Belajar Untuk Lebih Ikhlas di Bulan Ramadhan

0

Belajar Untuk Lebih Ikhlas di Bulan Ramadhan. Sebentar lagi umat Islam akan memasuki bulan yang paling mulia. Itulah bulan Ramadhan yang dinanti-nantikan. Mengapa dinanti-natikan? Karena di dalamnya Allah meletakkan berjuta-juta rahmat, berjuta-juta ampunan, dan berjuta-juta penjagaan dari apu neraka. Bagi orang yang sebelumnya merasa memiliki banyak dosa maka ia akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan ampunan. Oleh karena itu kita banyak menyaksikan para ahli maksiat yang bertaubat di bulan Ramadhan ini. Bagi orang yang merasa belum memiliki bekal yang cukup untuk bertemu dengan Allah, maka ia akan bersemangat untuk mengumpulkan pahala, karena ia tahu bahwa Allah melipatkan pahala atas setiap kebaikan di bulan ini. Bahkan tidurnya orang yang berpuasa saja dihitung sebagai tasbih. Allahu Akbar!

Tidak ada yang tidak menghargai kesempatan ini kecuali orang yang hatinya telah tertutup. Hatinya benar-benar telah tertutup karena kesombongan dan kedurhakaannya telah begitu besarnya. Kecintaannya pada dunia telah begitu dahsyatnya, hingga ia tidak bisa merasakan bahwa nilai keutamaan satu huruf Al-Quran yang dibaca di bulan Ramadhan itu jauh lebih besar dari pada dunia dan segala isinya. Bukankah kita telah mendengar informasi dari Allah dan Rasul-Nya bahwa harga dunia itu tidak lebih dari sayap lalat? Bukankah dunia itu diibaratkan nabi Muhammad dengan sesuatu yang keluar dari dubur kita?. Bukankah dunia juga diibaratkan sebagai bangkai yang tidak memiliki harga sama sekali?.

Oleh karena itu, mari kita masuk di bulan Ramadhan dengan merenungkan kalam hikmah berikut ini

 

[Ujian orang yang memberi adalah tidak mengungkit-ungkit pemberian. Karena itu amat menyakitkan si penerima, hingga dalam hatinya berkata, ‘Lebih baik aku tidak diberi]

 

Allah adalah Zat yang Maha Kaya. Ia berhak memberikan kekayaan kepada siapa saja yang dkehendaki-Nya. Tidak ada makhluk apapun yang bisa mencegah seseorang yang ditetapkan oleh Allah menjadi kaya. Betapa kita saksikan di dunia ini, banyak orang yang memiliki perusahaan yang besar, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Kita juga melihat, ada orang yang memiliki rumah seluas kelurahan atau bahkan kecamatan. Ada pula orang yang memiliki penghasilan yang luar biasa. Bahkan apabila dihitung, maka penghasilannya dalam satu menit bisa mengalahkan penghasilan orang lain selama satu tahun. Semua itu adalah bagian dari ketetapan Allah Swt.

Simpanan dan kekayaan Allah tidak akan habis untuk mencukupi kebutuhan seluruh makhluk-Nya. Dialah Zat yang Maha Kuat dan Maha Mandiri. Dia tidak membutuhkan pertolongan dan bantuan dari siapa pun. Dia tidak memerlukan campur tangan orang lain, dan tiada seorang pun yang mampu mencampuri urusan Allah Swt. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Dan apa yang diinginkan-Nya untuk terjadi, maka terjadilah. Dialah Raja alam semesta.

Bagi mereka yang diberi kekayaan dan harta yang melimpah, Allah tidak membiarkan mereka begitu saja dalam kenikmatan yang tiada tanggung jawab di dalamnya. Allah Swt. mengingatkan umat manusia melalui lisan Nabi-Nya, bahwa di dalam sebagian hartanya ada hak-hak orang-orang fakir dan miskin yang harus diberikan. Mereka diharuskan untuk memperhatikan tetangga-tetangganya yang sedang kesusahan. Apabila ada salah satu dari mereka yang kelaparan, maka orang-orang kaya bertanggung jawab atasnya.

Setiap kenikmatan menuntut tanggung jawab. Bagaimana cara ia mendapatkan rezeki akan dipertanyakan Allah di hari pengadilan kelak. Jika ia mendapatkan harta dengan cara-cara yang haram, maka ia akan mendapatkan siksa neraka. Dan sebaliknya, jika ia memperhatikan aturan-aturan Rasulullah, maka ia akan selamat darinya. Semua harta benda yang dimiliki oleh manusia, mulai dari yang terkecil sampai yang terkecil akan dihadapkan pada pengadilan Allah Swt. Dan semua manusia tidak akan selamat dari dahsyatnya pengadilan Allah, kecuali bagi mereka yang menggunakan apa-apa yang diberikan-Nya dengan sebaik-baiknya.

Banyak orang-orang kaya yang hidup di zaman Rasulullah yang bisa kita teladani perilaku dan jalan hidupnya. Para sahabat Rasululah Saw. tidak pernah sedikit pun kikir atas hartanya. Justru mereka dengan senang hati memberikan sebagian hartanya untuk perjuangan Islam. Sahabat Abu Bakar Ash-Sidiq memberikan seluruh hartanya. Sahabat Umar bin Khattab memberikan separoh dari hartanya. Begitu juga dengan sahabat-sahabat kaya lainnya, mereka rela menukar harta mereka dengan rahmat dan ampunan Allah Swt. di akherat kelak. Dan setiap pengorbanan pasti ada pembalasan, dan Allah akan membalas pengorbanan mereka dengan balasan yang terbaik. Allah akan menempatakan mereka di dalam surga firdaus, bersama dengan Rasulullah Saw. dan nabi-nabi yang lain.

Akhlak para sahabat adalah cerminan dari akhlak Rasulullah Saw. Ketika mereka berdagang mencari nafkah, mereka meniatkannya untuk mencari ridha Allah Swt. Allah pun memberika keuntungan-keuntungan yang berlipat. Harta yang banyak tidak menghalangi mereka untuk bersyukur dan memuji kepada Allah. Mereka teguh dalam pendirian terhadap ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah, dan tidak merasa takut terhadap segala macam gangguan dan ancaman dari orang-orang yang memusuhinya. Mereka menuruti perintah Rasulullah untuk memberikan sebagian hartanya kepada kaum yang lemah. Terhadap kaum yang lemah, mereka ulurkan harta dengan penuh kasih dan cinta. Tiada sedikit pun rasa sombong dan berbangga diri, apalagi sampai meremehkan dan menghina mereka. Dan, tiada sedikit pun penyesalan atas apa yang mereka keluarkan di jalan Allah Swt, sebab keyakinan mereka telah kuat dengan janji Allah yang pasti terlaksana.

 

Allah berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian. (QS. Al-Munnafiqun [63]: 10)

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خُلَّةٌ وَلا شَفَاعَةٌ

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. (QS. Al-Baqarah [2]: 254)

 

Allah berfirman,

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS, Al-Baqarah [2]: 195)

 

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالأذَى كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا لا يَقْدِرُونَ عَلَى شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia, dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka, perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak mendapatkan (keuntungan sedikitpun) dari apa yang mereka usahakan. (QS. Al-Baqarah [2]: 264)

 

Wallah A’lam.

Share.

Leave A Reply