Usahakan, Bahwa Keinginanmu Adalah Keinginan Allah (Hikmah Kedua)

0

Usahakan, Bahwa Keinginanmu Adalah Keinginan Allah (Hikmah Kedua).

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِى الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ. وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إيَّاكَ فِى التَّجْرِيْدِ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

Keinginanmu untuk tajrid (tidak bekerja), sementara Allah telah menempatkanmu di maqam asbaab (bekerja), termasuk jenis syahwat yang tersembunyi. Dan keinginanmu untuk berada di maqam asbaab, padahal allah telah menempatkanmu di maqam tajrid adalah penurunan dari cita-cita dan harapan yang tinggi untuk menggapai rahmat Allah.

Keinginanmu wahai murid, untuk berada di maqam tajrid, padahal Allah telah menempatkanmu di maqam asbaab -seperti mencari rizki yang halal atau menyibukkan diri dengan ilmu tertentu- adalah salah satu jenis syahwat yang tersembunyi. Dinamakan syahwat karena engkau tidak sejalan dengan keinginan Allah Swt. Dan dinamakan khofiyyah (samar), karena engkau tidak sedang ingin mendapatkan bagian nafsumu dalam waktu dekat. Akan tetapi dengan alasan tajrid, engkau ingin mendekatkan dirimu kepada Allah. Sesungguhnya nafsu telah menguasai dirimu agar engkau keluar dari maqam asbab yang telah ditentukan Allah atasmu.

Begitu pula keinginanmu untuk berada di maqam asbaab, padahal Allah telah memposisikanmu di maqam tajriid dengan memberimu rezeki tanpa harus bekerja, adalah bentuk penurunan dari semangat dan cita-cita yang tinggi untuk mendekat kepada Allah. Karena keinginanmu itu pada hakikatnya keinginan untuk kembali kepada makhluk setelah engkau bersama dengan Allah. Tentu hal ini tidak diridhai oleh-Nya. Ketahuilah bahwa ketika Allah telah menempatkanmu di suatu maqam tertentu, maka Allah akan menolongmu. Tetapi jika engkau ingin berpindah dari maqam yang telah ditentukan Allah, maka Ia tidak akan menolongmu dan menyerahkan semua urusan dan beban kepadamu.

Allah berfirman,

رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا

Ya Tuhan-ku!, masukkanlah aku dengan masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku dengan keluar yang benar. Dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong. (QS. Al-Israa’: 80).

Tempat masuk yang baik, adalah engkau tidak masuk dengan hawa nafsumu. Dan tempat keluar yang baik, adalah engkau tidak kaluar dengan hawa nafsumu, tetapi dengan Tuhanmu.

Allah berfirman,

وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Barangsiapa yang berpegangan kepada Allah, maka ia akan ditunjukkan kepada jalan yang lurus. (QS. Aali Imraan: 101).

Oleh karena itu, hendaknya kita menerima maqam dan posisi yang telah Allah tempatkan dengan perasaan senang. Dan tanda bahwa kita sedang menempati posisi yang benar adalah  kita mampu beristiqamah melakukan amal ibadah dan dimudahkan jalan rizki kita oleh Sang Maha Pemberi rezeki.

Syaikh Abdul Majid As-Syarnubi Al-Azhari, Syarhu Kitaabil Hikam

Baca Juga : Hikmah Pertama, Tidak dianjurkan berharap pada amal

Share.

Leave A Reply