Beriman Kepada Para Rasul

0

Beriman Kepada Para Rasul. Iman kepada rasul merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Seorang muslim wajib meyakini bahwa Alah tidak akan membiarkan manusia begitu saja. Namun Allah sangat memperhatikan dan peduli terhadap urusan hamba-hamba-Nya.

Oleh karena itu Dia menurunkan wahyu kepada satu atau dua nabi pada setiap zaman. Dan nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Tidak ada lagi nabi setelahnya. Inilah Iman kepada rasul secara global.

Adapun beriman kepada rasul secara terinci adalah seorang muslim harus percaya dan beriman kepada rasul-rasul yang disebutkan secara terperinci di dalam al-Qur’an. Jumlah rasul yang wajib diketahui ada 25 rasul, dan 18 diantaranya disebutkan di dalam surat al-An’am.

Allah berfirman,

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَى قَوْمِهِ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ (٨٣) وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ كُلا هَدَيْنَا وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (٨٤) وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَى وَعِيسَى وَإِلْيَاسَ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ (٨٥) وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا وَكُلا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan itulah keterangan yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan derajat siapa yang kami kehendaki. Sesunggunya Tuhanmu maha bijaksana dan maha mengetahui.

Dan kami telah menganugerahkan Ishaq dan Ya’qub kepadanya. Kepada masing-masing telah kami beri petunjuk. Sebelum itu kami telah memberi petunjuk kepada Nuh dan sebagian dari keturunan Ibrahim, yaitu Dawud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.

Dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas adalah termasuk golongan orang-orang yang soleh. Ismail, Ilyasa’, Yunus, dan luth, masing-masing telah kami lebihkan derajat mereka di atas umat yang lain pada masanya. (QS. Al-An’am: 83-86).

Sedangkan ketujuh sisanya adalah Sayyidina Muhammad, Adam, Hud, Solih, Dzul Kifli, Syu’aib, dan Idris.

Allah SWT telah menyebutkan nama Muhammad di dalam al-Qur’an, maa kaa na Muhammadun abaa ahadin min rijaalikum, wa laakir rasuulallah wa khootaman nabiyyin, wa kanallaahu bikulli syaiin ‘aliima (Muhammad bukanlah bapak salah seorang dari kalian. Akan tetapi ia adalah Rasulallah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah maha mengetahui atas segala sesuatu).

Allah SWT juga menyebutkan nama Adam di dalam surat al-Baqarah,

فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, dan Dia menerima taubatnya. Sungguh Allah maha menerima taubat dan maha penyayang. (QS. Al-Baqarah: 37).

Dan Allah menyebutkan nama Dzulkifli di dua tempat yaitu,

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ كُلٌّ مِنَ الصَّابِرِينَ

Dan Isma’il, Idris, dan Dzulkifli adalah hamba-hamba yang terpilih. (QS. Al-Anbiya’: 85). Dan firman Allah,

وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ وَكُلٌّ مِنَ الأخْيَارِ

Dan sebutkanlah nama Isma’il, Ilyasa’, dan Dzulkifli. Mereka adalah orang-orang yang terpilih. (QS, shad: 48).

Allah SWT menyebutkan nama Idris di banyak tempat diantaranya,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا (٥٦) وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا

Dan sebutkanlah di dalam al-Qur’an nama Idris. Sesunggunya ia adalah nabi yang benar dan ia telah Kami tempatkan di tempat yang mulia lagi tinggi. (QS. Maryam: 56-57).

Mereka adalah nabi-nabi yang telah disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur’an. Wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk beriman kepada mereka.

Kita tidak boleh mendustakan salah satu nabi atau rasul diantara mereka. Akan tetapi kita wajib meyakini bahwa Allah telah mengutus mereka.

Adapun jumlah nabi dan rasul pada hakekatnya lebih dari jumlah yang sudah disebutkan di dalam al-Qur’an. Nabi bersabda, “sesunggunya aku adalah penutup 1000 nabi bahkan lebih. Setiap nabi yang diutus pasti memperingatkan kaumnya akan datangnya dajjal” (HR. Ahmad, Al-Hakim).

Diriwayatkan dari Abi Dzar, ia bertanya kepada nabi, “wahai Rasulullah, berapakah jumlah nabi?”, nabi menjawab, “124.000”, ia melanjutkan, “dan berapakah jumlah rasul?”, nabi menjawab, “313 rasul”.

Seorang mukmin tidak boleh meninggalkan nabi Muhammad SAW dan mengikuti nabi yang lain. Keimanan seorang muslim kepada para nabi dan rasul dengan cara meyakini bahwa Allah mengutus mereka untuk umat-umat-Nya yang bertujuan untuk mengajak mereka menuju ridlo Allah.

Adapun alasan-alasan yang menyebabkan tidak bolehnya seorang muslim meninggalkan Muhammad lalu mengikuti nabi-nabi sebelumnya adalah sebagai berikut:

  1. Kita tidak yakin dengan keaslian isi kitab-kitab terdahulu, karena telah terjadi perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagaimana dibuktikan oleh sejarah.
  1. Seandainya kitab nabi-nabi terdahulu belum berubah, kita tidak dibolehkan mengikuti mereka. Karena perintah mengikuti mereka telah dihapus dengan diutusnya Muhammad SAW, penutup nabi-nabi. Nabi Muhammad SAW bersabda, lau kaana Musa hayyan ba’di, ma wasi’ani illat tibaa’i (HR Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dan al-Baihaqi), artinya: “apabila Musa hidup kembali, maka pasti ia akan menjadi pengikutku”.

Mari kita memohon kepada Allah agar senantiasa menganugerahkan kepada kita keimanan yang benar dan amalan yang bagus. Walhamdulillahi robbil ‘alamiin.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

 

Share.

Leave A Reply