Bagaimana Hukum Memakai Cadar ?

0

Niqob adalah kain yang dipakai untuk menutupi wajah seorang perempuan. Mayoritas ulama berpendapat bahwa seluruh badan wanita adalah aurot bagi laki-laki kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Seorang wanita tidak dilarang untuk membuka wajah dan kedua tangannya, karena ia perlu untuk bergaul dengan laki-laki.

Disamping itu ia juga butuh bertransaksi dengan lawan jenis dengan memberi dan menerima menggunakan tangannya. Bahkan Imam Abu Hanifah rodliyallahu ‘anh membolehkan seorang wanita untuk membuka kedua kakinya. Beliau mengatakan bahwa Allah SWT melarang wanita untuk memperlihatkan perhiasannya dan mengecualikan apa yang tampak darinya, dan termasuk yang tampak darinya adalah kedua kaki.

Bagaimana hukum memakai cadar menurut Jumhur ulama ?

Madzhab Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa seluruh badan wanita adalah aurot bagi laki-laki yang bukan mahromnya. Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin hambal bahwa seorang laki-laki tidak boleh makan bersama dengan wanita yang bukan mahromnya, karena dengan begitu ia akan melihat telapak tangannya. Al-Qodli dari madzhab Hambali berkata, “seorang laki-laki diharamkan untuk melihat wanita dewasa yang bukan mahromnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya”.

Adapun dalil yang dijadikan landasan oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah firman Allah,

وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Janganlah para wanita menampakkan perhiasan mereka kecuali yang nampak darinya. (QS. An-Nur: 31).

Maksud dari ‘perhiasan’ pada ayat di atas adalah ‘tempat perhiasan’. Celak adalah perhiasan untuk wajah dan cincin adalah perhiasan untuk telapak tangan. Setelah menyebutkan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, al-A’masy berkata, dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas, wa laa yubdiina ziinatahunna ila maadzoharo minha, beliau mengatakan bahwa maksud dari zinah (perhiasan) wanita yang tampak adalah wajahnya, kedua telapak tangannya, dan cincin. (tafsir ibnu katsir).

Adapun dalil dari as-Sunah adalah hadits yang diriwayatkan oleh sayyidah Aisyah rodliyallhu ‘anha, beliau berkata, “ketika Asma’ binti Abu Bakar masuk ke rumah Rasulullah SAW, ia memakai pakaian yang tipis. Lalu nabi berpaling darinya seraya berkata, “wahai Asma’!, seorang perempuan apabila telah baligh, ia tidak boleh terlihat kecuali ini dan ini -menunjuk wajah dan telapak tangannya-”.(HR Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Imam al-Marghini -seorang ulama yang bermadzhab Hanafi- mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurot, kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. (al-Hidayah). Hal serupa juga dikatakan oleh ulama dari madzhab Maliki -Syekh Ibnu Kholaf-. Beliau mengatakan bahwa seluruh badan wanita adalah aurot kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. (al-muntaqo syarkhul muwatto’). Al-Qodli ‘Iyadl telah menukil dari Ibnu Hajar al-Haitami bahwasanya wanita tidak diharuskan untuk menutupi wajahnya menurut ijma’ ulama. (tuhfatul mukhtaj).

Permasalahan yang terkait dengan pakaian berhubungan erat dengan adat dan kebiasaan suatu masyarakat. Adat yang pantas dan berlaku di mesir pada saat ini adalah mengikuti pendapat mayoritas ulama, karena menutup wajah (memakai niqob) di zaman ini terlihat asing. Tindakan seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan memakai niqob justru akan menyebabkan prasangka yang buruk.

Adapun bagi masyarakat lain yang adatnya selaras dengan madzhab Hambali, para wanitanya diperbolehkan untuk mengikuti madzhab ini, karena ini sesuai dengan adat dan kebiasaanya yang berlaku di tempat itu -yaitu menutupi wajahnya dengan kain-.

Dan akhirnya kami ingin menguatkan pendapat jumhur ulama yaitu bolehnya membuka wajah dan membuka kedua telapak tangan dan menutupi anggota tubuh yang lain. Kami juga berpendapat, apabila penutup wajah itu merupakan tanda yang akan memecah belah persatuan umat Islam, maka hukumnya tidak lagi menjadi sunah atau boleh, tetapi berubah menjadi haram. Wallahu ta’ala a’la wa a’alam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

Share.

Leave A Reply