Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW Menurut Para Ulama Salafus Shalih

0

Kelahiran nabi Muhammad SAW adalah anugerah yang sangat agung dan rahmat Allah bagi seluruh umat manusia. al-Qur’an telah mengatakan bahwa nabi Muhammad adalah rahmat bagi seluruh alam yang sifatnya tidak terbatas. Rahmat ini mencakup pendidikan manusia, penyucian jiwa, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.

Rahmat juga tidak hanya terbatas bagi orang-orang yang hidup semasa dengan nabi. Akan tetapi Muhammad adalah rahmat sepanjang masa.

Allah berfirman,

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ

Dan juga kepada yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. (QS. Al-Jumu’ah: 3).

Merayakan maulid nabi Muhammad SAW termasuk bagian dari amal yang mulia yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah SWT. Perayaan maulid nabi adalah ungkapan kegembiraan dan rasa cinta akan lahirnya nabi Muhammad SAW.

Mencintai nabi Muhammad SAW adalah dasar dan prinsip iman kepada Allah SWT. Nabi bersabda, walladzi nafsii biyadihi, laa yukminu akhadukum hatta akuuna ahabba ilaihi min waalidihi wawaladihi (demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya!, sungguh tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya dari pada orang tuanya dan anaknya) (HR. Bukhari, Muslim)

.Nabi juga bersabda, la yu’minu ahadukum hatta akuuna ahabba ilaihi min waladihi wawalidihi wannasi ajma’iin (tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintainya dari pada anaknya, orang tuanya, dan semua manusia) (HR. Bukhari).

Ibnu Rojab berkata, “cinta kepada nabi Muhammad adalah dasar keimanan, karena cinta kepada nabi adalah pasangan cinta kepada Allah SWT”. Allah mengancam orang yang mendahulukan cintanya pada sesuatu melebihi cintanya kepada Allah dan Rasulullah.

Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah tinggal yang kamu sukai itu lebih engkau cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24).

Ketika Umar berkata kepada nabi, “engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku”, nabipun berkata, “tidak wahai Umar! sampai aku lebih engkau cintai dari pada dirimu”. Lalu Umar berkata, “demi Allah! engkau sekarang lebih aku cintai dari pada diriku”, nabi berkata, “sekarang wahai Umar!”.

Merayakan maulid nabi Muhammad SAW adalah perbuatan yang dibolehkan oleh agama, bahkan dianjurkan. Allah SWT telah memberitahukan kepada kita bagaimana kedudukan dan derajat nabi Muhammad SAW. Semua makhluk yang ada di alam ini mengenal nama Muhammad, diutusnya Muhammad, kedudukan dan derajatnya. Alam raya senantiasa selalu dalam keadaan gembira karena adanya cahaya dan rahmat Allah, Muhammad SAW.

Sesungguhnya peringatan maulid nabi Muhammad SAW telah dipraktekkan oleh kaum muslimin sejak berabad-abad yang lalu. Peingatan ini biasanya diisi dengan berbagai amalan yang bertujuan mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT, diantaranya dengan bersedekah membagikan makanan, membaca al-Qur’an, berdzikir, dan membaca syair-syair pujian untuk nabi Muhammad SAW.

Praktek perayaan maulid nabi ini telah diceritakan oleh para ahli sejarah diantaranya Ibnu al-Jauzi, Ibnu Katsir, al-Khafidz Ibnu Dahiyyah al-Andalusi, al-Hafidz Ibnu hajar, dan Imam Jalaludin as- Suyuti.

Para ulama banyak mengarang kitab yang menunjukkan kesunahan merayakan maulid nabi Muhammad SAW. Di dalam kitab-kitabnya, mereka menjelaskan banyak dalil yang shohih dengan sangat jelas, sehingga orang yang memiliki akal yang sehat dan hati yang bersih tidak mungkin menolak apa yang telah dipraktekkan oleh para ulama salafus sholih.

Didalam kitab al-madkhol Ibnu al-Hajj menjelaskan dengan panjang lebar mengenai keutamaan-keutamaan yang berhubungan dengan perayaan ini. Di dalam kitab ini kita akan mendapatkan tulisan-tulisan yang akan membuka pemahaman dan memperluas cakrawala berfikir kita.

Ketika muncul banyak pertanyaan seputar hukum merayakan maulid nabi Muhammad SAW, Imam Jalaludin as-Suyuti kemudian mengarang sebuah kitab yang dinamakan khusnul maqshod fii ‘amalil maulid. Di sini beliau mengatakan, “menurutku dasar dari perayaan maulid nabi Muhammad SAW adalah berkumpulnya manusia untuk membaca beberapa ayat al-Qur’an dan hadits nabi, dan menceritakan sejarah nabi Muhammad SAW.

Setelah seluruh rangkaian acara selesai, ada sebagian orang yang membagikan makanan dengan tidak berlebih-lebihan. Dan ini semua adalah bid’ah khasanah (bagus) yang para pelakunya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Karena di dalam perayaan ini, semua orang mengagungkan dan meninggikan kedudukan nabi Muhammad SAW. Semua manusia mengekspresikan kegembiraan atas lahirnya kekasih Allah, Muhammad SAW”.

Imam as-Suyuti menjelaskan mengenai orang yang mengatakan ‘aku tidak menemukan adanya dalil dari al-Qur’an dan al-Hadits yang menunjukkan kebolehannya’. Imam Suyuti mengatakan, “ketidaktahuan tidak menunjukkan ketiadaan”. Beliau mengatakan bahwa Imam al-Hafidz Abal Fadzl Ibnu Hajar rohimahulloh ta’ala telah menceritakan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa bid’ah madzmumah (sesat) adalah sesuatu yang tidak masuk kedalam cakupan dalil syar’i. Namun apabila ia masuk kedalam cakupan dalil syar’i, maka hukumnya tidak tercela.

Diriwayatkan dari al-Baihaqi, dari as-Syafi’i, beliau berkata, “perkara yang baru terbagi menjadi dua jenis yaitu:

  1. Perkara yang baru yang menyalahi dan bertentangan dengan al-Qur’an, al-Hadits, dan ijma’. Dan Ini disebut bid’ah yang sesat.
  1. Perkara baru yang sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits. Dan ini hukumnya tidak tercela.

Ketika Umar mengumpulkan orang-orang yang shalat sendirian agar mengerjakan shalat tarawih dengan berjama’ah di masjid, beliau mengatakan, ni’matulbid’ati hadzihi (inilah bid’ah yang paling nikmat). (diambil dari kitab al-madkhol ila sunanil kubro).

Imam as-Suyuti berkata, “sesungguhnya perayaan maulid nabi Muhammad SAW sama sekali tidak bertentangan dengan al-kitab dan as-sunnah, perkataan para sahabat, dan ijma’ ulama. Perayaan maulid sama sekali tidak tercela, sebagaimana dikatakan oleh imam as-Syafi’i. Ini adalah praktek kebaikan yang belum dilaksanakan pada masa-masa awal.

Sesungguhnya memberikan makanan adalah bentuk kebaikan. Dan ini termasuk bagian dari prilaku bid’ah mandubah (sunnah), sebagaimana yang diungkapkan oleh sulthoonul ulama al-‘Iz bin ‘Abdis Salam”.

Hukum dasar dari berkumpulnya manusia untuk menampakkan syiar maulid adalah sunah dan merupakan bentuk ibadah. Karena lahirnya nabi Muhammad merupakan nikmat yang paling besar bagi alam. Sedangkan syareat Islam memerintahkan kepada kita agar menampakkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu al-Hajj di dalam kitab al-madkhol.

Beliau berkata, “pada bulan rabi’ul awwal, Allah memberikan anugerah paling besar kepada kita, yaitu anugerah lahirnya nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu pada hari ini sebaiknya kita memperbanyak melakukan amal ibadah dan menampakkan rasa syukur atas nikmat agung yang telah diberikan Allah kepada kita”.

Dalil dan sandaran yang dipakai oleh Imam Ibnu Hajar mengenai kebolehan merayakan mulid nabi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim. Di dalam kitabnya beliau mengatakan bahwa ketika nabi Muhammad SAW datang ke Madinah beliau mendapati bahwa orang-orang yahudi melaksanakan puasa di hari Asyuro. Lalu nabi bertanya, “kenapa kalian melakukan puasa?”, mereka menjawab, “karena hari ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dan Musa dari kejaran raja Fir’aun. Dan kita berpuasa untuk mengungkapan rasa syukur kepada Allah SWT”.

Mengenai hadits ini Ibnu Hajar berkata, “bersyukur kepada Allah dilakukan karena sebab turunnya nikmat dan karena diangkatnya musibah. Bersyukur dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya dengan melakukan berbagai macam ibadah seperti bersujud, berpuasa, sodaqoh, dan membaca al-Qur’an. Dan apakah ada nikmat yang lebih besar dari pada nikmat lahirnya nabi Muhammad SAW?!”.

Imam as-Suyuti menukil dari Imam al-Qurro’ al-Hafidz Syamsuddin Ibnul Jauzi, ia mengatakan, “benar riwayat yang mengatakan bahwa Abu lahab diringankan siksanya setiap malam senin lantaran memerdekakan Tsuwaibah ketika ia merasa senang dengan lahirnya nabi Muhamad SAW.

Maka apabila seorang Abu Lahab yang kafir -yang dipastikan adzabnya di dalam a-Qur’an- bisa diringankan siksanya sebab bergembira dengan lahirnya Muhammad, lalu bagimana dengan orang Islam, umat Muhammad yang mengesakan Allah, yang merasa gembira dengan lahirnya nabi Muhammad SAW?!”.

Kita merayakan mauled, karena kita mencintai nabi Muhammad SAW. Bagaimana kita tidak mencintainya, sementara semua yang ada di langit dan di bumi mencintainya. Pohon kurma saja cinta dan amat merindukan nabi Muhammad. Diriwayatkan bahwa ada pohon kurma yang menangis tersedu-sedu karena rindu kepada nabi Muhammad SAW. Riwayat ini telah diceritakan oleh banyak perowi dan sudah terkenal akan kesohihannya.

Pada masa-masa awal, nabi Muhammad SAW berkhothbah dengan bersandar pada pohon kurma. Ketika orang-orang berbondong-bondong masuk Islam dan jumlah kaum muslimin semakin banyak, para sahabat membuatkan untuknya sebuah mimbar. Nabipun meninggalan pohon kurma itu dan mulai berkhothbah di atas mimbar. Pada suatu hari ketika nabi sedang berkhotbah, terdengar suara tangis kesedihan.

Lalu nabi turun dari mimbar untuk mencari arah suara itu. Dan ternyata suara itu adalah tangis rindu pohon kurma yang membuat semua orang yang mendengarnya menjadi bersedih. Peristiwa itu membuat seisi masjid menjadi gempar. Ia terus menangis dan menangis, sampai akhirnya nabi mengelus dan mengusap-usapnya dengan tangannya yang mulia, kemudian memeluknya dan menempelkannya ke dadanya yang mulia seraya memberikan kabar gembira padanya bahwa ia akan tumbuh menjadi pohon di surga yang akarnya akan meminum sungai-sungai yang mengalir di sana.

Dan akhirnya ia pun terdiam. Lalu nabi bersabda, walladzi nafsi biyadihii, lau lam altazimhu labaqoo yakhinnu ila qiyyamis sa’ah syauqon ila rasuulillah (demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya!, apabila aku tidak mendekapnya, maka ia akan terus menangis sampai tiba hari kiamat -karena rindu kepada Muhammad SAW-) (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa merayakan maulid nabi Muhammad adalah sunnah. Adapun cara merayakannya adalah dengan memperbanyak membaca al-Qur’an, berdzikir, atau membagikan makanan.

Jangan sampai kita merayakannya dengan praktek-praktek yang mengandung unsur kemaksiatan seperti tarian, bermacam-macam alat music, dan berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran agama Islam yang mulia yang dapat menghilangkan makna maulid nabi Muhammad SAW. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

Share.

Leave A Reply