Beriman Kepada Qadha dan Qadar

0

Beriman Kepada Qadha dan Qadar merupakan salah satu dari rukun iman yang enam.

Allah berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sungguh Kami menciptakan sesuatu dengan takdir. (QS. Al-Qamar: 49).

Rasulullah SAW bersabda, “sesuatu yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena. Lalu Allah berkata padanya, “tulislah!”, ia berkata, “apa yang aku tulis?”, “tulislah takdir segala sesuatu sampai datangnya hari kiamat”.

Nabi Muhammad SAW juga pernah berkata kepada Ibnu Abbas, “ketahuilah, apabila seluruh umat berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, maka mereka tidak akan mampu memberikannya kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan. Dan apabila mereka berkumpul untuk mendatangkan bahaya kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberi bahaya sama sekali kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan kepadamu. Sesungguhnya pena telah diangat dan tulisan takdir telah kering”. (HR. Ahmad, Tirmudzi, Ibnu Hibban).

Seorang muslim harus meyakini dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada pelaku sebenarnya melainkan Allah SWT. Segala sesuatu yang berjalan di alam raya ini, kejadian yang telah berlalu dan yang akan datang adalah semata-mata karena af’al (perbuatan) Allah SWT. Allah SWT telah menuliskan ketentuan takdir ini sejak dahulu.

Sungguh terdapat hikmah yang agung di balik qodlo’ dan qodar Allah. Setiap manusia tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Oleh karena itu ia berhak untuk berharap, berandai-andai, dan berusaha untuk mewujudkan suatu keinginan yang dibolehkan oleh syara’.

Namun apabila cita-cita dan keinginannya tidak tercapai, maka ia akan menerimanya dengan senang hati. Apabila yang ditetapkan oleh Allah itu lebih ia cintai dari pada keinginannya, maka ia akan menjadi mukmin yang sejati.

Namun, apabila ia menolak takdir Allah dan bermaksiat pada-Nya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang bodoh. Bahkan ketidak ridloannya pada takdir Allah akan mengeluarkannya dari agama Allah. Na’udlubillahi min dzalik.

Iman kepada qodlo’ dan qodar Allah adalah ekspresi keimanan seseorang akan adanya Allah. Apabila kita beriman kepada Allah dengan seluruh sifat-sifat-Nya, maka kita wajib beriman kepada atsar (efek yang ditibulkan) dari sifat-sfat-Nya -yaitu af’aal (perbuatan-perbuatan) Allah SWT-.

Adapun cara untuk beriman kepada perbuatan Allah adalah dengan meyakini bahwasanya tidak ada perbuatan melainkan perbuatan Allah SWT. Segala peristiwa yang terjadi di muka bumi ini atas izin Allah, karena semuanya berasal dari Allah SWT. Jika kita mampu memahami hal ini maka kita akan menjadi ‘abdan robbaniyyan (hamba yang bertuhan).

Sesungguhnya tidak ada pertentangan antara keyakinan bahwa segala perbuatan itu berasal dari Allah dengan pilihan, keinginan, atau perbuatan manusia. Apabila manusia memiliki keinginan adalah wajar dan masuk akal.

Barang siapa yang mengingkarinya, maka ia telah mendustakan sesuatu yang wajar, juga mendustakan ayat-ayat al-Qur’an yang menetapkan adanya kemampuan, kehendak, dan keinginan bagi manusia. Allah berfirman,

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ

Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan, yaitu jalan kebaikan dan kejahatan. (QS. Al-Balad: 10).

Allah berfirman,

مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الآخِرَةَ

Diantara kalian ada yang menginginkan dunia dan diantara kalian ada yang menginginkah akherat. (QS. Ali-Imran: 152).

Jadi pemahaman yang benar adalah menetapkan adanya pilihan dan perbuatan, dan meyakini bahwasanya Allah adalah pelaku yang sebenarnya. Dialah pemilik segala urusan. Tidak ada satu urusanpun yang keluar dari wilayah kekuasaan Allah SWT.

Takdir adalah rahasia Allah di dalam makhluk-Nya. Oleh karena itu kita melihat sebagian orang-orang ahli marifat seperti Syekh Abil ‘Abbas yang berkata “barang siapa yang melihat makhluk dengan pandangan syareat, maka ia akan membencinya.

Dan barang siapa yang melihatnya dengan pandangan hakekat maka ia akan memaafkannya. Seorang ‘arif (ahli makrifat) mampu memandang makhluk dengan rahasia Allah SWT. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply