Cerita Tiga Pemuda Dan Sayyidina Umar Yang Membuat Semua Mata Yang Beriman Melelah

0

Cerita Tiga Pemuda Dan Sayyidina Umar Yang Membuat Semua Mata Yang Beriman Melelah. Membaca sejarah selain menambah pengetahuan juga akan mendidik kita mencontoh generasi terdahulu, dimana di dalam hadits dikatakan bahwa ‘generasi terbaik adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, lalu generasi setelahnya, dst’. (Al-Hadits)

Dikisahkan, Ketika Umar bin khattab sedang duduk di bawah pohon kurma di dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat dan sedang asyik berdiskusi tentang sesuatu. Di kejauhan datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda diantaranya memegangi seorang pemuda lusuh diantara mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Amirul Mukminin, kedua pemuda ini ternyata kakak beradik ituberkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin! Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!”. Umar segera bangkit dan berkata, “benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?” Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.”

“Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, ujar Umar. Pemuda lusuh itu memulai
ceritanya, “Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu.

Sungguh, akusangat marah, segera kucabutpedangku dan kubunuh ia. Ternyataia adalah ayah dari kedua pemudaini.””Wahai, Amirul Mukminin, kau telahmendengar ceritanya, kami bisamendatangkan saksi untuk itu.”,sambung pemuda yang ayahnyaterbunuh. “Tegakkanlah had Allahatasnya!” ujar yang lainUmar tertegun dan bimbangmendengar cerita si pemuda lusuh.”Sesungguhnya yang kalian tuntutini pemuda shalih lagi baik budinya.

Dia membunuh ayah kalian karenakhilaf kemarahan sesaat’, ujarnya. “Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar. “Maaf Amirul Mukminin,” jawab kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa (nyawa) belum dibalas dengan jiwa”. Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuhberkata,”Wahai Amirul Mukminin,tegakkanlah hukum Allah,laksanakanlah qishash atasku. Akuridha dengan ketentuan Allah”ujarnya dengan tegas “Namun,izinkan aku menyelesaikan duluurusan kaumku. Berilah aku waktu 3hari Aku akan kembali untukdiqishash”.”Mana bisa begitu?”, ujar keduapemuda.” tak punyakah kau kerabatatau kenalan untuk mengurusurusanmu?” tanya Umar.”Sayangnya tidak ada AmirulMukminin, bagaimana pendapatmujika aku mati membawa hutangpertanggung jawaban kaumkubersamaku?” pemuda lusuh balikbertanya.

“Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar. “Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya. Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”. Ternyata Salman alFarisi yang berkata. “Salman? Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”. “Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar.

Dan aku mempercayainyasebagaimana engkau percayapadanya”, jawab Salman tenang.Akhirnya dengan berat hati Umarmengizinkan Salman menjadipenjamin si pemuda lusuh. Pemudaitu pun pergi mengurus urusannya.Hari pertama berakhir tanpa adatanda-tanda kedatangan si pemudalusuh. Begitupun hari kedua.Orang-orang mulai bertanya-tanyaapakah si pemuda akan kembali.Karena mudah saja jika si pemudaitu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan
berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari lari , jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali. ”Itu dia!” teriak Umar, “Dia datang
menepati janjinya!”. Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas terisak isak, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar. ”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. Aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku..menyita..banyak.. waktu , Kupacu tungganganku tanpa henti, hingga ia sekarat di gurun terpaksa kutinggalkan lalu aku berlari dari
sana..””Demi Allah”, ujar umar“Mengapa kau susah payahkembali? Padahal kau bisa sajakabur dan menghilang?””Agar.. jangan sampai ada yangmengatakan di kalangan Muslimintak ada lagi ksatria tepati janji.”jawab si pemuda lusuh sambiltersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambilmenahan haru, lalu ia bertanya,“Lalu kau Salman, mengapa mau-menjadi jaminan orang yang barusaja kau kenal?” Agar jangan sampai dikalanganMuslimin, tidak ada lagi rasa salingpercaya dan mau menanggungbeban saudaranya”, Salmanmenjawab dengan mantap.Hadirin mulai banyak yangmenahan tangis haru dengankejadian itu. ”Allahu Akbar!”tiba-tiba kedua pemuda penggugatberteriak, “Saksikanlah wahai kaumMuslimin, bahwa kami telahmemaafkan saudara kami itu”.Semua orang tersentak kaget.

“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” ujar Umar yang terkejut ”Agar jangan sampai di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda ”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Sayyidina Umar bin Khattab pun Menangis dan semua yang hadir pun ikut Menangis SUBHANALLAH
Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply