Jangan sampai kau mengetahui banyak hal tentang orang lain, tapi tak mengetahui satu hal pun dari dirimu. Hal buruk.

0

Jangan sampai kau mengetahui banyak hal tentang orang lain, tapi tak mengetahui satu hal pun dari dirimu. Hal buruk.

Sesungguhnya Allah senang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Hamba yang bertaubat berarti hamba yang sadar akan kesalahan dan kemaksiatan yang dilakukannya. Ia tahu bahwa kelemahannya sebagai manusia sering membawanya pada perbuatan-perbuatan dosa. Oleh karena itu ia bersimpuh di hadapan Allah, satu-satunya Tuhan yang mampu menghapus dosa-dosanya dan mengantinya dengan kebaikan.

Tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti pernah melakukan dosa, baik dosa kecil maupun dosa besar. Oleh karena itu Allah tetap terus membuka pintu taubat-Nya sampai hari kiamat nanti. Barangsiapa yang menginginkan keselamatan di akherat, maka ia akan segera bertaubat setelah ia tenggelam dalam kelalaian. Dan barangsiapa yang tidak peduli dengan akherat, maka ia akan terus berada dalam kegelapan, Na’udlubillahi min dzalik.

Orang yang tidak peduli dengan akherat adalah orang yang hatinya telah dikuasai oleh hawa nafsu. Hawa nafsu selalu menghalangi mata hatinya yang hendak melihat kesalahan diri sendiri, sehingga ia benar-benar tidak menemukan kesalahan di dalam dirinya sendiri. Setelah ia tidak merasa memiliki kesalahan, maka timbullah rasa sombong di dalam hatinya. Lalu ia mulia mencari-cari kesalahan orang lain. Dan setiap saat ia terus melihat aib-aib orang lain demi memuaskan hawa nafsunya.

Para ulama mengatakan, ‘Orang yang sibuk melihat orang lain maka akan lupa kepada dirinya. Dan barangsiapa yang sibuk melihat dirinya maka ia tidak akan melihat Tuhannya’. Tidak melihat Tuhan berarti lupa kepada-Nya. Dan ketika seseorang lupa kepada Tuhan maka iblis akan mudah masuk ke dalam tubuhnya, lalu ia akan membisiki nafsu agar melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Dan ketika ia telah melakukan hal-hal yang dilarang maka ia telah memberi makan pada nafsu.

Nafsu akan terus meminta makan pada pemiliknya. Ketika lapar, ia akan terus merengek memaksa kepada pemiliknya agar dituruti keinginanya, sehingga ia akan kembali melakukan larangan Allah bahkan sampai berkali-kali. Apabila maksiat itu telah menjadi kebiasannya maka ia akan sulit untuk disadarkan. Lalu bagaimana nasibnya di akherat kelak, sementara ia belum sadar sebelum Malaikat Izrail datang untuk menjemput nyawanya?

Mari kita memohon kepada Allah agar diperlihatkan kesalahan-kesalahan kita yang akan membuat kita sibuk memperbaiki diri, hingga kita tidak sempat lagi untuk melihat aib-aib orang lain.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Mahapenyayang. (QS Al-Hujarat [49]: 12)

 

 

 

 

 

 

 

Share.

Leave A Reply