Bukan Bukti Cinta Tuhan

0

Apabila kita mencintai seseorang maka kita akan mengistimewakannya, akan memperhatikannya, melayaninya, membantunya, menyenangkan hatinya, menjaganya dari bahaya, dsb. Namun jika seseorang telah melakukan semua itu pada anda, apakah anda yakin bahwa ia mencintai anda?, ternyata jawabannya ‘tidak’. Memang, semua perbuatan itu biasanya menjadi bukti atas perasaan cinta yang tertanam di dalam hati, tetapi terkadang semua itu tidak timbul karena cinta.

Yang dibutuhkan oleh seseorang adalah cintanya, cinta yang tulus dari orang yang dicintainya. Oleh karena itu banyak kita saksikan di dalam kehidupan kita, seseorang rela mengorbankan apa saja demi cinta. Hal ini adalah bukti bahwa cinta adalah sesuatu yang dicari dan sangat berharga. Seseorang akan merasa sakit hati dan bahkan marah jika ternyata semua perhatian yang diberikannya hanya bohong belaka. Materi-materi yang diberikan oleh pembohong itu tidak bisa menyembuhkan rasa sakit hatinya berapapun banyaknya.

Setiap orang menghendaki ketulusan cinta dari kekasihnya, sebuah cinta yang ada di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Namun kenyataan yang sering terjadi di sekeliling kita, ternyata kata-kata lembut, perhatian, bantuan, dan pelayanan itu tidak tumbuh dari rasa cinta, tetapi ada maksud-maksud busuk yang telah ia rencanakan. Memang kita dilarang untuk bersuuddzan pada kebaikan orang lain bahkan kita dianjurkan untuk berterima kasih, namun agama juga menganjurkan untuk waspada dan berhati-hati.

Apabila seseorang diberi anugerah kenikmatan yang begitu melimpah, apakah itu tanda bahwa Allah menyayanginya. Apabila jika ia memiliki rumah istana megah, kendaraan yang begitu mewah, harta yang melimpah, akal dan badan yang sehat adalah bukti bahwa Allah mencintainya?, ternyata jawabannya adalah ‘belum tentu’.

Allah berfirman,

فَأَمَّا الإنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu ia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka ia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (QS. Al-Fajr: 15)

Lanjutan dari ayat di atas

Allah berfirman,

كَلا بَل لا تُكْرِمُونَ الْيَتِيمَ (١٧) وَلا تَحَاضُّونَ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ (١٨) وَتَأْكُلُونَ التُّرَاثَ أَكْلا لَمًّا (١٩) وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Sekali-kali tidaklah demikian. Sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (QS. Al-Fajr: 17-20)

Tanda bahwa Allah memuliakan kita dengan kekayan adalah kekayaan itu akan menjadikan kita semakin dekat kepada Allah SWT. Kekayaannya tidak melupakannya untuk mengingat Sang Pemberi Kenikmatan. Dan ia menggunakan apa yang diberikan Allah kepadanya untuk membantu saudara-saudaranya yang membutuhkan.

Apabila kita telah memanfaatkan kenikmatan-kenimatan Allah di jalan yang diridhai, maka itu akan menjadi tanda bahwa Allah mencinta kita dan akan terus memperbanyak limpahan nikmat-Nya.

Allah berfirman,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim: 7)

Semoga kita termasuk orang-orang kaya yang menggunakan kekayaan untuk menegakkan Syi’ar-Syi’ar Islam, Amiin Yaa Rabbal Aalamiin.

 

 

Share.

Leave A Reply