Budaya Nyadran Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan

0

Budaya Nyadran Sebelum Memasuki Bulan Ramadhan. Hampir setiap desa di pulau Jawa, ketika akan memasuki bulan Ramadhan, masyarakat mengadakan acara tradisi ‘Nyadran’. Nyadran adalah membaca Al-Qur’an, shalawat, dzikir secara bersama-sama di area makam. Hal ini dimaksudkan untuk mengirimkan pahala bacaan-bacaan itu kepada para leluhur yang telah mnedahului mereka. Dengan mengirimkan pahala kepada mereka, maka diharapkan mereka akan mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah.

Disamping itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempererat tali silaturrahim antar anggota keluarga dan antar masyarakat desa. Biasanya, sehari sebelum acara Nyadran ini diadakan, orang-orang yang tinggal di luar tanah kelahirannya akan pulang. Mereka juga ingin berziarah ke makam orang tua dan kekak-kakeknya. Oleh karena itu, pada saat Nyadran itu, maka bertemulah seluruh anggota masyarakat. Mereka pun mengenang masa-masa kecil mereka sambil menyantap makanan yang telah disediakan panitia.

Mungkin, tahun lalu mereka masih berbuka puasa dan menyanpat sahur bersama dengan ayah dan ibunya. Namun, kini semuanya telah berpindah ke alam barzah. Oleh karena itu, dengan acara Nyadran, diharapkan kerinduan yang dirasakan oleh anak-anak yang masih hidup, maupun orang tua yang telah berada di alam barzah akan terobati. Bukankah orang yang berada di alam barzah itu bisa menyaksikan siapa yang berkunjung ke makamnya. Dan orang yang paling ia harapkan untuk berziarah ke makamnya adalah anaknya. Karena tuntutan pekerjaan, anak-anak tinggal jauh dari kampung halaman, sehingga momen ini pun benar-benar mereka manfaatkan untuk melepaskan kangen kepada semuanya.

Doa anak shaleh adalah harta yang paling berharga yang masih dimiliki oleh ahli kubur. Ahli kubur tidak lagi memiliki kesempatan untuk melaksanakan puasa. Mereka juga tidak bisa lagi menjalankan shalat taraweh. Mereka juga tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti tadarus Al-Qur’an. Akan tetapi doa-doa dan pahala-pahala ibadah yang dikirimkan oleh anak yang shaleh akan tetap mengalir padanya, meskipun ia telah berada di alam barzah.

Agar lebih merasakan pentingnya berziarah ke makam leluhur, mari kita renungkan hikmah di bawah ini.

 

[Kebanyakan orang tua selalu mengkonsumsi obat-obat tertentu untuk menjaga stamina tubuhnya. Meski mereka sangat butuh dan bergantung pada obat, tapi mereka tidak mungkin menyembahnya. Sama halnya mereka butuh untuk ziarah ke makam leluhur dan orang-orang shaleh, dan bukan untuk menyembah kuburan]

 

Rasulullah Saw. pernah melarang para sahabat untuk berziarah, sebab iman mereka masih lemah pada permulaan Islam. Namun, ketika iman mereka telah kuat sehinga mereka bisa menjaga adab berziarah, Rasulullah pun menghapus larangan itu. Dari yang semula dilarang, ziarah menjadi diperintah. Rasulullah kemudian memerintahkan mereka untuk berziarah ke makam keluarga mereka yang telah meninggal dunia.

Selain bermanfaat bagi orang yang telah meninggal, berziarah juga sangat bermanfaat bagi para peziarah, karena dengannya orang akan mengingat mati. Dan dengan mengingat mati maka ia telah mendapatkan nasehat yang terbesar, sehingga ia menjadi sadar akan tanggung jawabnya ketika nanti ia harus berhadapan dengan Allah Swt.

Orang yang telah mati pada hakekatnya ia tidak mati, tetapi ia hanya berpindah alam dari alam dunia menuju alam berikutnya, yaitu alam barzah. Meskipun jasad lenyap dimakan cacing, tetap ruh tidak akan pernah lenyap. Ruh berasal dari Allah yang Maha Kekal, sehingga ruh juga akan kekal.

Ketika nyawa seseorang telah dicabut karena ajalnya telah tiba, maka itu adalah detik-detik ia memasuki alam barzah. Setelah ia dimasukkan ke dalam liang kubur, dan orang-orang yang mengantarnya telah meninggalkannya sendirian, maka Malaikat Mungkar dan Nakir pun datang untuk mempertanyakan beberapa hal padanya. Jika ia bisa menjawabanya maka ia akan mendapatkan kenikmatan dan merasakan kenyamanan hidup di alam barzah, yang menjadi tanda bahwa ia juga akan mendapatkan kenikmatan setelah dibangkitkan nanti. Akan tetapi, jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan kedua Maaikat itu, maka ia harus bersiap-siap untuk menerima siksaan dan kepahitan hidup di alam barzah, sebelum ia benar-benar merasakan kepahitan setelah ia dibangkitkan, Na’udlu billahi min zalik.

Oleh karena itu, orang-orang yang berada di alam barzah akan senantiasa mengharapkan pertolongan dan bantuan dari keluarganya yang masih hidup. Ia akan senang apabila ada anggota keluarganya yang mau berziarah ke makamnya. Dan bacaan-bacaan ayat Al-Qur’an, zikir, shalawat, dan doa-doa itu benar-benar sangat diharapkan. Sebab, kiriman kalimah Thayyibah (kalimat-kalimat yang baik) itu akan meringankan kesusahannya di alam barzah, jika ia termasuk orang yang kurang beruntung. Dan jika ia termasuk orang yang beruntung, maka bacaan-bacaan itu akan semakin menambah kenikmatannya di alam barzah. Semakin banyak dan sering keluarganya mengirimkan doa-doa, maka ahli kubur akan semakin mendapatkan kebahagiaan yang berlipat-lipat. Dan kemanfaatan yang didapatkan oleh ahli kubur, tidak mengurangi pahala yang akan diterima oleh orang yang mendoakan.

Karena orang yang beriman mengetahui bahwa ada pahala yang terus mengalir padanya meskipun ia telah berada di alam barzah, maka ia benar-benar memperhatikan hal tersebut. Pahala ibadah yang terus mengalir itu adalah sedekah jariah, imu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya. Meskipun sebenarnya ia mencintai hartanya, orang yang beriman akan rela mengelurkannya untuk pembangunan masjid, madrasah, rumah sakit, dll. Ia yakin bahwa selama bangunan itu masih digunakan, maka ia akan mendapatkan pahalanya meskipun ia telah meninggal dunia.

Orang yang beriman juga akan senantiasa mengajarkan ilmunya meskipun ia hanya mengetahui beberapa hal dari ilmu agama. Sebab, ia ingin memiliki murid-murid yang kelak akan mengamalkannya ilmunya dan juga mengajarkannya kembali kepada orang lain, yang pahalanya akan terus mengalir meskipun umurnya telah habis. Ia juga sungguh-sungguh dalam mendidik semua anaknya agar kelak mereka menjadi anak-anak yang shaleh. Jika mereka termasuk anak-anak yang shaleh, maka pasti mereka akan mendoakan orang tuanya. Dan doa anak-anaknyalah yang paling dinantikan oleh orang tua ketika ia telah terbaring di liang lahat.

Nabi bersabda,

عَنْ اَبي هُـرَيْـرَةَ رَضِـَي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، اَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَه. )رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara; Sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mau mendoakannya. (HR Muslim)

Nabi bersabda,

زُوْرُوْا اْلقُبُوْرَ، فَإِنهَا تُذَكرُكُمُ الْآخِرَة

Berziarahlah, karena itu dapat mengingatkanmu akan akhirat. (HR Ibnu Majah)

Nabi bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ أَلاَ فَزُوْرُوهَا فَإِنهَا ترق الْقَلْب ، وتدْمعُ الْعَيْنَ ، وَتُذَكرُ الْآخِرَةَ، وَلاَ تَقُوْلُوْا هجْرًا

Dulu, aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena itu dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat. Namun, janganlah kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (ketika berziarah). (HR Hakim)

Wallahu A’lam.

Share.

Leave A Reply