Keajaiban Penciptaan Laut dan Sungai

0

Sungai adalah aliran air tawar yang besar dan bermuara di laut, danau atau kumpulan air lainnya. Laut atau samudra adalah kumpulan air asin dalam jumlah banyak dan luas yang menggenangi dan membagi daratan atas benua dan pulau-pulau. Air laut asin dan pahit, air sungai tawar dan segar. Allah berfirman: Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi”. (QS. Al-Furqan ayat 53)

Menurut Quraish Shihab dalam tafsirnya, firman Allah di atas menggunakan kata ‘hadza’/ini yang merupakan isyarat dekat kepada kedua laut itu, mengesankan bahwa kendati terjadi kedekatan laut dan sungai satu sama lain, namun yang satu tidak bercampur dengan yang lain.

Ada yang berkata bahwa penghalang yang dijadikan Allah itu adalah posisi aliran sungai yang biasanya lebih tinggi dari permukaan laut, karena air sungai yang tawar itulah yang mengalir ke laut, bukan sebaliknya. Dan dengan pengaturan Allah yang sangat teliti ini, air laut walaupun banyak, tidak mengasinkan air sungai yang merupakan sumber air minum manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan air sungai karena kadarnya sedikit, namun air tawar itu tidak dapat mengubah rasa asin air laut. Allah SWT telah menetapkan hukum-hukum yang mengatur alam raya ini, sehingga air laut tidak mengalahkan air sungai.

Air sungai Amazon yang mengalir deras ke laut Atlantik sampai batas dua ratus mil masih tetap tawar. Demikian juga dengan mata air-mata air di Teluk Persia. Ikan-ikannya sangat khas dan masing-masing tidak dapat hidup kecuali di lokasinya.

Pemisahan antara dua laut tersebut, menurut sebagian ulama dapat diibaratkan sebagai pemisah antara muslim dengan kafir. Mukmin diibaratkan sebagai sungai, posisinya selalu tinggi walau jumlahnya sedikit. Sedangkan orang kafir diibaratkan sebagi laut, posisinya selalu rendah, kendati airnya banyak. Ada pemisah antara keduanya. Pemisah itu adalah nilai-nilai agama. Dimana luhurnya nilai-nilai keislaman. Wallahu A’lam.

Ilmu manusia sangat terbatas, dan ilmu Allah tiada batas.

“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS. Al-Kahfi ayat 109)

Dari berbagai sumber

 

Share.

Leave A Reply