Bulan Ramadhan Bulan Introspeksi Diri

0

Bulan Ramadhan Bulan Introspeksi Diri. Bulan Ramadhan orang-orang menyemarakkan kegiatan-kgiatan ibadah. Betapa kita menyaksikan banyak orang yang telah pandai membaca Al-Qur’an. Betapa kita melihat banyak orang yang luar biasa dalam mengeluarkan hartanya untuk bersedekah. Betapa kita banyak menyaksikan orang yang giat berdakwah dan berceramah dari satu tempat ke tempat yang lain, siang dan malam. Betapa kita melihat banyak orang yang kuat melaksanakan shalat malam hingga larut malam. Betapa kita melihat banyak orang-orang sheleh di sekitar kita.

Seharusnya itu semua menyadarkan seseorang bahwa ia juga harus shaleh seperti mereka. Ia juga harus mendapatkan kemuliaan itu. Ia juga harus bisa mendapatkan pahala-pahala itu. Ia juga harus bisa memperoleh kebaikan-kebaikan itu. Ia juga harus bisa membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Ia juga harus menjadi bagian orang-orang yang dermawan. Ia juga harus bisa menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa menyebarkan syiar islam, siang dan malam. Ia juga harus menjadi bagian dari orang-orang yang memakmurkan masjid. Ia juga harus menjadi bagian dari orang-orang yang berilmu.

Ketika ia memiliki banyak harapan dan cita-cita yang baik, maka ia tidak lagi sempat mengurusi keburukan orang lain. Ketika ia bertekad untuk menjadi orang alim, maka ia tidak lagi gemar mencari keburukan-keburukan orang lain. Ketika ia berhasrat untuk menjadi orang yang dekat dengan Allah, maka ia tidak lagi tertarik untuk mengurusi aib-aib orang lain. Ketika ia memiliki rencana-rencana yang besar, maka ia tidak akan melihat pada hal-hal yang remeh.

Ia hanya fokus pada kekurangan dirinya dan berusaha keras untuk menyempurnakannya. Ia hanya focus pada aib-aib nya dan berusaha keras untuk menghilangkannya. Ia hanya berfokus pada penyakit-penyakit hatinya dan berusaha keras untuk menghilangkannya. Ia hanya fokus pada kebodohannya dan berusaha keras untuk mengharusnya dari dirinya. Ia hanya fokus pada kemalasannya dan berusaha keras untuk membuangnya. Ia hanya fokus pada dosa-dosa dan kemaksiatannya dan berusaha keras untuk mengubahnya menjadi pahala. Ia sangat sibuk dengan dirinya sehingga ia sama sekali tidak punya waktu untuk mengurusi orang lain.

Karena ia tidak pernah melihat orang lain, maka ia tidak tahu kesalahan orang lain. Jika ia tidak tahu kesalahan-kesalahan orang lain maka ia tidak akan mudah untuk menyalah-nyalahkan. Jika ia tidak gemar untuk menyalahkan maka ia akan dicintai oleh banyak orang. Jika ia dicintai oleh banyak orang, maka kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya akan bisa dirasakan. Jika kebaikannya telah dirasakan oleh orang lain, maka orang itu akan mendapatkan bagian pahala dari kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Dan jika telah mengalir pahala padanya, maka ia telah mendapatkan keberuntungan yang paling besar. Meskipun ia telah mati, maka pahalanya akan terus mengalir sampai hari kiamat. Ia telah berinvestasi akherat, investasi yang tiada henti dan akan kekal selamanya, dengan cara memperbaiki diri sendiri.

Oleh karena itu, sibuklah memperbaiki diri hingga orang lain juga tertarik untuk memperbaiki diri. Sibuklah belajar, hingga orang lain juga tertarik untuk belajar. Sibuklah dalam membaca Al-Qur’an hingga orang lain juga tertarik untuk membaca Al-Qur’an. Sibuklah untuk bersedekah hingga orang lain juga tertarik untuk sedekah. Sibuklah dengan menyebarkan syiar-syiar agama, biar orang-orang tidak melupakan agamanya. Sibuklah untuk menuliskan indahnya ajaran-ajaran nabi dan akhlak-akhlaknya, agar orag lain bisa membacanya kemudian mencontohnya.

Mari kita renungkan hikmah di bawah ini,

 

[Waspada itu harus. Kagetan itu yang jangan, biar tidak mudah menyalahkan]

 

Rasulullah Saw. telah mengatakan di dalam haditsnya, bahwa umatnya akan terpecah menjadi 72 golongan, dan golongan yang selamat hanya satu, yaitu golongan Ahlussunah wal jama’ah. Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mereka yang di dalam hidupnya menjadikan jalan hidup Rasulullah Saw. dan para sahabat sebagai petunjuk. Dan salah satu tanda golongan Ahlussunnah wal jama’ah sebagaimana yang dikatakan Rasulullah adalah bahwa golongan itu memiliki jumlah penganut yang terbanyak/mayoritas. Rasulullah Saw. telah bersabda, ‘Kalian harus masuk ke dalam golongan mayoritas’.

Aliran-aliran baru di dalam agama Islam telah muncul sejak beberapa abad yang lalu, dan mereka akan terus ada sampai hari kiamat. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap aliran-aliran atau pemahaman tertentu yang dibawa oleh kelompok islam tertentu. Dan salah satu bentuk dari kewaspadaan itu adalah dengan tiada hentinya mempertebal iman dengan cara mengikuti majelis-majelis pengajian yang dipimpin oleh seorang ulama yang terpercaya. Ketika seseorang telah masuk ke dalam kelompok pengajian yang benar, berguru pada kiai yang benar, dan mendapatkan teman-teman yang benar, insyaAllah ia tidak akan terpengaruh dengan pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Akal sehatnya, ilmunya, dan kekuatan imannya telah kuat, sehinga tidak gampag goyah.

Akan tetapi, kita juga tidak boleh bersikap fanatik yang berlebihan dalam membela pendapat dan golongan kita, sebab sesuatu yang berlebihan biasanya ditunggangi iblis yang akan membisikkan hal-hal yang buruk. Jika kita termakan dengan bisikannya, maka kita akan membangga-banggakan kelompok kita, sehingga kita akan terjatuh pada sikap sombong. Kita akan mengaku-aku sebagai orang yang paling benar dan hanya kita dan kelompok kita yang pantas masuk surga. Adapun golongan lain adalah golongan yang pasti salah, ahli bid’ah, kafir, dan penghuni neraka. Ketahuilah, sesungguhnya sikap seperti itu bukanlah sikap penduduk ahli surga. Justru kesombongan itu akan membawa pada kebinasaan, Na’udlubillahi min zalik.

Meskipun kita telah memeluk agama yang benar dan telah berada di dalam golongan yang benar, kita harus tetap menghormati agama dan golongan lainnya. Kita harus saling menghormati sebagai sesama manusia. Kita hahus saling menghargai pemikiran dan pendapat orang lain. Bukankah perbedaan telah digariskan oleh Yang Kuasa, dan tiada seorang pun yang mampu menghapusnya?.

Manusia hanya mengikuti apa yang diyakini kebenarannya, lalu memasrahkan urusannya kepada Allah Swt. Dia yang menentukan apakah seseorang akan diberi rahmat atau tidak. Dan jika ia meyakini ada keburukan dan kesalahan yang terdapat pada orang lain, maka ia akan berdoa dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya.

 

Allah berfirman,

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman [31]: 18)

 

Allah berfirman,

وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Dan kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadiid [57]: 23)

 

Nabi bersabda,

اِرْحَمْ مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكَ مَنْ فِي السَّمَاءِ

Sayangilah makhluk yang ada dibumi, niscaya yang ada dilangit akan menyayangimu. (HR Thabrani)

 

 

Wallahu A’lam.

 

 

 

Share.

Leave A Reply