Ilmu Tidak Boleh Membuat Seseorang Menjadi Sombong

0

Suatu ketika nabi Muhammad SAW melihat seseorang yang ditonton dan dikerumuni banyak orang. Nabi berkata, “ada apa ini?”, mereka menjawab, “itu adalah seorang ‘alamah”, nabi bertanya lagi, “apa yang kalian maksud dengan ‘allamah?”, “‘allamah adalah orang yang mengetahui nasab (silsilah dan garis keturunan) bangsa Arab, hari-hari bersejarahnya, peperangannya, bahasa-bahasa, dan syair-sayirnya”.

Kemudian nabi SAW bersabda, “ilmu itu hanya ada 3 yaitu al-Qur’an, ilmu mawarits, dan Hadits nabi”.[1] Inilah sebenar-benarnya ilmu yang mengantarkan seseorang kepada Allah SWT. Ilmu bukanlah yang menjadikan seseorang menjadi sombong, takabur, dan merasa tinggi. Ilmu adalah segala hal yang membuat seseorang merasakan adanya Allah yang maha ada.

Ketika manusia berfikir mengenai dirinya, ia akan menyadari bahwa dirinya memiliki permulaan. Manusia tidak mungkin bisa mengingat permulaan dirinya. Ia tidak tahu kapan ia dilahirkan. Ketika keluar dari perut ibunya, ia dalam kondisi lemah. Ia tidak mungkin memenuhi kebutuhannya sendiri, ia membutuhkan orang lain.

Kemudian Allah SWT meletakkan rasa kasih sayang di dalam hati para ibu. Rasa kasih sayang ini akan mendorong sang ibu untuk melayani kebutuhan si bayi yang baru lahir. Ini adalah satu bukti bahwa ketika manusia membutuhkan Tuhannya, Tuhan akan menjawab kebutuhan kita.

Dialah yang maha pengasih dan penyayang. Ketika kita berfikir dan merenungi betapa besar kasih sayang induk kepada anaknya, kita akan merasakan begitu agungnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Dan pada akhirnya kita akan menyadari dengan sepenuh hati bahwa pegangan dan sandaran kita satu-satunya hanyalah Allah yang maha mulia.

Manusia harus sadar bahwa ia tidak mampu berdiri sendiri tanpa sesuatu selain dirinya. Oleh karena itu, manusia tidak mungkin menolak dari makan, minum, tidur, buang air, manusia, dan lain-lain.

Manusia tidak dapat menghindar dari banyak hal. Manusia selalu berada dalam kondisi lemah yang terus-menerus. Tetapi Allah SWT memiliki sifat yang berkebalikan dengan manusia. Allah dapat berdiri sendiri, tidak berawal, dan tidak berakhir. Manusia akan mati dan dibatasi oleh waktu dan tempat.

Dialah Allah yang berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya. Allah tidak bersandar dan bergantung kepada sesuatu. Jika Allah menghendaki sesuatu, Ia hanya cukup mengatakan ‘jadilah’, maka terjadi. Allah sama sekali tidak merasakan lelah dan letih.

Ketika manusia berfikir dan menyadari bahwa dirinya memiliki sifat yang berbalik dengan Tuhan, akan timbul suatu keyakinan dan keimanan yang kuat dan mendalam. Hatinya tidak merasakan keraguan sedikitpun mengenai agama Islam dan ia akan merasakan ketenangan ketika sedang berdzikir mengingat Allah.

Syekh Ali Jum’ah, At-Tariq ila Allah

[1] Hadits riwayat Hakim, Abu Dawud, Ibnu Majah

Share.

Leave A Reply