Jika Kau Ingin Mendapatkan Naungan Allah, Maka Masuklah Kedalam Salah Satu Dari Tujuh Golongan

0

Jika Kau Ingin Mendapatkan Naungan Allah, Maka Masuklah Kedalam Salah Satu Dari Tujuh Golongan. Tidak ada kedahsyatan yang melebihi kedahsyatan di hari kiamat nanti. Setiap manusia akan dilanda perasaan yang berkecamuk tentang bagaimana nasibnya ketika menghadapi pengadilan Allah SWT. Apakah ia akan selamat melewati tahap demi tahap sampai akhirnya sampai ke pintu surga, atau ia akan terjatuh ke dalam jurang neraka. Dalam suasana yang menyusahkan itu ada beberapa golongan manusia yang tidak merasa susah, karena mereka mendapatkan naungan Allah SWT

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ اْلإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ – متفق عليه

Dari Abu Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda ” Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah pada hari tiada naungan selain nauangan-Nya. (Mereka adalah) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, orang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah sehingga mereka bertemu dan berpisah karena Allah, laki-laki yang diajak berbuat zina oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah’, orang yang bershadaqah dan merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui yang dsihadaqahkan tangan kanannya, dan orang yang mengingat Allah di saat sendiri samapi kedua matanya basah dengan air mata.” (Muttafaqun Alaih)

HIKMAH HADITS:

  1. Bahwa kelak ketika manusia dikumpulkan di padang mahsyar, Allah SWT akan memberikan perlindungan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dimana pada saat tersebut, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan, perlindungan, atau apapun juga yang dapat meringankan manusia, selain perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT. Imam Nawawi memberikan syarah terhadap hadits di atas :

والمراد يوم القيامة إذا قام الناس لرب العالمين ودنت منهم الشمس واشتد عليهم حرها

Bahwa yang dimaksud adalah pada hari kiamat, ketika manusia dibangkitkan dihadapan Allah Rabul Alamin, dan didekatkan matahari kepada mereka dimana panasnya amat terik kepada mereka (Al-Minhaj Fi Syarh Shahih Muslim bin Hajjaj)

  1. Mereka yang kelak akan mendapatkan naungan Allah SWT (sebagaimana yang disebutkan dalam hadtis di atas), adalah 7 golongan, yaitu 1. pemimpin yang adil, 2. pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, 3. orang yang hatinya terpaut dengan masjid, 4. dua orang yang saling mencintai karena Allah, 5. laki-laki yang tidak mau diajak berzina karena takut kepada Allah, 6. orang yang menyembunyikan shadaqahnya dan 7. orang yang berdoa kepada Allah di saat sendiri, lalu menetes airmatanya lantaran takut kepada Allah SWT.

3.#1 : Golongan pertama yang akan mendapatkan naungan Allah SWT adalah seorang pemimpin yang adil. Pemimpin yang adil adalah pemimpin yang tidak berbuat dzalim, dan senantiasa berusaha untuk berbuat baik kepada siapapun, sesuai dengan rambu-rambu Al-Qur’an dan sunnah. Walaupun memang pada dasarnya Islam memandang bahwa setiap orang adalah pemimpin (lihat taujihat No 001). Namun pemimpin yang dimaksud dalam hadits ini adalah pemimpin yang memiliki tugas dan wewenang untuk memimpin sekumpulan atau banyak orang. Menguatkan hal tersebut, Rasulullah SAW bersabda “Tidaklah seorang hamba yang Allah berikan amanat kepadanya berupa rakyat yang dipimpinnya kemudian ia meninggal dunia dan pada saat ia meninggal ia berbuat kecurangan terhadap rakyatnya, maka Allah akan haramkan baginya surga” (HR. Muslim)

4.#2 : Golongan kedua adalah pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Swt. Artinya seseorang yang menjaga masa mudanya dalam ibadah kepada Allah SWT, serta tidak menggunakan masa mudanya untuk berfoya-foya, atau melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan agama, sehingga ia gunakan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah SWT.

5.#3 : Golongan ketiga adalah pemuda atau seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid. Karena masjid merupakan sentra kegiatan Islam, dimana didalamnya berkumpul orang-orang yang memiliki tujuan dan orientasi satu, yaitu mengharap keridhaan Allah SWT. Dalam sebuah riwayat lainnya Rasulullah SAW pernah bersabda, Apabila kalian melihat pemuda yang menekuni masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang yang (benar-benar) beriman.” (HR. Turmudzi & Ahmad)

6.#4 : Golongan keempat adalah dua orang (pemuda) yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu karena Allah dan mereka berpisah juga karena Allah. Artinya dua orang pemuda tersebut adalah pemuda yang sama-sama memiliki keimanan kepada Allah, berjuang di jalannya, serta beraktivitas untuk menegakkan kalimatullah. Dua orang disini bukanlah dua orang yang berlainan jenis yang saling mencintai lalu kemudian menikah. Namun mereka adalah dua orang pemuda yang sama-sama beraktivitas untuk menggapai ridha Allah, dimana mereka bertemu dan berpisah hanya karena Allah SWT, untuk menegakkan kalimatullah.

7.#5 : Golongan kelima adalah laki-laki yang diajak berbuat zina oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu ia menjawab, “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”. Artinya ia adalah seorang pemuda yang menjaga kehormatan diri dan agamanya, serta berusaha untuk menghindarkan diri dari kemaksiatan, khususnya terkait kemaksiatan dengan lawan jenisnya, bahkan ketika diajak berbuat maskiat oleh wanita yang cantik dan memiliki kedudukan sekalipun. Karena fitnah lawan jenis merupakan fitnah yang paling dahsyat. Dan ia meninggalkan hal tersebut, karena semata-mata takut kepada Allah SWT. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum laki-laki, dibandingkan dengan fitnah wanita.” (Muttafaqun Alaih).

8.#6 : Golongan keenam adalah orang yang bershadaqah dan merahasiakannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui yang dsihadaqahkan tangan kanannya. Artinya bahwa ia merupakan ahli shadaqah yang senantiasa menyisihkan sebagian rizkinya untuk berinfak dan shadaqah dalam setiap keadaan. Kemudia ia pun berusaha menjaga keikhlasannya dalam bershadaqah. Sehingga demikian menjaganya, hingga diibaratkan bahwa seolah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dishadaqahkan oleh tangan kanannya.

9.#7 : Golongan ketujuh adalah orang yang mengingat Allah di saat-saat sedang sendiri sampai kedua matanya basah dengan air mata. Ini merupakan tanda keimanan yang mendalam bagi seorang mu’min, yaitu ketika ia dapat menangis seorang diri di tengah kesunyian dan keheningan malam, lantaran takut kepada Allah SWT. Pernahkan kita mengalami hal seperti ini, meneteskan airmata di saat sunyi dan sendiri? Jika sudah pernah, maka bersyukurlah karena ini merupakan tanda keimanan. Namun apabila belum pernah, maka segeralah meminta ampunan kepada Allah SWT..

10.Ketujuh golongan diatas merupakan kelompok-kelompok orang yang kelak akan mendapatkan naungan dan perlindungan dari Allah SWT di hari tiada naungan dan pertolongan kecuali naungan dan pertolongan dari Allah SWT. Maka marilah kita hiasi diri kita dengan ketujuh sifat di atas. Walaupun menurut para ulama, jumlah tujuh sebagaimana yang disebutkan dalam hadits diatas bukanlah pembatasan. Karena dalam riwayat lainnya masih terdapat golongan lain yang mendapatkan naungan Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ لَهُ أَظَلَّهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ – رواه الترمذي

Dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menangguhkan hutang orang yang sedang kesulitan, atau membebaskannya dari hutangnya, maka Allah akan menaunginya nanti pada hari kiamat, di bawah naungan Arsy’-Nya, di saat tiada naungan melainkan hanya naungan-Nya.” (HR. Turmudzi)

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply