Berusahalah Untuk Mengkhatamkan Al-Quran Setiap Minggu Atau Setiap Bulan Atau Sesuai Dengan Kemampaun Kita

0

Berusahalah Untuk Mengkhatamkan Al-Quran Setiap Minggu Atau Setiap Bulan Atau Sesuai Dengan Kemampaun Kita.

Seharusnya seorang muslim tidak hanya membaca Al-Qur’an tanpa memiliki keinginan untuk mengkhatamkannya dalam waktu tertentu. Sesungguhnya ada nasehat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkenaan dengan mengkhatamkan Al-Qur’an.

Nasehat ini dikatakan Rasulullah karena adanya pertanyaan dari sahabat Abdullah Amru bin Ash tentang bagaimana sebaiknya ia membaca Al-Qur’an.

Untuk lebih jelasnya kita akan membaca hadits dibawah ini.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي كَمْ أَقْرَأُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ اخْتِمْهُ فِي شَهْرٍ، قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ اخْتِمْهُ فِي عِشْرِينَ، قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ اخْتِمْهُ فِي خَمْسَةَ عَشَرَ، قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ اخْتِمْهُ فِي عَشْرٍ، قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ، قُلْتُ إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ فَمَا رَخَّصَ لِيرواه الترمذي والدارمي

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, aku berkata kepada Rasulullah SAW, ”Wahai Rasulullah seberapakah aku (seharusnya) membaca Al-Qur’an?” Beliau menjawab, ‘Khatamkanlah Al-Qur’an dalam satu bulan.” Aku berkata, “Aku sanggup lebih baik dari itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Khatamkanlah dalam dua puluh hari.” Aku berkata lagi, “Aku sanggup lebih baik dari itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Khatamkanlah dalam lima belas hari.” Aku berkata lagi, “Aku sanggup lebih baik dari itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Khatamkanlah dalam sepuluh hari.” Kemudian aku berkata lagi, “Aku sanggup lebih baik dari itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Khatamkanlah dalam lima hari”. Aku berkata lagi, “Aku sanggup lebih baik dari itu wahai Rasulullah?’ Namun beliau tidak memperbolehkan lagi.” (HR. Turmudzi & Darimi)

HIKMAH HADITS:

Antusias para sahabat, dalam menjalankan amalan mengharap keridhaan Allah SWT, sebagaimana yang dilakukan oleh Abdullah bin Amru bin Ash.

Beliau dikenal sebagai sosok pemuda yang sangat giat dan tekun dalam beribadah. Bahkan karena ketekunan beliau yang sangat luar biasa dalam beribadah, Rasulullah SAW pernah menegurnya :

أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلاَ تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Dari Abu Salamah bin Abdurrahman ra bahwasanya Abdullah bin Amru bin Ash berkata, bahwa Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Adakah benar berita, bahwa engkau puasa sepanjang hari (setiap hari), dan shalat malam sepanjang malam (setiap malam)?” Aku menjawab, “Benar Wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jangan berbuat seperti itu. Berpuasalah dan juga berbukalah. Qiyamullail lah, dan juga tidurlah. Karena sesungguhnya pada diri kamu terdapat hak (yang harus dipenuhi), pada kedua matamu juga terdapat hak (yang harus dipenuhi) dan pada istrimu juga terdapat hak (yang harus dipenuhi). (HR. Muslim)

Bahwa dalam membaca Al-Qur’an, kita dianjurkan untuk membacanya secara keseluruhan dari awal hingga akhir secara terprogram. Atau dengan kata lain, kita dianjurkan untuk senantiasa mengkhatamkan Al-Qur’an, bahkan disertai dengan target dan batasan waktu tertentu.

Hal ini terlihat jelas dari hadits di atas, dimana Abdullah bin Amru bin Ash ra bertanya kepada Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, seberapakah aku (seharusnya) membaca Al-Qur’an?” Dan menanggapi pertanyaan Abdullah bin Amru bin Ash tersebut, Rasulullah SAW justru mengarahkannya untuk membacanya (baca ; mengkhatamkannya) dalam satu bulan, atau dua puluh hari, atau lima belas hari, atau sepuluh hari, atau lima hari. Maka sepatutnyalah kita juga memiliki target tertentu untuk menkhatamkan Al-Qur’an, misalnya target mengkhatamkannya satu kali dalam sebulan.

Bahwa dalam riwayat yang lainnya, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan memperbolehkan sahabat untuk mengkhatamkan Al-Qur’an tiga hari. Hal ini terlihat dalam riwayat berikut :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صُمْ مِنْ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ قَالَ أُطِيقُ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَمَا زَالَ حَتَّى قَالَ صُمْ يَوْمًا وَأَفْطِرْ يَوْمًا فَقَالَ اقْرَإِ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ إِنِّي أُطِيقُ أَكْثَرَ فَمَا زَالَ حَتَّى قَالَ فِي ثَلاَثٍ – رواه البخاري

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan.” Aku mampu lebih dari itu”. Maka beliau akhirnya mengatakan, “berpuasalah sehari dan berbukalah sehari.” Beliau juga bersabda, “Bacalah (khatamkalah Al-Qur’an) setiap bulan.” Aku berkata, “Aku mampu lebih baik dari itu”. Rasulullah SAW tetap seperti itu hingga akhirnya memperbolehkan untuk mengkhtamkannya dalam tiga hari.” (HR. Bukhari)

Sebagian ulama bahkan memperbolehkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari tiga hari, dengan syarat ia harus mahir dalam membacanya dan tidak menyalahi hukum-hukum bacaan. Disamping itu amalan para sahabat dan juga salafuna shaleh, dimana sebagian mereka ada yang mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu hari.

Para salafuna shaleh juga demikian antusiasnya dalam membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Berikut adalah salafuna shaleh yang memiliki kelebihan dalam membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an :

  • Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam kitab Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa beliau mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.
  • Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).
  • Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Adapun riwayat yang menggambarkan tentang keutamaan mengkhatamkan Al-Qur’an, diantaranya adalah :

a . Mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan amalan yang paling dicintai Allah SWT. Dalam riwayat disebutkan :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ، قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ قَالَ وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ قَالَ الَّذِي يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ كُلَّمَا حَلَّ ارْتَحَلَ

Dari Ibnu Abbas ra, beliau mengatakan ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling dicintai Allah?’ Beliau menjawab ‘al-Hal wal Murtahil’. Orang ini bertanya lagi, ‘apa itu al-hal wal murtahil wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘yaitu yang membaca al-Qur’an dari awal hingga akhir. Setiap kali selesai ia mengulanginya lagi dari awal.” (HR. Tirmidzi)

b. Orang yang mengikuti khataman Al-Qur’an, seperti mengikuti pembagian ghanimah. Dalam riwayat disebutkan :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا صَالِحٌ الْمُرِّيُّ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلاَبَةَ رَفَعَهُ قَالَ مَنْ شَهِدَ الْقُرْآنَ حِينَ يُفْتَحُ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ فَتْحًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ شَهِدَ خَتْمَهُ حِينَ يُخْتَمُ فَكَأَنَّمَا شَهِدَ الْغَنَائِمَ تُقْسَمُ

“Dari Abu Qilabah, Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Barang siapa yang menyaksikan (mengikuti) bacaan al-Qur’an ketika dibuka (dimulai), maka seakan-akan ia mengikuti kemenangan (futuh) fi sabilillah. Dan barang siapa yang mengikuti pengkhataman al-Qur’an maka seakan-akan ia mengikuti pembagian ghanimah.” (HR.Addarimi)

c. Mendapatkan doa dan shalawat dari para malaikat. Dalam riwayat disebutkan :

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ سَعْدٍ قَالَ إِذَا وَافَقَ خَتْمُ الْقُرْآنِ أَوَّلَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُصْبِحَ وَإِنْ وَافَقَ خَتْمُهُ آخِرَ اللَّيْلِ صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُمْسِيَ فَرُبَّمَا بَقِيَ عَلَى أَحَدِنَا الشَّيْءُ فَيُؤَخِّرَهُ حَتَّى يُمْسِيَ أَوْ يُصْبِحَ قَالَ أَبُو مُحَمَّد هَذَا حَسَنٌ عَنْ سَعْدٍ

“Dari Mus’ab bin Sa’d, dari Sa’d bin Abi Waqas, beliau mengatakan, ‘ apabila al-Qur’an dikhatamkan bertepatan pada permulaan malam, maka malaikat akan bersalawat (berdoa) untuknya hingga subuh. Dan apabila khatam bertepatan pada akhir malam, maka malaikat akan bershalawat/ berdoa untuknya hingga sore hati. “(HR. Addarimi.)

Wallahu A’lam

Baca juga semua tentang :

Share.

Leave A Reply