Cahaya Ilahi Jarang Terjadi Kecuali Dengan Tiba-Tiba, Supaya Manusia Tidak Mengaku Bahwa Itu Muncul Dari Usahanya (Hikmah Ke-Enampuluh Sembilan)

0

Cahaya ilahi jarang terjadi kecuali dengan tiba-tiba, supaya manusia tidak mengaku bahwa itu muncul dari usahanya

قَلَّمَا تَكُوْنُ الْوَارِدَاتُ الْإِلَهِيَّةُ إِلاَّ بَغْتةً لِئَلاَّ يدَّعِيْهَا العِبُادُ بِوُجُوْدِ الْإِسْتِعْدَادِ

Waridat ilahiyyah atau juga diistilahkan dengan asroor ‘irfaniyah (rahasia ilmu ma’rifat) jarang didapatkan oleh seorang murid melainkan dengan tiba-tiba dan tanpa didahului dengan persiapan ibadah, agar ia tidak mengaku-aku bahwa waridat itu disebabkan oleh amal ibadahnya.

Ketahulah, bahwa waridat ilahiyyah itu adalah hadiah Allah kepada hambanya yang tidak dimunculkan dengan amal ibadah. Ini adalah murni anugerah Allah yang besar yang diberikan kepada hamba-hamba khusus yang dikehendaki-Nya.

Menjawab Setiap Pertanyaan Yang Diajukan Tanda Kebodohan

(Hikmah Ke-Tujuhpuluh)

مَنْ رأيتَهُ مُجِيْبًا عَنْ كُلِّ ما سُئِلَ وَمُعَبِّرًا عَنْ كُلِّ ما شَهِدَ وذَاكِرًا لِكُلِّ مَا عَلِمَ فاسْتدلَّ بِذَلِكَ عَلَى وُجُوْدِ جَهْلِهِ

Barangsiapa yang menjawab atas setiap pertanyaan yang diajukan, mengungkapkan segala apa yang ia lihat, dan menyebutkan apa saja yang ia ketahui, ketahuilah bahwa itu adalah tanda kebodohannya

Jika engkau melihat seseorang yang dapat menjawab setiap pertanyaan tentang berbagai persoalan, mengungkapkan segala apa yang dirasakan oleh batin dan perasaannya, dan menuturkan segala apa yang dikatahuinya, maka ketahuilah! bahwa itu semua adalah tanda kebodohannya. Menjawabnya seseorang dari segala pertanyaan adalah tanda pengakuan akan penguasaannya atas semua ilmu pengetahuan. Padahal itu mustahil baginya, karena hanya Allahlah yang mengetahui segala sesuatu.

Allah berfirman,

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا

Aku tidak memberikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit. (QS. Al-Isra’: 85).

Sedangkan mengungkapkan segala apa yang diketahuinya termasuk perbuatan penyebaran rahasia akan sesuatu yang diperintahkan untuk ditutupi, karena kebanyakan yang dirasakan dengan hati ketika ia beribadah itu tidak dapat diwakili dengan kata-kata.

Oleh karena itu orang-orang ‘arif ketika mengajarkan sesuatu mengenai ilmu hati seringkali dengan menggunakan isyaroh (petunjuk) yang hanya mampu ditangkap oleh orang yang memahaminya.

Dan tutur katanya akan semua ilmu adalah tanda ketidak mampuannya dalam mengkelompokkan berbagai jenis ilmu. Mungkin orang itu hanya memiliki satu bidang ilmu tertentu, dan jika ilmu ini digunakan untuk membahas ilmu yang lain tentu akan mengacaukannya.

Syekh Abdul Majid, Syarhu Kitabil Hikam

Share.

Leave A Reply