Ayah Memaksa Putrinya Untuk Menikah Dengan Laki-Laki Yang Tidak Dicintainya, Bagaimana Hukumnya?

0

Sesungguhnya Islam memberikan hak selebar-lebarnya kepada laki-laki maupun perempuan untuk memilih pasangan yang ia sukai. Agama Islam sangat melarang adanya pemaksaan kehendak yang dilakukan oleh kedua orang tua kepada anak-anaknya.

Tanggung jawab orang tua di dalam pernikahan anaknya hanya sebatas menasehati dan mengarahkan. Mereka sama sekali tidak memiliki hak atau kewajiban untuk menjodohkan anak-anaknya dengan orang yang tidak mereka sukai.

Perkawinan adalah sesuatu yang amat pribadi, sehingga pemaksaan ayah atau ibu kepada anaknya untuk menikah dengan orang yang tidak ia sukai hukumnya haram. Hal itu termasuk perbuatan zhalim karena mengganggu hak-hak orang lain.

Di dalam agama Islam, seorang wanita memiliki kebebasan dan hak sepenuhnya untuk menikah dengan orang yang ia pilih. Ia juga berhak untuk menerima atau menolak laki-laki yang meminangnya.

Pernikahan tidak boleh dilakukan atas dasar ketidaksukaan apalagi kebencian. Sebab hal ini sangat bertentangan dengan unsur kasih sayang yang diperintahkan oleh Allah di dalam pernikahan.

Haramnya perbuatan ini didasarkan pada dalil-dalil syar’i dan perbuatan yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Sebelum Islam datang, praktek pemaksaan terhadap anak untuk menikah dengan orang yang tidak ia cintai pernah terjadi.

Dan setelah Islam datang, praktek ini ditentang oleh nabi Muhammad SAW. Ajaran Islam yang baru ini sekaligus menjadi ujian bagi hati-hati kaum yang beriman, apakah mereka akan menolak atau menerima dengan lapang dada atas syariat Islam -yang memuliakan wanita dan sangat menghormati hak dan pilihan wanita untuk menikah dengan laki-laki yang ia cintai-.Sehingga mereka dapat terlepas dari aturan dan budaya arab yang meremehkan dan menghina kaum wanita.

Rasulullah SAW bersabda, “seorang janda tidak boleh dinikahi kecuali setelah diajak bermusyawarah terlebih dahulu. Dan seorang perawan tidak boleh dinikahkan sebelum dimintakan izinnya. Para sahabat bertanya, ‘bagaimana kita mengetahui izinnya?’, nabi menjawab, ‘diamnya adalah izinnya’”. (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim)

Di hadits yang lain, diriwayatkan bahwa ada seorang wanita yang mendatangi nabi untuk mengadukan tindakan ayahnya yang memaksanya menikah dengan laki-laki yang tidak ia sukai. Lalu nabi membatalkannya. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).

Di hadits yang lain, diriwayatkan bahwa ada wanita yang akan dinikahkan dengan sepupunya, sementara ia tidak suka. Lalu ia meminta pendapat kepada nabi, dan beliau mengatakan, “yang akan menikah bukan ayahmu, menikahlah dengan orang yang engkau sukai”. (HR. An-Nasa’i)

Hadits lainnya, diriwayatkan oleh Khunsa’ binti Khudzam, ia berkata, “ayahku akan menjodohkanku dengan laki-laki yang tidak aku sukai, kemudian aku mendatangi Rasulullah SAW, lalu ia bersabda, “janganlah engkau (wahai ayah) untuk menikahkan anak perempuanmu, padahal ia tidak suka”. (HR. An-Nasa’i, Thabrani)

Ibnu Qoyyim berkata, “Siti Aisyah pernah bertanya kepada nabi tentang seorang wanita yang dinikahkan oleh ayahnya,’Apakah wanita itu berhak untuk dimintai keridloannya?’, ‘tentu saja’, jawab Rasulullah, ‘lalu bagaimana jika ia malu dan tidak menjawab?’, nabi berkata, ‘diam itulah tandanya, jika ia diam maka ia mau’”. Dan inilah fatwa yang kita ambil.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk meminta kerelaan seorang gadis dan melarang kedua orang tuanya untuk menikahkannya dengan tanpa izinnya. Nabi Muhammad SAW juga membolehkan bagi wanita yang dipaksa menikah untuk menyudahi pernikahannya,sehingga ia bisa menikah lagi dengan laki-laki yang ia sukai.

Sesungguhnya perhatian Islam dalam hal kebebasan memilih pasangan -baik laki-laki maupun perempuan- bertujuan untuk menekankan pentingnya prinsip dasar dalam pembentukan keluarga. Keluarga haruslah dibangun atas dasar kesepahaman dan hubungan yang harmonis.

Sebab keluarga adalah pondasi untuk membangun sebuah masyarakat. Apabila keluarganya baik, maka kehidupan masyarakatnya juga akan baik. Sehingga peradaban yang maju akan bisa terwujud.

Sebagaimana Islam memberikan kebebasan bagi wanita untuk memilih pasangan hidupnya, ia juga memiliki hak untuk mengakhiri hubungan pernikahan dengan suaminya jika terjadi hubungan yang tidak baik antara keduanya.

Islam membolehkan adanya perceraian demi kemaslahatan bersama. Pemahaman yang berkembang di dalam masyarakat awam adalah hanya laki-laki saja yang memiliki hak untuk mengakhiri hubungan pernikahan. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Wanita juga memiliki hak yang sama untuk mengakhiri perkawinan dengan syarat-syarat tertentu.

Agama Islam sangat memuliakan wanita. Islam memberikan hak bagi seorang wanita untuk memutuskan hubungan perkawinan jika terjadi ketidakharmonisan. Ada beberapa bentuk dan cara yang diberikan Islam kepada wanita untuk menyudahi pernikahan. Diantaranya, seorang wanita boleh mengajukan syarat tertentu kepada pihak laki-laki ketika akan melangsungkan pernikahan.

Apabila si laki-laki tidak memenuhi syaratnya, maka si wanita akan tertalak saat itu juga, dan ia berhak mendapatkan apa-apa yang menjadi haknya. Seorang wanita juga diperbolehkan untuk meminta cerai jika terjadi hal-hal yang membahayakannya, dan ia juga berhak mendapatkan hak-haknya kembali.

Seorang wanita juga memiliki hak khulu’. Yaitu hak untuk memisahkan diri dari suaminya dengan maksud mengakhiri pernikahan. Namun dalam hal ini ia tidak akan mendapatkan hak-haknya. Sebab ia hanya berkeinginan untuk mengakhiri hubungan pernikahan saja tanpa adanya sebab yang jelas.

Bukanlah perbuatan yang terpuji jika seorang wanita membebani mantan suaminya dengan kewajiban memenuhi hak-haknya. Oleh karena itu dalam hal ini pihak wanita tidak mendapatkan hak-haknya.

Dalil yang menunjukkan kebolehan wanita untuk mengakhiri pernikahan adalah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Ibnu ‘Abbas rodliyallahu ‘anh, ia berkata, “Mughits adalah seorang budak. Ia mengeluh kepada Rasulullah, wahai nabi! tolonglah aku agar aku bisa kembali kepada istriku Barirah, kemudian Rasulullah SAW berkata kepada Bariroh, bertakwalah engkau wahai Bariroh, sesungguhnya Mughits adalah suamimu. Ia adalah ayah dari anak-anakmu, Bariroh menjawab, apakah engkau memerintahkanku agar kembali kepada Mughits wahai Rasul?, tidak, ini bukan perintah, tapi aku hanya menasehati. Air mata Mughits pun mengalir. Lalu nabi berkata kepada Abbas, tidakkah engkau merasa takjub bagaimana dalamnya cinta Mughits kepada Bariroh, dan bencinya Bariroh kepada Mughits”. (HR. Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i).

Dari hadits di atas dapat kita pahami bahwa perkataan nabi itu bukanlah perintah, tetapi nabi memberikan kebebasan berkehendak kepada seorang istri untuk mengakhiri hubungan perkawinan. Bariroh memiliki hak untuk meninggalkan Mughits, karena ia telah menjadi wanita yang merdeka. Sedangkan Mughits masih seorang hamba sahaya.

Riwayat lainnya menceritakan, “bahwa istri Tsabit bin Qo’is datang kepada nabi dan berkata, Tsabit bukanlah orang yang buruk agama dan akhlaknya, tetapi aku tidak menyukainya’, kemudian nabi berkata, kembalikanlah kebun yang telah ia berikan kepadamu, ‘iya wahai nabi!. Kemudian ia mengembalikan kebunnya dan nabi memerintahkan Tsabit agar ia menceraikan istrinya”. (HR. Bukhari).

Inilah penjelasan singkat mengenai kebolehan seorang wanita untuk memilih pasangan hidupnya sendiri tanpa adanya paksaan dari orang tua. Dan sedikit penjelasan mengenai bagaimana Islam sangat menghormati keinginan wanita untuk dapat mengakhiri hubungan pernikahan dengan suaminya dalam kondisi-kondisi tertentu.

Agama Islam sangat melarang orang tua untuk menikahkan anak-anaknya dengan orang yang tidak mereka cintai. Dan si wanita boleh meminta suami untuk mengakhiri hubungan perkawinan dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas. Wallahu a’lam.

Prof. Dr. Ali Jum’ah, al-bayan

 

Share.

Leave A Reply