Bukanlah Seorang Yang ‘Arif Yang Apabila Mendapatkan Isyarah (Petunjuk) Baru Mengetahui Bahwa Allah Lebih Dekat Dari Isyaroh Itu (Hikmah Ke-Tujuhpuluh Tujuh)

0

Bukanlah Seorang Yang ‘Arif Yang Apabila Mendapatkan Isyarah (Petunjuk) Baru Mengetahui Bahwa Allah Lebih Dekat Dari Isyaroh Itu (Hikmah Ke-Tujuhpuluh Tujuh)

مَا الْعَارِفُ منْ إِذا أَشَارَ وَجَدَ الْحَقَّ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ إِشَارَتِهِ، بَلِ الْعَارِفُ مَنْ لاَ إِشَارَةَ لَهُ لِفَنَائِهِ فِى وُجُوْدِهِ وَانْطِوَائِهِ فِى شُهُوْدِهِ

Bukanlah seorang yang ‘arif yang apabila mendapatkan isyarah (petunjuk) baru mengetahui bahwa Allah lebih dekat dari isyaroh itu. Akan tetapi ‘arif adalah orang yang tidak memiliki isyaroh, karena dirinya telah lebur dan bersama dengan Allah dan tenggelam dalam memandangnya

Seorang ‘arif yang sempurna bukanlah seseorang yang apabila ia diberi isyaroh (petunjuk tentang rahasia tauhid) baru menemukan Allah, lalu menyimpulkan bahwa Allah lebih dekat dari pada isyaroh itu -karena pada saat itu ia masih ada bersama dengan dirinya dan masih merasakan adanya isyaroh dan adanya orang yang memberi isyaroh-. Sehingga ia masih bersama dengan tipuan.

Sesungguhnya orang ‘arif yang sempurna adalah orang yang tidak memiliki isyaroh sama sekali, karena ia telah tenggelam dalam memandang Allah. Ia tidak memandang kecuali hanya kepada Allah ta’ala. As-Syibli mengatakan, “setiap isyaroh dari makhluk yang menunjukkan kepada al-Haq itu tertolak bagi orang-orang ‘arif”. Syekh Yusuf al-‘Ajami mengatakan, “barangsiapa yang sampai pada maqom jam’i (tenggelam diri dalam memandang Allah), ketika sedang berbicara sebenarnya bukan ia yang berbicara, tetapi yang berbicara adalah al-Haq. Di dalam hadits qudsi dikatakan, “dan dengan-Ku ia mendengar, dengan-Ku ia melihat, dengan-Ku ia berbicara”.

Sebagian orang ‘arif ketika ditanya mengenai apa itu fana’, mereka menjawab, “fana’ adalah tampaknya keagungan Allah pada seorang hamba yang menyebabkannya lupa akan dunia, akherat, derajat, ahwal, maqom, wirid, dan dari segala sesuatu. Dan bahkan ia lupa akan fana’ itu sendiri, karena ia telah tenggelam di dalam lautan tauhid.

Syekh Abdul Majid, Syarkhu Kitabil Hikam

Share.

Leave A Reply