Bagaimanakah Cara Menyatukan Antara Hakekat Qodha’ Dengan Hadits-Hadits Yang Mengatakan Bahwa Do’a Bisa Menolak Qodha’

0

Bagaimanakah Cara Menyatukan Antara Hakekat Qodha’ Dengan Hadits-Hadits Yang Mengatakan Bahwa Do’a Bisa Menolak Qodha’. Tidak semestinya seorang muslim merasa kebingungan dengan pertentangan yang tampak diantara teks-teks syaraet -baik di dalam al-Qur’an maupun al-Hadits-. Do’a adalah satu bentuk ibadah yang memiliki pengaruh yang sangat besar. Allah SWT telah memerintahkan kita untuk berdo’a. Allah berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Berdo’alah kepada tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf: 55).

Iman kepada qodlo’ merupakan salah satu dari rukun iman yang enam. Do’a adalah ibadah dan diriwayatkan bahwa nabi Muhammad SAW sama sekali tidak pernah meningalkan do’a. Begitu banyak ujian Allah yang diangkat lantaran do’a yang dipanjatkan.

Barangsiapa yang meninggalkan do’a, maka ia telah menghalangi dirinya dari kebaikan-kebaikan yang banyak. Imam al-Ghozali telah menjelaskan banyak hal mengenai do’a ini. Beliau mengatakan, “jika engkau bertanya apa manfaat dari do’a padahal qodlo tidak bisa dirubah, maka ketahuilah, sesungguhnya ada qodlo yang berupa ujian yang dapat dihilangkan hanya dengan cara berdo’a”.

Do’a adalah cara terbaik untuk menolak musibah dan menurunkan rahmat, seperti halnya baju besi yang dapat menolak tembakan peluru dan dan seperti air yang menyuburkan tanaman. Dan bukanlah syarat dari keimanan seseorang terhadap qodlo, ia harus meninggalkan air untuk menyuburkan tanaman, atau tidak memakai baju besi dalam peperangan.

Beberapa hadits yang dianggap bertentangan dengan masalah qodlo’ dan qodar oleh sebagian orang Islam -yang sebenarnya saling bersesuaian bagi yang dapat memahaminya diantaranya:

  1. Hadits yang pertama. Nabi Muhammad SAW bersabda, “tidak ada yang bisa mencegah qodho’ kecuali do’a, dan tidak ada yang bisa memperpanjang umur kecuali berbakti kepada kedua orang tua” (HR Ahmad, at-Tirmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah, dan At-Thobrooni).

Mengenai hadits ini Mubarok Fauri menjelaskan bahwa qodlo’ adalah segala urusan yang telah ditetapkan oleh Allah. Tafsir hadits di atas adalah apabila seseorang berdo’a agar dihindarkan dari suatu musibah dan cobaan, dan cobaan itu memang tidak ada dalam taqdir Allah, maka do’a akan terkabul karena sesuai dengan qodho’. Hal itu disebut qodlo’ majazi.

Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk mencari obat dan berdo’a, sementara takdir Allah telah tetap dan tertulis. Sedangkan manusia tidak dapat mengetahui apakah ia akan terkena penyakit atau tidak.

Telah diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khottob sampai di Syam, ada sahabat yang berkata, “di Syam sedang ada wabah yang menjalar wahai Umar!”. Kemudian Umar pun kembali. Abu Ubadah lalu berkata pada Umar, “apakah engkau akan berlari dari qodlo’ waahai amirul mukminin!”, Umar berkata, “ya, kita akan berlari dari satu qodlo kepada qodlo Allah yang lain”. Ini adalah contoh menolak takdir yang pernah dilakukan oleh Umar.

Hadits lainnya diriwayatkan oleh Ibnu Umar rodliallahu ‘anh. Nabi bersabda, “do’a itu dapat memberikan manfaat”. Ibnu Umar mengatakan bahwa apabila seseorang berbakti kepada kedua orang tuanya maka ia sedang tidak menyianyiakan umurnya.

Jadi seolah-olah umurnya bertambah, atau dapat dikatakan bahwa jumlah amalan kebaikan itu yang menjadi sebab dipanjangkan umurnya -sebagaimana do’a juga menjadi sebab ditolaknya musibah dan malapetaka-.

Do’a untuk kedua orang tua dan sanak keluarga juga bisa memperpanjang umur. Maksudnya bahwa Allah akan memberikan keberkahan di dalam umurnya. Di dalam umurnya yang sedikit ia bisa melakukan berbagai amalan yang orang lain tidak dapat melakukannya.

Jadi yang dimaksud dengan tambahan umur di sini adalah tambahan secara majaz (tidak sebenarnya) -karena umur seseorang tidak mungkin bertambah-. At-Thibbi berkata, “ketahuilah! jika Allah telah menetapkan seseorang akan mati pada umur 60 tahun misalnya, maka ia tidak mungkin mati sebelum atau sesudahnya. Tidak mungkin umur akan bertambah atau berkurang.

  1. Hadits yang kedua Rasulullah SAW bersabda, “keinginan seseorang yang terjadi dengan nadzar merupakan takdir Allah. Sesungguhnya aku sedang meminta amalan dari orang yang pelit” (HR Ahmad dan Bukhori).

Menjelaskan hadits ini Imam Ibnu Hajar berkata, Imam al-Baidlowi mengatakan bahwa dulu ada kebiasaan manusia yang gemar menggantungkan nadzar pada tercapaianya suatu keinginan dan untuk mencegah terjadinya bahaya. Lalu nadzar dilarang, karena itu adalah perbuatan orang-orang yang bakhil (pelit).

Orang-orang yang dermawan ketika mereka akan mendekat kepada Allah, ia akan melakukan segala macam amalan-amalan yang dapat membawanya mendekat kepada Allah tanpa disertai permintaan atas keinginannya. Adapun orang yang bakhil hanya mau melakukan amalan dan ibadah apabila keinginannya telah terlaksana.

Pada hakekatnya nadzar tidak dapat mendatangkan manfaat atau mencegah datangnya bahaya. Namun terkadang nadzar sesuai dengan takdir yang telah tertulis. Ibnu ‘Arobi berkata, “nadzar sama dengan do’a, karena nadzar tidak bisa menolak takdir.

Bahkan nazdar adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan. Oleh sebab itu nazdar dilarang dan dianjurkan agar menggantinya dengan do’a. Hal ini karena do’a merupakan bentuk ibadah, dan di dalam do’a ada ekspresi menghadapnya hamba kepada Allah dengan sikap tadzorru, khudu’, dan khusu,’.

Berbeda dengan nazar yang mengandung perbuatan seseorang yang mengakhirkan ibadah sampai keinginannya tercapai dan meninggalkan amalan sampai pada kondisi yang memaksanya untuk beramal”.

Dari penjelasan singkat di atas, maka sekarang kita telah bisa menggabungkan antara hadits-hadits tentang do’a dengan aqidah (keyakinan) seorang muslim pada qodlo dan qodar Allah. Semoga Allah SWT senantiasa menganugerahkan kepada kita iman yang benar dan amalan-amalan yang baik. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

 

Share.

Leave A Reply