Hukum Pernikahan Dengan Niat Thalak

0

Hukum Pernikahan Dengan Niat Thalak

Pernikahan dengan niat thalaq (cerai) bukanlah nikah mut’ah dan bukan nikah kontrak, tetapi ini adalah pernikahan yang memenuhi syarat dan rukun nikah secara dzohir. Para ulama berbeda pendapat mengenai kebolehannya.

Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali berpendapat bahwa jika ada seorang laki-laki menikah dengan seorang perempuan dengan niat menceraikannya setelah satu bulan atau lebih atau kurang misalnya, maka nikahnya diangap sah -baik si wanita atau walinya mengetahui niat si laki-laki atau tidak-. Pernikahan ini sah karena tidak mengandung syarat yang merusak akad nikah, dan akad nikah tidak batal dengan adanya niat itu.

Para ulama madzhab Hambali menyatakan sahnya pernikahan ini, namun al-Auza’i rohimahullah mengatakan batal, karena ini termasuk jenis nikah mut’ah, dan ini juga pendapat Bahrom -ulama madzhab Maliki-. (al-mausu’ah al-fiqhiyyah al-kuwaitiyah).

Ibnu Kholaf al-Baji mengatakan, “barangsiapa yang menikahi perempuan dengan niat melakukan hubungan badan dengannya, dan setelah itu dicerai, Muhammad bin Malik mengatakan bahwa itu boleh namun bukan termasuk akhlak yang bagus”. (al-muntaqo, syarkhulmuwattho’).

Syekh Zakaria al-Anshori mengatakan, “jika seseorang menikah dengan tanpa syarat, tetapi dalam hatinya ia berkata jika telah digauli ia akan menceraikannya, maka ini hukumnya makruh tetapi akadnya sah dan wanita itu halal baginya”. (minhajut thullab).

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa nikah mut’ah hukumnya haram. Pernikahan dengan syarat tempo yang mungkin dicapai oleh umur manusia juga haram. Adapun pernikahan dengan syarat jangka waktu yang melebihi umur manusia, para ulama berbeda pendapat. Dan hukumnya sah, akad nikah yang memenuhi syarat dan rukun nikah meskipun dengan niat akan menceraikan istrinya. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

Share.

Leave A Reply