Benarkah Islam Membolehkan Suami Memukul Istri?

0

Mengenai permasalahan pemukulan terhadap wanita di dalam agama Islam

Allah berfirman,

وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha besar. (QS. An-Nisa”: 34)

Perbuatan nusuz (tidak taat kepada suami) berlawanan dengan norma agama dan sosial. Seorang wanita dikatakan berbuat nusuz apabila ia tidak melaksanakan kewajibannya. Kewajiban-kewajiban istri adalah hak bagi suami, sebagaimana kewajiban-kewajiban suami adalah hak istri.

Ketika si istri berbuat nusuz, suami dianjurkan oleh agama Islam untuk meluruskan istrinya dengan cara menasehatinya dengan memakai perkataan yang lemah-lembut dan mengingatkannya kepada Allah akan hak-hak suami yang harus dipenuhi olehnya. Islam juga membolehkan suami untuk berpisah ranjang dengan istrinya untuk memperingatkan akan pentingnya kewajiban seorang istri.

Bahkan Islam membolehkan untuk menampakkan kemarahannya dengan cara memukulnya. Akan tetapi pukulan yang dibolehkan di dalam Islam adalah pukulan yang ringan, yang tidak menyakitkan, dan yang tidak meninggalkan bekas. Jadi seolah-olah si suami berkata kepada istrinya, ‘aku marah’, tetapi ia tidak mengatakannya.

Hal-hal ini dibolehkan di dalam agama Islam. Meskipun demikian, para ulama menganjurkan kepada kaum laki-laki agar sebisa mungkin menjauhi pukulan, dan disarankan untuk menampakkan kemarahannya dengan cara lain.

Hal ini juga bisa terjadi pada pihak laki-laki. Seorang laki-laki akan dihukum dan dipukul apabila ia berbuat salah pada wanita seperti; apabila seorang laki-laki menghilangkan keperawanan seorang wanita dengan jarinya. Para ulama ahli fiqih berkata, “siapa yang menghilangkan keperawanan seorang wanita hukumnya haram, dan ia harus dihukum” (dikutip dari kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah al-Quwaitiyah).

Ketika banyak kaum laki-laki yang memukul istri-istrinya di zaman nabi, para istri datang kepada nabi untuk mengadu. Nabi pun marah kepada para sahabat, kemudian beliau berkata kepada mereka, “banyak kaum wanita yang mendatangi keluarga Muhammad untuk mengadukan pemukulan yang dilakukan oleh para suami. Laki-laki semacam itu tidak termasuk orang-orang pilihan diantara kalian”. (HR. Abu Dawud dan Ad-Darimi)

Sunnah nabi Muhammad SAW yang dianjurkan oleh agama adalah tidak memukul. Nabi Muhammad SAW sama sekali tidak pernah memukul istri-istrinya. Akan tetapi nabi membolehkan pukulan dengan menggunakan kayu siwak, yang hanya dimaksudkan untuk menampakkan kemarahan suami dan menunjukan ketidak ridhaannya atas perbuatan istri yang enggan melaksanakan kewajibannya.

Agama Islam mengajarkan kelembutan. Islam tidak pernah membolehkan kaum laki-laki untuk berbuat kasar dan sewenang-wenang kepada istrinya. Pukulan yang menyakitkan tentu saja perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama Islam yang mulia. Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan bahwa hubungan antara suami istri haruslah dibangun atas dasar cinta kasih.

Dan cinta kasih tentu saja berbalik arah dengan memukul dan menyakiti, dan nabi Muhammad SAW sangat mengingkarinya. Beliau bersabda, “aku heran dengan laki-laki yang tega memukul istrinya -seperti menganggapnya sebagai budak-, tetapi kemudian ia menyetubuhinya di malam harinya”. (HR. Bukhari, Al-Baihaqi)

Inilah penjelasan singkat untuk menolak pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa agama Islam menghina wanita, karena membolehkan kaum laki-laki untuk memukulnya. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syaikh Ali Jum’ah, Al-Bayaan Lima Yusyghilul Adzhaan

 

 

Share.

Leave A Reply