Bulan Ramadhan Bulan Melatih Kesabaran

0

Bulan Ramadhan Bulan Melatih Kesabaran. Ramadhan benar-benar mengajak umat muslim untuk belajar tentang kesabaran. Bagaimana tidak? Ia disuruh untuk tidak menyantap makanan dan minuman seharian penuh, padahal makanan dan minuman itu ada di hadapannya. Dan selama bulan Ramadhan kita diharuskan untuk menahan segala perkataan kotor dan perbuatan yang keji, jika ingin mendapatkan kemuliaannya. Oleh karena itu, untuk mendapatkan pahala dan keutaaman Ramadhan tidak mudah, kecuali mereka yang benar-benar bersabar.

Sabar adalah tanda orang yang kuat. Dan Allah lebih mencitai hamba yang kuat dari pada hamba yang lemah. Menahan lapar tidak bisa dilakukan oleh seseorang, kecuali dia yang memiliki kekuatan. Menahan haus tidak mungkin terlaksana, kecuali dengan tekad yang kuat. Menahan amarah dalam kondisi yang mengharuskannya marah tidak mungkin terjadi pada orang yang tidak memiliki harapan yang kuat. Dia mencurahkan seluruh kekuatannya menahan hawa nafsu karena ia memiliki tujuan yang lebih besar, yaitu kenikmatan yang tiada batas.

Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan setiap perbuatan baik yang dilakukan oleh hamba-hamba-Nya yang shaleh. Semakin berat ibadah dikerjakan, maka ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar. Puasa yang hanya menahan lapar dan haus, tentu berbeda dengan puasa yang juga menahan perkataan dan perbuatan yang tidak baik. Dan puasa yang menahan perkataan dan perbuatan yang tidak baik, juga berbeda dengan puasa yang juga menahan diri dari pikiran-pikiran yang negatif. Masing-masing akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Mari kita renungkan hikmah di bawah ini,

 

[Sebelum menguji, Allah telah meletakkan kekuatan sabar dalam dirimu. Maka sabarlah, ini hanya sebentar]

 

Allah adalah Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ketika Ia sedang menurunkan musibah kepada seorang hamba, maka Allah akan menurunkan pula bersamanya, kasih sayang-Nya. Ketika ia diuji dengan badan yang sakit, maka ia diberi pula obat yang akan meringankan rasa sakitnya. Ketika ia diuji dengan kesedihan, maka ia diberi pula keluarga dan sanak saudara yang siap menghiburnya. Ketika ia diuji dengan kehilangan, maka akan disertai pula dengan bantuan-bantuan yang segera datang. Ketika diuji dengan tangisan, maka akan ada orang terkasih yang siap untuk menghapus air matanya. Sungguh manusia tidak akan diuji tanpa disertai dengan pertolongan.

Apabila manusia telah menyadari adanya kasih sayang Allah di setiap turunnya ujian, maka hendaknya ia tidak perlu takut dan khawatir ketika ujian itu telah datang. Ia cukup menerimanya dengan lapang dada dan yakin bahwa ia akan kuat menghadapinya dengan pertologan dari Allah Swt. Apabila hatinya telah yakin dengan kasih sayang Allah di setiap cobaan-Nya, pasti ia akan merasa tenang. Dan ketika ia tenang, maka ia tidak akan berkeluh kesah dan marah-marah. Ia akan terus bersabar dan ridha dengan ketetapan dari Allah Swt. Ada hikmah di balik semua ujian.

Apabila seseorang diuji dengan suatu kesusahan dan rasa sakit tetapi ia bersabar, maka Allah akan mencintanya. Allah akan segera mengganti kesusahannya dengan kemudahan dan menggati rasa sakitnya dengan kesehatan. Orang yang dicintai Allah akan diberi kesadaran, bahwa sakit adalah tanda bahwa manusia memang makhluk yang lemah yang mengharuskannya untuk selalu bergantung kepada Zat yang Maha Kuat. Ia juga sadar, bahwa sakit adalah buah dari kelalaian dan ketidakpatuhannya kepada Allah. Jika ia terus berada dalam kelalaian, maka Allah akan melanjutkan rasa sakitnya sampai di akherat kelak. Na’udlubilahi min zalik. Ia juga sadar bahwa sakit merupakan ujian, dan ujian merupakan tanda bagi orang yang akan diangkat derajatnya. Sehingga sakit tidak lagi membuatnya bersedih, tetapi justru ia akan bersemangat, karena sebentar lagi ia akan dinaikkan derajatnya.

Ia juga sadar, bahwa sakit di dunia tidaklah lama. Ia hanya sebentar dan segera berlalu. Ia akan malu kepada Allah jika ia harus berkeluh kesah di dalam waktu sakit yang hanya sebentar, sementara ia sudah menikmati kesehatan dalam waktu yang lama. Dalam keadaan sakit ia terus beribadah sesuai dengan kemampuannya. Ia terus menghidupkan hatinya untuk berzikir dan menggerakkan pikirannya untuk merenungkan tentang kebesaran Allah Swt. Dan ia masih bisa bersyukur, ketika melihat orang lain yang diberi ujian lebih besar darinya.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, ‘Kami para nabi adalah orang-orang yang paling besar ujiannya, kemudian orang yang semisalnya, dan yang semisalnya’. Dari hadits tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa semakin besar kadar keimanan seseoang maka ia akan diuji dengan ujian yang berat. Atau dengan kata lain, orang yang paling menerima ujian terberat adalah orang yang paling dekat kedudukannya di sisi Allah Swt. Oleh karena itu, bersyukurlah bagi merea yang diuji dengan ujian yang berat. Namun, kita tidak boleh menantang Allah agar memberi kita ujian yang berat. Jika kita menantang Allah, pasti kita tidak akan kuat menerima ujian-Nya, sebab Allah tidak akan menolong sebab kelancangan kita. Tugas kita hanya menerima dengan ikhlas ketika ujian itu mendatangi kita.

 

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

 

Allah berfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ

Bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (QS. An-Nahl [16]: 127)

 

Allah berfirman,

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

Dan bersabarlah atas ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami. Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri (untuk shalat). (QS. At-Thuur [52]: 48)

 

Allah berfirman,

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal [8]: 46)

 

Wallahu A’lam.

 

Share.

Leave A Reply