Berani Menyampaikan Kebenaran Di Bulan Ramadhan

0

Berani Menyampaikan Kebenaran Di Bulan Ramadhan. Sesungguhnya agama Islam ini bisa berjaya karena keberanian Nabi Muhammad dan Para sahabat. Betapa Nabi Muhammad dan Para Sahabat berani berperang melawan orang-orang kafir meskipun dengan peralatan yang belum lengkap dan jumlah pasukan yang sedikit. Namun, dengan keyakinan dan pertolongan dari Allah, mereka bisa meraih kemenangan.

Pada masa awal-awal Islam, kaum muslimin banyak mengalami ancaman dan bahkan penyiksaan dari orang-orang kafir. Pada saat itu kaum muslimin tidak bisa melawan karena belum memiliki kekuasaan dan penganutnya masih sedikit. Meskipun mereka mengalami penyiksaan yang bertubi-tubi, tetapi mereka tidak takut lalu melepaskan imannya. Mereka tetap mengatakan ‘Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah’.

Orang-orang yang masuk Islam pada permulaan adalah orang-orang fakir miskin dan para budak. Dan diantara budak yang masuk islam itu adalah Bilal bin Rabbah. Bilal pun merasakan pendertaan yang dahsyat dari tuannya. Dalam cuaca yang begitu panas, Bilal dipaksa untuk tiduran di atas padang pasir dan diatas badannya ditindih dengan batu yang besar. Namun Bilal tetap bersabar, sambil mulutnya terus berucap, Ahad Ahad (Tolonglah hambamu ini Wahai Dzat Yang Maha Esa).

Para sahabat berani menyiarkan keislamannya apapun resikonya. Dan rasa berani itu harus juga dimiliki oleh generasi-generasi kita saat ini. Rasulullah Saw. menyuruh setiap umatnya untuk menyampaikan meskipun hanya satu ayat. Ajaklah manusia untuk mengikuti jalan nabi Muhammad, sebab jalan nabi Muhammad adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Itulah jalan untuk bertemu dengan Allah Swt. dan Allah akan meridhai kita. Lakukan dengan berani, dan tanggalkan semua rasa takut.

Mari kita membaca hikmah berikut ini,

 

 

[Jangan banyak klarifikasi, lalu klarifikasi. Lakukan saja, lalu lakukan berikutnya]

 

Waktu dan kesempatan adalah salah satu nikmat agung yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Waktu yang diberikan tidak untuk dibiaran begitu saja tanpa hal-hal yang baik. Apabila waktu tanpa diisi dengan hal-hal yang baik, maka sunguh ia telah menyia-nyiakan waktunya. Waktu adalah modal dagang kita dengan Allah Swt. Jika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik maka kita akan rugi, sehingga akan kehilangan banyak keuntungan. Hidup hanya sekali dan waktu yang terlewat tidak akan bisa kembali.

Hal yang paling jauh dari diri kita adalah satu detik yang telah berlalu. Meskipun kita mengejarnya, maka kita tidak akan menangkapnya. Meskipun kita mencurahkan sekuat tenaga untuk mengembalikannya, maka satu detik itu tidak akan bisa kembali. Padahal jika satu detik itu kita isi dengan zikir kepada Allah, maka tentu akan memberikan keuntungan kepada kita. Keuntungan yang hanya Allah yang Maha Mengetahui. Keuntungan itu bukan diberikan oleh majikan kita, bukan pula diberikan oleh bos kita, bukan pula diberikan oleh pak bupati atau pak gubernur, bukan pula diberikan oleh presiden atau raja, tetapi diberikan oleh Sang Raja di raja. Apabila keuntungan yang diberikan oleh raja itu begitu banyaknya, lalu bagaimana dengan apa yang akan diberikan oleh Raja di raja. Allahu Akbar!.

Apabila waktu satu detik saja begitu besar nilainya di sisi Allah Swt, lalu bagaimana jika kita menggunakan waktu satu menit untuk berzikir? Tentu akan lebih banyak keuntungan yang akan kita dapatkan bukan?. Lalu bagaimana jika 1 jam, 1 hari, atau 1 tahun?. Sungguh keuntungan yang tidak bisa dibayangkan oleh akal dan ditangkap oleh panca indera kita. Oleh karena banyaknya keuntungan bagi orang yang memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya, maka Allah tidak memberikannya di dunia, tetapi nanti di akherat. Dunia yang kotor dan sempit ini tidak akan cukup untuk menampung keuntungan-keuntungan yang begitu besar dan banyak. Hamba kekasih-Nya hanya akan diberi sedikit dari kenikmatan dunianya.

Siapa yang menanam maka ia akan memetik buahnya. Siapa yang berbuat baik, maka ia akan mendapatkan pahalanya. Siapa yang beramal shaleh, maka ia akan ditinggikan derajatnya. Siapa yang menginginkan kenikmatan surga, maka ia akan memasukinya. Siapa yang mematuhi perintah Allah, maka Allah akan menuruti semua keinginanya. Siapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan menerimanya dengan ridha-Nya. Siapa yang menjauhi maksiat dan dosa-dosa, maka ia akan dijauhkan dari neraka dan adzabnya. Semua yang dilakukan ada akibat yang akan dirasakannya.

Apabila menusia telah mengimaninya, tidakkah ia mencari yang bermanfaat bagi masa depannya?. Tidakkah ia menggapai kebahagiaan yang abadi itu?. Tidakkah ia mencari kegembiraan yang kekal itu?. Tidakkah ia mewujudkan kemuliaan-kemuliaan itu?. Tidakkah ia menginginkan keindahan-keindahan itu?. Tidakkah ia ingin mencapai keutamaan-keutamaan itu?. Sungguh beruntunglah mereka yang terus berada di jalan yang lurus dengan petunjuk cahaya-caaya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apabila ia terus mengikuti cahaya itu, maka pada akhirnya ia akan sampai pada cahaya yang tertinggi, yaitu cahaya wajah Allah yang akan dipandanginya setiap saat.

 

Allah berfirman,

وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢) إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3)

 

Allah berfirman,

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar, dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl [16]: 96)

Allah berfirman,

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ (٢٢) إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. kepada Tuhannya-lah mereka melihat. (QS. Al-Qiyaamah [75]: 22-23)

Nabi bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara; Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu. Hidupmu sebelum datang kematianmu. (HR Al-Hakim)

Nabi bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu di dalamnya; Yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. (HR Bukhari)

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply