Hukum Tadarus Al-Qur’an Di Bulan Ramadhan

0

Hukum Tadarus Al-Qur’an Di Bulan Ramadhan. Berbagai amalan ibadah dilakukan untuk mengisi bulan Ramadhan ini.Dari amal yang sunnah sampai yang wajib.Diantara amalan yang sering dilakukan adalah tadarus al-Quran. Pada malam hari bulan Ramadhan, masjid-masjid di seluruh Indonesia marak dengan bacaan-bacaan ayat-ayat suci al-Quran.

Secara silih berganti mereka melafalkan kalam Illahi. Tidak jarang bacaan tersebut disambungkan pada pengeras suara. Semua itu dialkukan dengan satu harapan:berkah Ramadhan yang telah dijanjikan Alloh swt akan mereka raih.

Bagaimanakah hukum melakukan tadarus tersebut?

Pada bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan dilipatgandakan oleh Alloh swt.

Karena itu Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak melaksanakan ibadah kepada Alloh swt pada malam hari bulan Ramadhan.

Dalam sebuah Hadits,Nabi SAW bersabda:,”Barang siapa yang memeriahkan bulan Ramadhan dengan ibadah,(dan dilakukan) dengan penuh keimanan dan keihklasan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu.(Shahih al-Bukhari{1879})

Tentang apa yang dimaksud dengan memeriahkan malam bulan Ramadhan yang ada dalam Hadits ini,al-Shan’ani dalam kitabnya Subul al-Salam,menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan qiyam Ramadhan (dalam Hadits itu adalah) mengisi dan memeriahkan malan bulan Ramadhan dengan melakukan shalat atau membaca al-Quran.”(Subul al Salam,juz II,hal 173)

Maka sudah jelas, bahwa membaca al-Quran pada malam bulan puasa itu sangat dianjurkan oleh agama.

Kemudian bagaimana jika hal itu dilakukan secara bersama-sama. Yang satu membaca al-Quran, sedang yang lain mendengarkan serta memperhatikan bacaan tersebut?

Menjawab pertanyaan ini Syaikh Nawawi al-Bantani mengatakan:”Termasuk membaca al-Quran (pada bulan Ramadhan) adalah mudarasah, yang sering disebut pula dengan ‘adarah’.

Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya. (Yang seperti ini tetap sunnah) sekalipun apa yang dibaca (orang tersebut) tidak seperti yang dibaca orang pertama. (Nihayah al-Zain,194-195)

Dan ternyata hal ini pernah dilaksakan Rosulluloh SAW bersama Malaikat Jibril.

Dalam sebuah Hadits disebutkan:”Dari Ibn’Abbas RA bahwa Rosulluloh SAW adalah orang yang paling pemurah.Sedangkan saat yang paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadhan adalah pada saat malaikat Jibril mengunjungi Nabi setiap malam bulan Ramadhan, lalu melakukan ‘mudarasah’ al-Quran dengan Nabi.

Rosul SAW ketika dikunjungi malaikat Jibril, lebih dermawan dari angin yang berhembus.”(Musnad Ahmad 3358)
Syaikhul Islam dalam Fatawa Al-Kubro, 2/297, berkata,

Perintah dan anjuran membaca Al-Quran, lebih besar penekanannya kepada orang yang shalat dibanding orang di luar shalat. Karena membaca Al-Quran dalam shalat, lebih utama daripada membacanya di luar shalat. Riwayat yang ada tentang keutamaan membaca Al-Quran, lebih besar bagi orang yang shalat daripada selainnya.”

Penjelasan :

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, karena di dalamnya terkandung beribu kebaikan. Tidak heran pada bulan ini semua umat Islam berlomba-lomba mencari kebaikan, termasuk tadarus (membaca) Alquran. Pada malam hari Ramadlan, masjid-masjid marak dengan bacaan Al-Qur’an secara silih berganti. Tidak jarang, bacaan tersebut disambungkan pada pengeras suara. Semua itu dilakukan dengan satu harapan: berkah Ramadlan yang telah dijanjikan Allah SWT.

Bagaimana  hukum melakukan tadarus tersebut ?

Pada bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Abu Hurairah RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memeriahkan bulan Ramadlan dengan ibadah/qiyamu ramadhan; (dan dilakukan) dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu”. (Shahih Bukhari, h.1870)

Al-Shan’ani dalam kitabnya Subulus Salam menjelaskan, qiyam ramadhan (dalam hadist  diatas) adalah mengisi dan memeriahkan malam Ramadlan dengan melakukan shalat dan membaca Al-Qur’an. (Subulus Salam Juz II, h. 173)

Membaca Al-Quran pada malam hari di bulan Ramadhan sangat dianjurkan oleh agama. Kemudian bagaimana jika membaca Al-Quran secara bersama-sama, yang satu membaca dan yang lain menyimak?

Syaikh Nawawi Al-Bantani menjawab, termasuk membaca Al-Quran adalah mudarasah, yang sering disebut dengan idarah. Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya. Yang seperti itu tetap sunah.” (Nihayah al-Zain, 194-195)

Dapat disimpulkan bahwa tadarus Al-Quran yang dilakukan di masjid-masjid pada bulan Ramadhan tidak bertentangan dengan agama dan merupakan perbuatan yang sangat baik, karena sesuai dengan tuntunan Rasul. Jika dirasa perlu menggunakan pengeras suara  agar menambah syiar Islam, maka hendaklah diupayakan sesuai dengan keperluan dan jangan sampai menganggu pada lingkungannya.

Dalil

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu, dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Bacalah Al-Quran di hadapanku,” Maka aku berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah aku membaca Al-Quran di hadapanmu, padahal dia diturunkan kepadamu?” Beliau berkata, “Aku senang mendengarnya dari orang lain.” Lalu aku membaca surat An-Nisa di hadapannya, hingga ketika sampai pada ayat,

“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhamad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An-Nisa: 41) Belaiu berkata, “Cukup sampai di sini.” Lalu aku menoleh kepadanya, aku dapati kedua matanya bercucuran air mata.” (HR. Bukhari, no. 4763, Muslim, no. 800)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Disyariatkan bagi seorang muslim dalam bulan ini untuk mempelajari Al-Quran di malam atau siang hari untuk meneladani Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Karena beliau mengulang Al-Quran bersama Jibril setiap tahun di bulan Ramadan. Bahkan di tahun terakhir (menjelang kematiannya) hal itu dilakukan dua kali. Tujuannya untuk ibadah dan tadabbur terhadap Al-Quran dan mengambil manfaat darinya serta untuk mengamalkannya. Ini termasuk perbuatan salafushaleh. Maka hendaknya bagi setiap mukmin, baik laki-laki maupun wanita, menyibukkan dirinya dengan Al-Quranul Karim, baik dengan membacanya, merenunginya atau mengkajinya, atau dengan menyimak kembali kitab-kitab tafsir untuk mengambil manfaat dari ilmunya.” (Majmu Fatawa Syaikh Ibn Baz, 11/319, 320)

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply