Jumlah Dzikir Yang Dibaca Di Zaman Akhir Harus Lebih Banyak

0

Jumlah Dzikir Yang Dibaca Di Zaman Akhir Harus Lebih Banyak. Nafsu amarah senantiasa datang untuk menggoda kita dengan menghiasi keburukan agar tampak indah. Jadi nafsu harus kita lawan dengan dzikir. Kalimat laa ila ha illallah menjadi permulaan dzikir.

Dzikir adalah ibadah. Tujuan satu-satunya hanyalah Allah. Tujuan utamanya hanyalah untuk mendapatkan hasil. Hasilnya adalah mengetahui cara beradab dan bersopan santun kepada Allah SWT. Apabila kita telah mendapatkannya berarti kita dapat dikatakan sukses. Tetapi jika belum, maka masih berada pada tahap pemula.

Para ulama zaman dahulu menganjurkan murid-murid untuk membaca dzikir laa ila ha illallah sebanyak 30.000 kali. Akan tetapi ketika mereka melihat kondisi hati manusia yang melekat dan bergantung kepada dunia, mereka akan mengubah jumlah hitungan dzikir yang harus dibaca.

Mereka menyaksikan kondisi manusia yang semakin buruk karena terjajah oleh hawa nafsu. Itulah kenyataan yang terjadi. Semakin bertambahnya waktu, bertambah pula kemaksiatan.

Setiap orang akan mengatakan bahwa zaman ini lebih buruk dari pada zaman ketika aku muda dulu. Pada hakekatnya, zaman selalu berjalan ke arah yang lebih gelap dari sebelumnya.

Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “sebaik-baik zaman adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya dan setelahnya”.[1] Nabi juga bersabda, “tidak ada suatu zaman, kecuali zaman setelahnya akan lebih buruk dari zaman sebelumnya”.[2]

Benar, jika zaman sekarang dikatakan lebih baik dan lebih maju dari sebelumnya dari segi jalan, pembangunan, kesehatan, pendidikan, industri, ekonomi, dan lain-lain. Akan tetapi dari segi ruhiyyah, zaman ini lebih buruk dari zaman sebelumnya.

Maksud dari nilai ruhiyah adalah hubungan antara hamba dengan Tuhannya, kosongnya hati dari dunia, dan perhatian seseorang di dalam peribadatan kepada Allah SWT.

Para ulama menganjurkan untuk banyak berdzikir dengan dzikir laa ila ha illallah. Ketika kita mengucapkan lafadz laa ila ha’ (nafi/peniadaan akan adanya Tuhan) kita akan teringat dengan takhliyyah (peniadaan/pengosongan hati dari segala sifat-sifat yang tidak baik). Disamping itu, kita juga akan mengingat akan peniadaan (red: ukuran) diri kita dibandingkan Allah tuhan semesta alam. Allah itu maha kekal, sedangkan diri ini akan hancur. Makna ini akan selalu kita ingat manakala kita sedang berdzikir laa ila ha.

Selanjutnya kita akan berdzikir dengan dzikir istbat -yang menunjukkan wujud (keberadaan) dan tahliyyah (penghiasan). Jadi seolah-olah kita mengucapkan laa ila ha di dalam hati dan selanjutnya kita akan berusaha menghadirkan Allah SWT.

Laa ila ha menunjukkan ketiadaberadaan makhluk, yang kemudian diadakan. Dzikir nafi menunjukkan makna ini. Sedangkan itsbat (penetapan) menunjukkan terpenuhinya hati dengan cahaya-cahaya ilahi yang menyinari seorang mukmin ketika berjalan menuju Allah SWT.

Manusia zaman ini sudah terbuai oleh gemerlap dunia. Oleh karena itu, para ulama sufi menambahkan bilangan dzikir yang harus diamalkan menjadi sebanyak 100.000 lebih. Hendaknya kita berdzikir dengan menyesuaikan pada kemampuan diri.

Kita dapat berdzikir sebanyak 500, 1000 atau 2000 kali setiap harinya. Apabila kita berdzikir sebanyak 500 kali setiap hari, maka dalam waktu 200 hari kita akan menyelesaikannya. Dan apabila kita berdzikir sebanyak 5000 kali setiap hari, maka hitungan dzikir akan selesai dalam jangka waktu 20 hari.

Dzikir adalah ibadah yang harus dilakukan dengan penghayatan, bukan hanya sekadar gerakan lisan tanpa makna. Akan tetapi jika kita baru mampu berdzikir dengan gerakan lisan, kita harus tetap melanjutkan dzikir.

Dzikir lisan memiliki pahala yang besar. Apabila kita meyakini bahwa dzikir yang hanya dilakukan dengan lisan saja dapat mendatangkan pahala yang besar, lalu sebesar apakah pahala yang akan kita dapatkan apabila kita bisa melakukan dzikir lisan yang bersamaan dengan gerakan hati?!. Tentu akan luar biasa.

Syekh Ali Jum’ah, At-Tariq ila Allah

 

[1]               Hadits riwayat Bukhori dan Muslim

[2]               Hadits riwayat Bukhori, Ibnu Habban, Tirmidzi

Share.

Leave A Reply