Beriman Kepada Hari Akhir

0

Beriman Kepada Hari Akhir. Hari akhir dinamakan yaumul qiyamah (hari kebangkitan). Dinamakan hari kiamat karena manusia akan dibangkitkan dari kuburnya dan akan menghadap Allah SWT untuk dihisab amalnya.

Allah berfirman,

أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan apabila kuburan dibongkar dan manusia telah dibangkitkan, maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Wahai manusia! apa yang telah memperdayakanmu sehingga engkau berbuat durhaka terhadap Tuhanmu yang maha pengasih. (QS. Al-Muthofifin: 4-6).

Hari kiamat adalah hari yang agung dan dahsyat. Bahkan Allah SWT bersumpah dengan hari ini.

Allah berfirman,

لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ

Aku bersumpah dengan hari kiamat. (QS. Al-Qiyamah: 1).

Pada hari ini Allah akan mengumpulkan tulang-belulang orang-orang yang sudah mati kemudian membungkusnya dengan daging kembali. Jasad setiap manusia akan kembali seperti dulu ketika mereka masih hidup di dunia. Kemudian Allah akan kembali meniupkan ruh ke dalam jasad-jasad yang telah dibangkitkan.

Allah berfirman,

أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ

Apakah manusia mengira jika Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya?. (QS. Al-Qiyamah: 3).

Adapun mengenai tanda-tanda hari kiamat Allah berfirman,

فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ (٧) وَخَسَفَ الْقَمَرُ (٨) وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ (٩) يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ

Maka apabila mata terbelalak ketakutan, dan bulanpun telah hilang cahayanya, lalu matahari dan bulan dikumpulkan. Pada hari itu manusia berkata “kemana aku harus berlari!”. (QS. Al-Qiyamah: 7-10).

Dan termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah firman Allah,

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ (١) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (٢) وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ (٣) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (٤) وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

 

Apabila langit terbelah karena patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. Dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong. Dan ia patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh. (QS. Al-Insyiqaq: 1-5).

Seorang mukmin harus meyakini adanya hari kiamat. Pada hari ini Allah akan membangkitkan semua orang yang telah mati.

Allah berfirman,

ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ

Kemudian sungguh kalian semua akan dibangkitkan di hari kiamat. (QS. Al-Mukminun: 16).

Kemudian Allah akan menghisab (menghitung) amal-amalnya. Seorang muslim harus takut kepada hari ini. Takut akan kepedihan dan siksanya dengan banyak melakukan amal-amal yang soleh.

Allah berfirman,

وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ

Dan takutlah pada hari ketika kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak ada yang dirugikan. (QS. Al-Baqarah: 281).

Seorang mukmin juga wajib meyakini dengan segala berita yang berkaitan dengan hari akhir dan segala kedahsyatannya.

Allah berfirman,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

Dan Kami akan menimbang dengan tepat pada hari kiamat. Tidak ada seorangpun yang dirugikan walau sedikit, sekalipun hanya seberat biji sawi. Dan pasti kami akan mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan. (QS. Al-Anbiya’: 47).

Seorang mukmin juga wajib beriman kepada segala perkara yang ghaib. Ia wajib percaya kepada adanya surga, neraka, hari perhitungan, kebangkitan, alam kubur, dan sebagainya. Allah berfirman,

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Alam selanjutnya adalah alam barzah (kubur),sampai mereka nanti dibangkitkan. (QS. Al-Mukminun: 100).

Seorang muslim juga harus percaya akan adanya siksa dan nikmat di alam kubur. Karena ini adalah sebuah kebenaran yang dijelaskan oleh wahyu Allah di dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Ia tidak boleh berfikir bagaimana bentuk siksa dan nikmatnya. Pada setiap alam terdapat aturan tersendiri yang mengaturnya.

Sekarang kita tinggal di dunia dengan segala aturannya dan kita tidak dapat membayangkan bagaimana aturan yang ada di alam arwah atau di alam jin misalnya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai adanya siksa dan nikmat kubur. Apakah nikmat atau siksa itu dirasakan oleh ruh, jasad, atau dua-duanya. Ibnu Hubairoh dan Imam Ghozali berpendapat bahwa hanya ruh saja yang akan merasakan adzab dan nikmat kubur.

Sedangkan mayoritas ulama ahlussunnah wal jama’ah berpendapat bahwa kedua jasad dan ruh akan merasakannya. Sementara Ibnu Jarir berpendapat bahwa mayit akan disiksa atau merasakan nikmat di dalam kuburnya tanpa harus dikembalikan ruhnya. Jasad akan merasakan sakit meskipun ia tidak hidup. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply