Jadilah Orang Yang Pandai Dengan Menjalankan Ketaatan, Dan Jangan Jadi Orang Yang Bodoh Dengan Menjalankan Kemaksiatan

0

Jadilah Orang Yang Pandai Dengan Menjalankan Ketaatan, Dan Jangan Jadi Orang Yang Bodoh Dengan Menjalankan Kemaksiatan. Sebuah kalam apabila muncul dari hati maka ia juga akan masuk ke dalam hati, sehingga kesan dari kalam itu akan terus dapat diingat oleh para pendengarnya. Itulah kalam-kalam yang keluar dari lidah dan mulut para wali Allah. Meskipun tampaknya sederhana, tetapi kalam ulama dapat menyadarkan hati-hati yang keras, akal-akal yang bodoh, dan jiwa-jiwa yang gelap. Berikut ini adalah sedikit kalam dari sulthonul Auliya, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, semoga mampu menyadarkan kita semua, amiin.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Tak ada satu cicitan pun yang bisa didengar darimu selama engkau masih merupakan anak ayam yang masih berada di dalam telur. Engkau tidak memiliki kemampuan berbicara sampai susunan tubuh alamiahmu terbentuk sepenuhnya, telurmu telah terbuka untuk membebaskanmu, dan engkau telah menjadi seekor anak ayam di bawah sayap indukmu, di bawah sayap hukum suci (syarîʽah) Nabimu Saw., sehingga engkau bisa diberi makanan dan sehingga imanmu bisa tumbuh ke kesempurnaan.

Begitu engkau telah menerima pelatihan yang selayaknya, maka engkau akan mengumpulkan rezeki dari anugerah Tuhanmu. Setelah mencapai tahap ini, engkau akan menjadi seekor ayam jantan bagi ayam-ayam betina. Engkau akan menghibur mereka dan memperlakukan mereka dengan penuh cinta. Engkau akan menjadi penjaga yang akan menjaga mereka. Engkau akan berusaha membentengi mereka dari malapetaka, siap mengorbankan dirimu untuk membela mereka. Manakala pelayan Allah benar-benar berharga, maka dia akan menanggung beban sesama makhluk dan memegang peran sebagai poros demi kepentingan mereka (sâra quthban lahum).

Nabi Saw. diriwayatkan telah mengatakan: “Jika seseorang belajar, mengamalkan dan mengajar, maka dia akan dipandang besar di kerajaan langit (malakût).” Aku akan menggemakan kata-kata Amîrul mu’minîn ‘Alî bin Abi Thâlib (semoga Allah meridhainya dan memuliakan wajahnya), ketika aku mengatakan bahwa aku memiliki di dalam diriku simpanan ilmu, yang—jika saja aku bisa menemukan orang-orang yang layak untuk membawanya—niscaya aku dengan gembira akan menyebarkannya. Jika saja aku bisa menemukan kualifikasi yang benar pada diri kalian, niscaya aku tidak akan membiarkan pintu rahasia-rahasia tetap tertutup. Aku akan membuka pintu-pintunya dan melemparkan kunci-kuncinya jauh-jauh. Tetapi aku harus menasihati kalian untuk mengamankan apa yang ada dalam penjagaan kalian.

Kemudian, jika seseorang memintanya dari kalian, kalian boleh mengungkapkannya sebanyak mungkin. Kalian tidak boleh mengungkapkan segala sesuatu yang ada dalam penjagaan kalian, sebab ada satu bagian dari keadaan spiritual (h̲âl) seseorang yang harus tetap menjadi rahasia. Putra Syam’ûn pernah mengatakan: “Iman adalah satu propinsi dari kerajaan (al-îmân wilayâh), dan siapa pun yang menginjakkan kaki di dalamnya, ia berada di situ dengan visa seorang pengunjung.”

Kata-kata seperi ini diucapkan, dipercayai, dan dipraktikkan hanya oleh seseorang yang mengabdi kepada hukum, berbuat sesuai dengannya, dan menaatinya dengan tulus. Ini adalah kitab dan sunnah. Demi Allah, sungguh telah berhasil orang yang menerima pendidikannya dari keduanya, tumbuh menjadi matang di dalamnya, dan tidak pernah melangkah keluar dari batas-batasnya. Sungguh telah berjaya dia!

Islam dan iman kalian tidak boleh hanya berupa tiruan-tiruan yang dipinjam saja. Untuk memastikan hal ini, kalian perlu terus-menerus berada dalam ketakutan (kalau-kalau kalian membuat Tuhan kalian tidak merasa senang), terus-menerus berpuasa, shalat dan bangun malam. Inilah sebabnya manusia-manusia (pilihan Tuhan) terkadang berkelana di padang belantara, bergabung dengan binatang-binatang buas dan bersaing dengan mereka untuk mendapatkan rumput-rumput bumi dan air di anak-anak sungai, sementara matahari menjadi kerai mereka dan lampu mereka adalah bulan dan planet-planet.

Kalian harus melakukan upaya yang benar-benar serius untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban ketaatan dan amalan-amalan kesalahan (qurubât) sebelum kalian sampai di hadirat-Nya. Janganlah menzalimi diri kalian sendiri dengan ketidakpatuhan dan sikap kurang ajar terhadap-Nya.

Ya Allah bantulah kami untuk menaati-Mu, jagalah kami dari membangkang terhadap-Mu, dan: Berilah kami kebaikan di dunia ini, dan kebaikan pula di akhirat nanti, dan jagalah kami dari siksa neraka! (QS Al-Baqarah (2) : 201).”

*kitab Jala Al-Khathir

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply