Bagaimana Hukum Isbal (Memanjangkan Baju atau Sarung) Di Dalam Syareat Islam?

0

Yang dimaksud dengan isbal adalah menjulurkan jubah atau sarung sampai menempel ke tanah. Pada zama nabi, memanjangkan sarung atau jubah merupakan ciri dan tanda orang-orang yang sombong. Dan sombong termasuk perbuatan dosa besar. Sombong termasuk penyakit hati yang akan merusak tatanan kehidupan. Oleh karena itu, para ulama mengatakan ‘maksiat yang mendatangkan rasa bersalah dan sikap tawadhu’ itu lebih utama dari pada ketaatan yang membuahkan rasa sombong’.

Jadi Bagimana Hukum Isbal ?

Perbuatan menjulurkan pakaian yang disertai rasa sombong pernah terjadi di masa nabi. Nabi Muhammad SAW bersabda, man jarro tsaubahu khuyalaa’ lam yandzurullahu ilaihi yaumal qiyaamah (barang siapa yang memanjangkan pakaiannya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat. Lalu Abu Bakar berkata, “sesunggunya ada bagian dari bajuku yang agak menjulur kebawah”, Rasulullah berkata, “innaka lasta tashna’ dzaalika khuyalaa’ (sesungguhnya engkau bukan orang yang melakukannya dengan sombong)”. (HR Bukhori, Muslim).

Memanjangkan pakaian dan menjulurkannya sampai ke tanah pada dasarnya tidak haram secara syar’i, namun perbuatan ini menjadi haram karena diniatkan untuk kesombongan. Tanda kesombongan yang ditunjukkan dengan cara menjulurkan pakaian adalah kebiasaan kaum pada zaman nabi Muhammad SAW. Para ulama telah bersepakat mengenai haramnya sikap sombong dan takabur, baik itu disrtai dengan tindakan menjulurkan pakaian atau tidak. Para ulama mengatakan bahwa apabila seseorang menjulurkan pakaiannya karena sombong, maka hukum memanjangkan pakaian akan menjadi haram. Akan tetapi apabila ia memanjangkan pakaian tanpa ada niat sombong, maka hukumnya tidak haram. Tetapi ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukumnya makruh, karena perbuatan ini menyerupai perbuatan orang-orang yang bersikap sombong.

Syekh al-Buwaiti mengatakan, “jika seseorang memanjangkan pakaiannya karena suatu kebutuhan seperti menutupi betis yang jelek dan tidak disertai perasaan sombong, maka hal itu dibolehkan. Imam Ahmad berkata bahwa memanjangkan pakaian dan selendang jika tidak dibarengi dengan kesombongan maka hukumnya tidak apa-apa. (kasyful qona’).

Imam as-Syaukani mengatakan, “pengkhususan hadits dengan menggunakan kata khuyala’ (sombong) dapat dipahami bahwa apabila seseorang melakukannya dengan tanpa niat sombong, maka ia tidak termasuk ke dalam ancaman nabi. Namun perbuatan itu dianggap tidak baik oleh sebagian ulama. Imam Nawawi mengatakan bahwa hal itu termasuk perbuatan yang dibenci sebagaimana dikatakan oleh imam Syafi’i. Imam al Bhuwayti mengatakan di dalam kitab muhtashor nya, bahwa tidak boleh memanjangkan pakaian di dalam shalat dan diluar shalat karena sombong. (nailul author). Sesungguhnya memanjangkan pakaian dengan tanpa kesombongan tidak apa-apa sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hambal. Dan keharamannya terletak pada kesombongannya meskipun tidak disertai dengan perbuatan menjulurkan pakaian.

Pada masa ini kebudayaan telah berubah. Bukanlah kebiasaan orang-orang yang sombong pada zaman ini dengah cara memanjangkan pakaian. Oleh karena itu memanjangkan pakaian pada saat ini tidak mungkin bisa diserupakan dengan orang-orang yang sombong. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan

 

Share.

Leave A Reply