Bulan Ramadhan Adalah Bulan Menjaga Akidah

0

Bulan Ramadhan Adalah Bulan Menjaga Akidah. Akidah adalah salah satu nama ilmu yang diciptakan oleh para ulama untuk menjaga Tauhid. Tauhid adalah keimanan seseorang tentang adanya Allah, Malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari akhir, dan kepada hal-hal yang ghaib yang telah diberitahukan Allah melalui kitab dan Rasul-Nya. Dengan ilmu akidah, para ulama mengharapkan agar orang-orang tidak tersesat jalan. Tersesat jalan adalah tidak mengetahui ilmu yang benar. Jika ia tidak mengetahui ilmu yang benar, maka ia tidak akan sampai kepada cahaya. Dan jika ia tidak sampai pada cahaya, maka ia akan terus berada dalam kegelapan. Di dalam kegelapan, seseorang tidak akan menemukan rahmat. Dan jika ia tidak mendapatkan rahmat, maka ia tidak akan selamat dari azab akherat, Na’udlubillahi min dzalik.

Al-Qur’an adalah Kalamullah (Firman Allah) yang diturukan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui Malaikat Jibril. Nabi Muhammad adalah orang yang paling paham terhadap maksud dari firman Allah Swt. sebab beliau adalah Nur (cahaya). Ilmu dan pemahaman yang diberikan Allah kemudian beliau Saw. ajarkan kepada para sahabatnya. Lalu para sahabat mengajarkan kepada para tabi’in. Para tabi’in mengajarkannya kepada tabi’-tabi’in, dst. Orang yang mendapatkan pengajaran dari orang-orang yang telah mendapatkan pengajaran dari orang-orang yang telah mendapatkan pengajaran dari nabi Muhammad adalah para ulama. Merekalah pewaris para nabi. Merekalah orang-orang yang menerima amanah dari Allah untuk meneruska dakwah nabi Muhammad Saw. Mereka pun aktif mengajarkan ilmu melalui ceramah dan kitab-kitab yang dituliskanya. Apa yang tertulis di dalam kitab-kitab para ulama adalah rangkuman dan keimpulan dari Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits mungkin kita mengalamu kesulitan untuk mengetahui hukum sesuatu, apakah sesuatu itu halal atau haram. Tetapi di dalam kitab-kitab para ulama, kita akan menemukan banyak permasalahan hukum yang telah dibahas dan diketahui bagaimana hukumnya. Karena membaca kitab-kitab karangan ulama, kita jadi tahu mana hal-hal yang haram dan mana hal-hal yang halal. Namun, jika kita tidak mau membacanya, maka kita tidak akan mengetahuinya, lalu syetan akan masuk ke dalam hati dan pikiran kita untuk mengharamkan sesuatu yang sesungguhnya dihalalkan oleh Allah, atau menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan Allah.

Mari kita membaca hikmah dibawah ini untuk memperluas pemahaman kita semua,

[Tanda yang tampak dari rusaknya akidah seseorang, adalah mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah dan membidah sesuatu yang tidak dibidahkan oleh ulama shalafus shalih. Dan kedua-duanya sangat ber-resiko dan membahayakan diri sendiri]

 

Allah Swt. menghendaki untuk memilih nabi terakhir, seorang pemuda yang berasal dari Arab. Ketetapan Allah itu mengandung hikmah-hikmah yang sangat banyak. Karena Muhammad adalah salah seorang yang terlahir dari bangsa Arab, tentu tata cara hidupnya dipengaruhi oleh adat dan budaya Arab. nabi Muhammad Saw. juga memakan buah kurma sebagaimana bangsa Arab juga memakannya. nabi Muhammad juga memakan roti gandum dan daging kambing sebagaimana orang-orang Arab juga memakannya. Nabi Muhammad juga menyukai susu dan madu, sebagaimana masyarakat Arab juga menyukainya. Nabi Muhammad juga memakai pakaian khas Arab yang seperti penduduk Arab lainnya. Nabi Muhammad juga mengendarai Onta ketika akan melakukan perjalanan jauh, sebagaimana yang dilakukan semua bangsa Arab zaman dahulu.

Allah Swt. adalah Tuhan yang Maha Kuasa atas segalas sesuatu. Jika Ia berkehendak, maka Ia bisa saja untuk menjadikan semua manusia memiliki wajah yang sama, memiliki bahasa yang sama, warna kulit yang sama, adat dan budaya yang sama, makanan dan minuman yang sama, pakaian yang sama, pekerjaan yang sama, pemikiran yang sama, dst. Namun, Allah menghendaki untuk menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Berbangsa-bangsa dan bersuku-suku tidak boleh menjadikan mereka bermusuhan, tetapi Allah memerintahkan mereka untuk saling mengenal satu dengan yang lain. Saling bersaudara dan berteman atas dasar kemanusiaan. Saling berdamai dan tolong-menolong atas dasar sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Dan Allah Swt. tidak membiarkan manusia tanpa tangung jawab, setelah mereka diciptakan di alam dunia yang beragam ini. Akan tetapi, mereka diberi tanggung jawab untuk menyembah kepada Allah dengan tata cara yang telah diajarkan oleh nabi Muhammad Saw, yang berkebangsaan Arab itu. Al-Qur’an itu berbahasa Arab, maka manusia harus membaca Al-Qur’an dengan bahasa Arab. Shalat juga berisi bacaan-bacaan dengan bahasa Arab, maka mereka juga harus mengikuti bacaan-bacaan itu ketika sedang shalat. Seorang muslim tidak boleh mengganti bacaan shalat dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab.

Namun, selain itu, setiap muslim boleh melakukan apa saja yang menjadi adat dan budayanya, selama adat dan budaya itu tidak melanggar aturan-aturan Allah Swt. Setiap muslim bebas memakan makanan yang disukainya, asalkan bukan termasuk jenis-jenis makanan yang telah ditetapkan keharamannya. Setiap muslim bebas memakai pakaian dengan kain dan model apa saja, asal tidak memakai jenis kain yang diharamkan dan yang tidak memperlihatkan aurat. Setiap muslim boleh melakukan kegiatan dan acara apa saja, asal di dalamnya tidak berisi hal-hal yang diharamkan Allah. Di dalamnya tidak ada khamr/arak, di dalamnya tidak ada daging babi, di dalamnya tidak ada wanita-wanita yang setengah telanjang yang bernyanyi dengan berlenggak-lenggok dan bergoyang dengan goyangan yang menggoda iman. Di dalamnya tidak ada kata-kata yang mengandung dusta, fitnah, dendam, dan caci maki kepada orang lain. Di dalamnya tidak ada rencana-rencana jahat yang akan merugikan orang lain. Dst.

Dan sebaliknya, apabila kegiatan yang dilaksanakan itu mengandung bacaan-bacaan Al-Qur’an, shalawat, doa, zikir, nasehat-nesehat yang baik, sedekah, silaturahim, persatuan, persaudaraan, kegembiraan mensyukuri nikmat Allah, maka kegiatan-kegiatan itu termasuk kebaikan yang dianjurkan oleh agama Islam. Kegiatan seperti itu merupakan implementasi dari perintah Rasulullah untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang baik yang mengikuti sunnah Rasulullah Saw.

Sungguh orang-orang yang mengharamkan majlis-majlis zikir itu adalah orang-orang yang tidak mencintai Allah Swt. Sungguh mereka yang membid’ahkan majlis-majlis shalawat adalah orang-orang yang tidak mencintai Rasulullah Saw. Sungguh kelompok yang suka mengkafirkan orang-orang yang menyelenggarakan majleis-majelis baca Al-Qur’an adalah orang-orang yang tertolak dari Syafa’at (pertolongan) Al-Qur’an. Sungguh manusia-manusia yang membenci majelis-majelis para ulama adalah orang-orang yang tidak akan dikumpulkan bersama dengan mereka di surga kelak. Na’udlubillahi min zalik.

           Semoga kita semua termasuk orang-orang yang senang dengan majelis-majelis yang baik, majelis-majelis zikir yang merupakan taman surga, majelis-majelis shalawat yang akan menurunkan ketenangan dan rahmat, majelis-majelis Al-Qur’an yang dicintai oleh Rasulullah Saw. Amiin ya Rabbal Alamin.        

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah [5]: 87)

Allah berfirman,

وَلا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لا يُفْلِحُونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadak akan beruntung. (QS. An-Nahl [16]: 116)

Wallahu A’lam

 

 

Share.

Leave A Reply