Hukum Khitan Bagi Perempuan

0

Pada hakekatnya permasalahan khitan perempuan bukan termasuk bagian dari peribadatan di dalam agama. Namun itu bagian dari adat dan kebudayaan. Tradisi khitan diwariskan turun-temurun dan dari generasi ke generasi. Kebudayaan ini tersebar di negara-negara yang terletak di kawasan sekitar sungai nil. Dan seiring dengan berjalannya waktu, tradisi ini kemudian menyebar luas sampai ke banyak negara.

Ketika nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, beliau melihat bahwa tradisi khitan bagi perempuan telah menjadi kebudayaan yang sangat mengakar. Dan nabi Muhammad SAW tidak melarang praktek ini, tetapi dengan syarat tidak menyebabkan timbulnya bahaya.

Sebagaimana dikatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ummu ‘Atiyyah, “Ummu ‘Athiyyah berkata, ‘para perempuan melakukan praktek khitan di kota Madinah’, kemudian Nabi berkata padanya, ‘jangan kamu larang! karena hal itu bisa membuat wanita menjadi terhormat dan mendatangkan rasa cinta lebih bagi suami’”. (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Menurut para dokter, praktek khitan dilakukan untuk tujuan kesehatan yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Namun meskipun khitan dianggap sebagai praktek kesehatan menurut para dokter, khitan bagi perempuan dapat dianggap sebagai tindakan kejahatan menurut hukum syariat jika tindakan ini mengakibatkan rusaknya organ tubuh. Bahkan pelaku tindakan ini bisa terkena sangsi hukum dan diyat (denda), jika sampai menyebabkan kerusakan yang parah dan kematian.

Di dalam kitab-kitab hadits tidak ditemukan adanya satu haditspun yang meriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAW mengkhitan anak-anak perempuannya. Nabi Muhammad SAW meninggalkan praktek khitan bagi anak-anak perempuannya meskipun tradisi pada saat itu sangat mengakar di kota Madinah.

Di dalam al-Qur’an juga tidak ditemukan ayat yang mengandung perintah untuk mengkhitan perempuan.

Hukum dasar khitan bagi perempuan adalah boleh dengan syarat tidak menimbulkan bahaya. Apabila khitan dapat menimbulkan bahaya, maka hukum khitan perempuan akan berubah menjadi haram. Bahaya khitan dapat terjadi disebabkan oleh perbedaan waktu, makanan, cuaca, atau sebab-sebab lain.

Di beberapa negara seperi Mesir misalnya, telah menetapkan undang-undang yang melarang praktek khitan untuk perempuan. Sebab munculnya undang-undang ini karena adanya bahaya yang ditimbulkan dari praktek ini -baik dilakukan sebelum maupun setelah menikah-.

Namun pada perkembangannya undang-undang ini dianggap salah karena bertentangan dengan hukum agama oleh sebagian orang. Hal ini karena Islam membolehkan praktek khitan untuk perempuan.

Apabila kita memahaminya dengan seksama, kebolehan khitan di dalam agama Islam itu harus memenuhi syarat selama tidak ada bahaya dan efek samping yang ditimbulkan. Jika terjadi bahaya, maka hukum aslinya akan berubah menjadi haram.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai khitan. Semoga Allah senantiasa menambah ilmu dan pengetahuan kita setiap waktu. Amiin ya robbal ‘aalamiin. Wallahu a’lam.

Prof. Dr. Ali Jum’ah, Al-bayan

 

 

Share.

Leave A Reply