itu adalah madzhab yang salah, dan sebaliknya madzhab merekalah yang benar. Sesungguhnya mereka ingin mengatakan bahwa semua madzhab yang berbeda pendapat dengan madzhab mereka adalah salah -karena menurut mereka mempelajari ilmu kalam hukumnya haram- tentu saja dengan berlandaskan atas dalil yang mereka buat sendiri yaitu bertaubatnya para ulama dari madzhab yang membolehkan ilmu kalam.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pada hakekatnya larangan para ulama salaf atas ilmu kalam hanya terbatas bagi orang-orang yang mempelajarinya dengan meniru metode ilmu filsafat, metode para pelaku bid’ah, dan orang-orang yang meperturutkan hawa nafsu mereka -yang lebih mengedepankan akal dan meninggalkan al-Kitab dan as-Sunnah-. Oleh karena itu larangan ini sifatnya tidak mutlak.

Ibnu Hajar al-Haitami mengatakan, “mengajarkan hujjah-hujjah (dalil-dalil) para ulama ahli ilmu kalam dan menggunakannya untuk menolak para ahli bid’ah hukumnya fardlu kifayah, dan menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang ahli. Apalagi para penentang itu tidak bisa dikalahkan melainkan dengan ilmu kalam”. Maka, dapat dikatakan bahwa ilmu kalam ada yang baik dan ada yang buruk -menurut masing-masing orang yang menggunakannya-. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply