Jangan Mencari Masalah Di Bulan Ramadhan

0

Jangan Mencari Masalah Di Bulan Ramadhan. Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi puasa juga menahan diri dari segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah Swt. Apabila seseorang mengerjakan puasa, tetapi ia masih menuruti hawa nafsunya maka ia sama saja tidak berpuasa. Meskipun ia tidak minum dan menyantap makanan mulai dari terbit matahari sampai terbenamnya, ia tidak mendapatkan pahala puasanya. Ia tidak mendapatkan sesuatu kecuali lapar dan haus.

Agar puasa diterima sehingga pahala yang terkandung di dalamnya bisa kita dapatkan maka kita harus benar-benar mampu mencegah diri kita dari yang diharamkan. Mata kita jauhkan dari melihat aurat wanita, telinga kita jauhkan dari mendengar pegunjingan. Tangan kita jauhkan dari mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Mulut kita jauhkan dari makanan dan minuman yang haram. Lisan kita jauhkan dari membicarakan aib dan menjelek-jelekkan orang lain. Kaki kita jauhkan dari majelis-mejelis syetan dan tempat-tempat maksiat. Pikiran kita jauhkan dari berpikira negatif. Hati kita jauhkan dari rasa sombong dan berbangga diri.

Apabila seseorang mampu menjalankan puasa yang sempurna maka Allah akan menerima puasanya. Dan jika Allah telah menerima puasanya maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga melalui pintu surga yang khusus disediakan untuk orang-orang yang mengerjakan puasa dengan sebaik-baiknya. Pintu itu dinamakan dengan Ar-Royan. Sungguh beruntung orang-orang yang nanti melewati pintu itu, dan semoga kita termasuk di dalamnya, Amiin.

Kesempurnaan puasa tidak mungkin diperoleh oleh orang yang masih saling bermusuhan. Permusuhan biasanya timbul dari perkataan yang menyakitkan atau menyinggung perasaan. Sungguh luka karena tajamnya pisau itu mudah untuk disembuhkan, tetapi luka karena tajamnya lisan itu sangat sulit untuk disembuhkan. Oleh karena itu Rasulullah Saw. sangat menganjurkan umatnya untuk berhati-hati ketika berbicara. Jika ia tidak bisa berbicara yang baik, maka sebaiknya ia diam.

Termasuk hal yang membatalkan pahala puasa yang bersumber dari lisan adalah berkata-kata kotor, mengumpat, menghina, menggunjing, sumpah palsu, berdusta, menyebakan aib, marah-marah, menyindir dengan maksud menyakiti, memberikan kesaksian yang bohong, menyampaikan ajaran-ajaran yang menyesatkan, dst. Oleh karena itu, ketika sedang berpuasa hendaknya kita menjauhi itu semua jika kita benar-benar ingin mendapatkan keutamaan yang ada di dalam ibadah puasa. Namun jika kita tidak memperdulikannya dan masih tetap melakukan keharaman-keharaman itu maka kita diijinkan oleh Allah untuk masuk surga melewati pintu Ar-Royan.

Alih-alih mendapatkan pahala puasa, justru kita akan berhadapa dengan murka Allah Swt. Tidak ada yang lepas dari pengamatan Allah atas apa yang dikatakan oleh seseorang, dan Allah tidak akan lupa. Satu huruf yang diucapkan dengan niat yang tidak baik, maka Malaikat akan mencatatnya ke dalam amal perbuatan yang buruk. Dan setiap amal perbuatan akan dihadapkan pada pengadilan Allah Swt. Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan, ‘Seseorang dimasukkan ke dalam neraka karena kata-kata kotor (yang tidak disengaja), atau tidak diniatkan untuk menjelekkan orang lain’. Dari riwayat tersebut kita dapat mengatakan, jika tanpa niat saja bisa memasukkan seseorang ke dalam neraka, lalu bagaimana dengan kata-kata yang diniatkan untuk menghina orang lain?. Tentu akan lebih menarik seseorang ke dalam neraka, Na’udlubillahi min dzalik.

 

Agar lebih berhati-hati terhadap bahaya lisan, mari kita renungkan hikmah di bawah ini.

 

[Sebenarnya bukan masalah. Tapi karena suka mempermasalahkan, jadi ya banyak masalah]

 

Setiap manusia yang hidup di dunia pasti pernah mengalami masalah. Bahkan tidak hanya pernah, tetapi setiap hari ia memilki masalah yang harus diselesaikan. Masalah adalah bagian dari ujian yang diturunkan Allah kepada hamba-hamba-Nya, apakah dengan masalah itu ia akan menyadari kelemahanya lalu memohon pertolongan kepada Allah, ataukah ia malah semakin menjauh dari Allah dan mencari bantuan lain selain Allah Swt. Jika ia termasuk orang yang beriman, maka ia akan memohon kekuatan kepada Allah, sehingga Ia akan segera menyelesaikan masalahnya. Sesungguhnya Allahlah yang menurunkan masalah dan Allah juga yang akan mengangkatnya. Namun, jika ia termasuk orang yang tidak beriman, maka masalah itu akan menyebabkannya melakukan berbagai macam maksiat. Ia mengira bahwa dengan melakukan maksiat masalahnya akan hilang. Justru sebaliknya, ia malah akan memperbesar masalahnya dan akan menimbulkan masalah yang berkelanjutan yang tidak akan selesai.

Apabila dunia adalah tempat ujian, maka janganlah seseorang heran jika ia merasa memiliki banyak masalah. Sepertinya masalah itu terus datang bertubi-tubi dan silih berganti. Ketika ia telah menyelesaikan satu masalah lalu timbul masalah yang baru. Ketika badan dan pikiran telah mulai tenang karena telah mendapatkan solusinya, beberapa hari kemudian ia dibuat berfikir kembali karena muncul lagi masalah yang besar. Dan begitu seterusnya.

Oleh kareana itu, dibutuhkan kekuatan, ketenangan, dan ketajaman berfikir dalam memutuskan suatu hal. Dan sumber dari kekuatan itu adalah ketika seseorang dekat dengan Allah Swt. Bukankah seseorang akan menolong orang terdekatnya ketika ia mengalami kesusahan?. Begitu pun Allah Swt, akan menjadi yang pertama untuk menolong hamba-hamba-Nya yang mau mendekat kepada-Nya. Dan ketika pertolongan Allah telah datang maka ia akan merasa tenang ketika menghadapi masalah sebesar apapun, sebab ia mengetahui dan yakin bahwa Allah yang Maha Besar pasti akan menolongnya.

Kesabarannya dalam menghadapi masalah ia buktikan dengan tetap tidak berkeluh-kesah kepada orang lain. Ia tetap menjalankan ibadah sebagaimana biasanya. Ia tetap tegar dalam menjalani hidup. Ia meyakini bahwa masalah adalah hadiah bagi orang-orang yang dicintai-Nya. Bagaimana bukan hadiah?, Padahal Rasulullah Saw. telah bersabda di dalam haditsnya, bahwa ketika Allah mencintai seseorang maka Ia akan mengujinya. Apabila ia bersabar maka Allah akan memilihnya, dan jika ia ridha maka Allah akan mengistimewakannya. Jadi, dari hadits tersebut kita dapat menyimpulkan, bahwa orang yang memiliki banyak masalah itu sesungguhnya bukanlah orang yang dibenci Allah. Tetapi sebaliknya, orang yang banyak masalahnya adalah orang yang paling dicintai oleh Allah Swt.

Semua telah tertulis di Lauhul mahfduz, dan masalah yang tertulis pasti akan mendatangi kita pada saatnya. Dan tiada kata lain kecuali menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Terhadap orang-orang yang ridha atas ketetapan-ketapan Allah, maka Allah telah menyiapkan ganjaran yang terbesar, sebab Allah telah meridhainya. Mereka telah meridhai Allah sebagai Tuhan, dan Allah telah meridhai mereka sebagai hamba-hamba-Nya.

 

Allah berfirman,

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah [9]: 100)

 

Allah berfirman,

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah [2]: 156-157)

 

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply