Islam Nusantara VS Islam Arab

0

Nabi adalah makhluk yang paling sempurna dalam segala hal, oleh karena itu dalam urusan kebangsaan beliau adalah orang yang paling cinta terhadap tanah airnya. Karena beliau dilahirkan di Arab, maka beliau cinta kepada negara Arab.

Oleh karena itu para pewaris para nabi juga mewarisi sifat-sifat kemuliaan nabi Muhammad SAW, sehingga mereka akan memiliki rasa nasionalisme yang tinggi kepada bangsa dan negaranya masing-masing.

Sesungguhnya Nabi Saw. tidak menyabdakan: “Aku cinta ‘Islam Arab’ karena saya lahir di Arab”, melainkan “Saya cinta ‘Arab’ karena saya dilaharikan di tanah Arab”. Dalil ini tidak pas jika ditujukan untuk membantah Islam Nusantara. Melainkan, di atas adalah dalil betapa rasa ‘Nasionalisme’ seorang nabi dan rasul terhadap tanah kelahiran dan bangsanya.

Bukti lainnya adalah ketika Nabi Saw. hijrah dari Makkah ke Madinah. Yang mana sebelumnya berulangkali Nabi Saw. menyinggung bahwa Makkah (domisili dan tanah kelahiran beliau) adalah tanah yang paling terberkahi. Setelah hijrah ke Madinah, beliau lantas berdoa keberkahan untuk Madinah sebagaimana yang dipunyai tanah al-Haram (Makkah). Beliau Saw. pun sampai mengungkapkan: “Aku mencintai Madinah sebagaimana aku mencintai Makkah.”

Dan masih banyak dalil lainnya. Dan dalam aplikasinya, para kyai pendiri pesantren di Nusantara ini ketika membuat pesantren dengan nama-namanya masing-masing, malah yang lebih dikenal adalah nama daerahnya. Contoh Pesantren Lirboyo, Langitan, Sarang, Suci, Ploso, Mranggen, Kaliwungu, Buntet, Kempek, Giren, Benda, dst. Kenapa? “Biarlah nama pesantrenku tidak dikenal, asal nama daerahku ini yang terkenal”, jawab kyai sederhana. Dengan sendirinya perekonomian di daerah sekitar pesantren akan tumbuh. Memakmurkan rakyat dimulai dari akar rumput. Inilah Nasionalisme.

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply