Iri Hati Merusak Pahala Ramadhan

0

Iri Hati Merusak Pahala Ramadhan. Iri hati adalah arti kata Hasad dalam bahasa Arab. Rasulllah Saw. pernah bersabda, ‘Hasad itu bisa memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar’. Jika benar seperti itu, maka pahala ibadah akan benar-benar habis jika kita menumbuhkan sifat iri dalam hati kita. Iri adalah merasa sakit hati atas kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain. Ia berharap bahwa kenikmatan itu tidak diterima oleh orang lain, tetapi dirinyalah yang berhak atas nikmat itu.

Ketahuilah, sifat iri tidak hanya menyengsarakan pelakunya di akherat. Namun, semenjak di dunia ia telah mengalami kehidupan yang sempit. Mengapa? Sebab ia selalu merasa iri kepada nikmat orang lain, padahal nikmat-nimat itu tidak akan pernah berhenti. Nikmat-nikmat dari Allah akan terus drasakan oleh manusia selama ia masih hidup. Rezeki-rezeki akan datang silih-berganti sebagaimana yang tertulis di Lauhul Mahfudz. Tidak ada seorang pun yang bisa mencegah datangnya rezeki kepada seseorang, jika itu memng bagiannya. Dan sebaliknya, tidak ada yang bisa mendatangkan rezeki kepada seseorang jika itu bukan bagiannya.

Oleh karena itu seiring dengan terus datangnya nikmat pada seseorang, maka orang yang iri juga aka terus iri. Bukankah sifat iri itu menyesakkan hati? Maka, sebaiknya kita ikut mensyukuri nikmat yang datang kepada orang lain. Jika kita ikut bergembira atas kegembiraan orang lain, maka Allah akan meletakkan kelapangan di dalam hati kita. Dan pada akhirnya nanti Allah akan juga memberikan nikmat-Nya kepada kita dengan nikmat-nikmat yang begitu banyak.

Allah Maha Adil. Tiada seorang pun yang dirugikan. Ketika Allah memberikan kekurangan kepada seseorang maka Ia juga memberikan kelebihan pada sisi yang lain. Oleh karena itu kita tidak perlu merasa iri kepada orang lain. Mungkin orang lain bisa melakukan sesuatu yang luar biasa, tetapi kita juga bisa melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain. Oleh karena itu yang kita lakukan hanyalah menerima ketetapan Allah dengan penuh kesyukuran. Jika kita bersyukur atas segala apa yang diberikan Allah, maka Allah akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan yang kekal abadi.

Sesungguhnya ada hikmah di balik setiap kejadian. Kemampuan orang yang berbeda-beda akan memberikan keahlian yang berbeda-beda. Sehingga masing-masing akan bisa bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Seseorang memerlukan tukang untuk membangun rumah. Tukang juga memerlukan beras dari petani. Petani juga memerlukan alat-alat pertanian dari para pengrajin. Para pengrajin juga memerlukan bahan-bahannya dari para pedagang. Pedagang juga memerlukan barang-barang dari para penambang, dan begitu seterusnya. Masing-masing tidak boleh marasa iri dengan apa-apa yang ada pada orang lain.

Mari kita membaca hikmah berikut ini,

 

[Jangan iri dengan orang yang sedang nyruput kopi dengan rokok yang begitu nikmatnya. Kopi tetap nikmat dengan kacang godog]

 

Kenikmatatan adalah kepuasan hati. Kepuasan hati adalah keikhlasan menerima pemberian Allah Swt, dengan tidak mengharap pada sesuatu yang lain. Keikhlasan menerima pemberian Allah adalah kesyukuran yang tertinggi. Dan jika ia telah menjadi hamba yang benar-bener bersyukur, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang sebenarnya. Wajahnya akan terlihat ceria dan mulutnya akan tersenyum.

Satu gelas kopi manis bagi seseorang adalah sebuah karunia yang besar. Dengan segelas kopi dan rokok, seolah-olah orang itu telah memiliki dunia semuanya. Ia benar-benar menikmatinya dan merasa bahagia. Dan karena orang itu bahagia dengan pemberian Allah itu, maka Allah pun akan bahagia dan simpatik pada orang itu. Jika orang itu tetap menjaga rasa bahagaianya atas apapun yang diberikan Allah setiap harinya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam golongan orang yang bersyukur. Dan siapa yang digolongan ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur, berarti ia telah mendapatkan taufik dari Allah Swt.

Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mau mensyukuri apa yang diberikan Allah Swt. Bukan segelas kopi, tetapi uang segepok telah berada di tangannya. Namun, karena rasa iri kepada orang yang lebih kaya, uang segepok itu menghalanginya untuk mengucapkan Alhamdulillah. Ia selalu tidak pernah merasa puas dengan rezeki banyak yang telah diberikan Allah Swt.

Jika yang besar dan yang banyak saja, ia tidak bisa mensyukurinya, lalu bagaimana mungin ia akan mensyukuri segelas kopi?. Dan ia akan melewatkan banyak nikmat-nikmat kecil yang seharusnya ia syukuri. Jika ibadah shalat bisa di-Qadha’ di waktu yang lain jika tertinggal, namun ibadah syukur tidak bisa diganti jika tertinggal.

Waktu, yang seharusnya seseorang bersyukur di dalamnya, tidak bisa diganti dengan syukur di waktu yang lain. Dan jika seseorang terbiasa untuk melewatkan nikmat yang kecil dengan tanpa syukur, maka ia akan terbiasa untuk tidak menyukuri nikmat-nikmat yang besar, sehingga hidupnya akan kosong tanpa syukur. Dan jika hidupnya kosong tanpa syukur, maka Allak akan memasukkannnya ke dalam golongan orang yang kufur nikmat. Dan barangsiapa yang dimasukkan dalam golongan orang-orang yang kufur nikmat, maka Allah akan menyiksanya dengan siksaan yang pedih. Na’udlubillahi min zalik.

Oleh karena itu, mari kita tinggalkan sifat iri yang akan menghancurkan dri sendiri. Tidak hanya di akherat, tetap juga di dunia. Bukankah orang yang iri itu hatinya selalu susah, karena melihat yang dimilikinya tidak sebagus apa yang dimiliki oleh orang lain?. Bukankah orang iri itu akan membuat hidup menderita, karena merasa yang dimilikinya tidak sebanyak yang dimiliki oleh orang lain?. Bukankah orang iri itu selalu ingin marah-marah, yang akan menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit, karena merasa pengaruhnya tidak sebesar yang dimiliki oleh orang lain?. Dan yang lebih berbahaya, bukankah sifat iri akan menghapus segala amal ibadah dan kebaikan yang telah kita lakukan?. Dan jika amal kita semua hilang, lalu apa yang akan kita andalkan ketika berhadapan dengan Allah Swt?. Tentu kita akan dilemparkan ke dalam api neraka dengan tanpa ampun, Na’uzubillahi min zalik.

Allah berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim [14]: 7)

 

Allah berfirman,

 

وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah. (QS. An-Nahl [16]: 114)

 

Allah berfirman,

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya?. (QS. An-Nisaa’: [4]: 54)

 

Allah berfirman,

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki. (QS. Al-Falaq [113]: 5)

Nabi bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ، أَوْ قَالَ: الْعُشْبَ

Hati-hatilah kalian dari hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar atau semak belukar (rumput kering). (HR Abu Dawud, Baihaqi)

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply