Bagaimanakah Gerakan Sujud Yang Benar Di Dalam Shalat?

0

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, wa alihi wa shohbihi wa man walah, wa ba’d. Gerakan sujud di dalam shalat, apakah kaki atau tangannya terlebih dahulu yang menyentuh lantai merupakan satu perkara dari perkara-perkara yang mendapatkan toleransi di dalam Islam. Seorang muslim hendaknya tidak boleh terlalu menyibukan diri dengan gambaran bentuk shalat yang akan berakibat mengalihkan fokus untuk mendapatkan khusu’ di dalam shalat. Karena khusu’, tadabbur, dan munajat adalah ruh shalat yang harus didapatkan oleh muslim yang menjalankannya.

Oleh karena itu janganlah kita bermusuhan dan saling menyalahkan karena perbedaan kecil ini. Seorang muslim yang akan melakukan sujud setelah i’tidal, baik yang mendahulukan kedua tangan atau kedua kakinya, telah dianggap melaksanakan shalat dengan benar, dengan berlandaskan pada ijma’ (kesepakatan para ulama).

Mayorita ulama diantaranya Abu Hanifah, as-Syafi’i, Ahmad, an-Nakho’i, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq, dan Muslim bin Yasar berpendapat untuk mendahulukan kedua lutut dari pada kedua tangan ketika akan melakukan gerakan sujud (al-majmu’ syarkhul muhadzzab, nihayatul muhtaj, al-mughni, al-inshof lil mawardi, kasyaful qonaa’).

Pendapat itu didasarkan pada hadits Wa’il bin Hujr. Beliau berkata, “aku melihat Rasulallah SAW ketika akan melakukan sujud, beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. Dan ketika akan berdiri, beliau mengangkat kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR Abu Dawud).

Diriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqos rodliyallahu ‘anh, beliau bekata, “sesungguhnya kami ketika akan melakukan sujud meletakkan kedua tengan terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua lutut. Lalu kami diperintahkan untuk meletakkan kedua lutut terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangan”. (shohih Ibnu Huzaimah). Dari Anas rodliyallahu ‘anh beliau berkata, “aku melihat Rasulallah SAW melakukan takbirotul ihram, dan ketika akan bersujud beliau mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan”. (HR ad-Daruqutni, dan al-Baihaqi).

Dari Abi Huroiroh rodliyallahu ‘anh dari nabi Muhammad SAW, beliau bersabda, “apabila salah seorang dari kalian bersujud, maka dahulukanlah kedua lutut sebelum kedua tangan, dan janganlah engkau meniru gerakan onta yang akan menjatuhkan diri ke lantai”. (al-Baihaqi). Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari Umar bin Khottob dan putranya rodliyallahu ‘anhuma. Dan Ibnu Qoyyim telah memilih pendapat ini. (zadul ma’ad).

Sedangkan Malik, al-Auza’i, Ahmad dalam suatu riwayat, dan para ulama ahli hadits memilih pendapat yang mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut ketika akan melakukan sujud di dalam shalat (syarkh mukhtashor al-kholil, majmu’ syarkhul muhadzzab, al-inshof, nailul author). Dan pendapat ini didasarkan pada hadits riwatat Abu Huroiroh rodliyallahu ‘anh, nabi Muhammad SAW bersabda, “apabila salah seorang dari kalian akan bersujud, maka janganlah seperi menirukan gerakan onta yang akan menurunkan tubuhnya ke tanah.

Letakkanlah kedua tangan kalian terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua lutut”. (HR Abu Dawud). Ibnu Hazm mengatakan bahwa wajib hukumnya bagi setiap orang yang mengerjakan shalat ketika akan bersujud, untuk meletakkan kedua tangan terlebih dahulu sebelum kedua lututnya. (al-muhalla, Ibnu Hazm).

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa yang lebih utama adalah mengikuti pendapat jumhur (mayoritas ulama) yang mengatakan mendahulukan kedua lutut sebelum kedua tangan. Karena yang diperintahkan kepada orang yang menjalankan shalat adalah sesuatu yang tidak memberatkan mereka.

Dan hendaknya kita tidak terlalu fanatik dengan pendapat kita, apalagi sampai menyelahkan pendapat orang lain. Imam an-Nawawi mengatakan bahwa kedua pendapat ini sama-sama memiliki landasan dan dasar yang kuat sehingga kami tidak bisa mengatakan bahwa pendapat yang satu lebih baik dari pada pendapat yang lain. (al-majmu’ syarkhul muhazzab). Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply