Bagaimana Hukum Mengeraskan Bacaan Dzikir?

0

Sedikit mengeraskan suara dzikir hukumnya sunnah menurut para ulama ahli fiqih. Firman Allah ta’ala,

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

Janganlah engkau terlalu mengeraskan suaramu di dalam shalatmu dan jangan pula terlalu merendahkan suaranya. Tetapi carilah jalan diantara keduanya (yaitu tidak terlalu keras dan tidak terlalu pelan). (QS. Al-isra’: 110).

Diriwayatkan dari Abi Qutadah rodliyallohu ‘anh, pada suatu hari Rasulullah SAW keluar di malam hari. Kemudian beliau melewati Abu Bakar yang tengah melakukan shalat malam dengan merendahkan bacaan suaranya. Kemudian beliau melewati Umar bin Khottob yang juga tengah melakukan shalat dengan mengeraskan bacaannya.

Ketika mereka berkumpul bersama nabi, nabi berkata, “wahai Abu Bakar! ketika aku melewatimu aku mendengar engkau merendahkan suaramu. Abu Bakar menjawab, “sesunggunya Allah maha mendengar wahai nabi!”, nabi berkata, “tinggikan sedikit suaramu wahai Abu Bakar!”. Lalu beliau berkata kepada Umar, “aku juga melewatimu dan mendengar ketika engkau shalat, engkau amat mengeraskan suaramu wahai Umar!”, Umar menjawab, “sesunggunya aku sedang mengusir syetan wahai nabi!”, nabi berkata, “rendahkan sedikit suaramu wahai Umar!”. (HR Abu Dawud, Ibnu Huzaimah, dan Thobroni).

Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa sunnah hukumnya meninggikan suara bacaan dzikir setelah selesai melakukan shalat fardlu. mereka berdalil dengan riwayat dari Ibnu Abbas rodliyallahu ‘anh, ia berkata, “aku mengetahui kapan nabi dan para sahabat selesai mengerjakan shalat, karena aku mendengar bacaan dzikir mereka”. (HR Bukhori, Muslim).

Mengeraskan bacaan dzikir sangat dianjurkan karena hal ini akan lebih memperdalam penghayatan makna yang tekandung dalam kalimat-kalimat dzikir. Disamping itu juga berguna untuk membangunkan hati-hati yang tidur (red: lupa) kepada Allah SWT.

Untuk menyatukan perbedaan pendapat para ulama dalam hal keutamaan berdzikir apakah dengan suara pelan atau suara keras, pengarang kitab muroqil falah mempunyai pendapat yang sangat bagus. Beliau mengatakan bahwa hal itu disesuaikan dengan keadaan masing-masing orang, situasi, waktu, dan tujuan. Ketika ia merasa khawatir tidak bisa menghindari sifat riya’, maka diutamakan untuk melakukan dzikir dan wirid dengan suara pelan. Namun jika yang dikhawatirkan tidak ada, maka lebih baik ia mengeraskan bacaan dzikir”.

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa mengeraskan suara dzikir dan wirid bukanlah perbutan bid’ah. Justru sebaliknya, dzikir dengan suara keras berfungsi untuk membangunkan hati-hati yang tidur (baca:lupa) kepada Allah, juga dapat meningkatkan fokus dan konsentrasi berdzikir. Wallahui ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

 

Share.

Leave A Reply