Apakah Islam Menghukum Mati Orang Yang Murtad?

0

Permasalahan hukuman mati bagi orang yang murtad mendapatkan perhatian khusus oleh dunia pemikiran barat. Orang barat menganggapnya sebagai hal yang rancu. Mereka mengira bahwa agama Islam memaksa orang-orang agar mau masuk Islam, dan mengira bahwa orang-orang Islam telah melupakan ajaran Islam yang memberikan kebebasan berkeyakinan yang tercermin dalam firman Allah, “tidak ada paksaan untuk memeluk agama apapun. Sesungguhnya antara petunjuk dan kesesatan itu telah jelas”. (QS. Al-Baqarah: 256).

Kita dapat melihat permasalahan hukuman mati bagi orang murtad dari dua hal. Yang pertama adalah hadits yang menyatakan, ‘halalnya darah seorang muslim jika ia meninggalkan agamanya lalu memecah belah kelompok’. (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim).

Dan yang kedua, ‘prakek syareat dan cara pelaksanaan hukuman ini, pada masa nabi dan pada masa khulafa’ur rosyidin’.

Pada masa nabi, kita dapat membaca sejarah bahwa nabi tidak membunuh Abdullah bin Ubay -sang pembesar munafiq-. Nabi juga tidak membunuh Dzulhuwaisarah at-Tamimi -orang yang berkata pada nabi, ‘berlakulah adil wahai nabi’,. Nabi juga tidak membunuh orang yang mengatakan padanya, ‘orang-orang mengatakan bahwa engkau melarang kemungkaran, tetapi mengapa engkau membiarkannya’,.

Nabi juga tidak membunuh seorang badui yang berkata, ‘sedekah ini tidak aku maksudkan untuk mencari ridlo Allah’, dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan yang menyakiti dan merendahkan nabi Muhammad SAW.

Sesungguhnya kata-kata yang diucapkan itu dapat membawa pelakukanya kepada kekafiran. Dengan berkata seperti itu, mereka telah dihukumi keluar dari agama Islam, karena yang mereka katakan itu mengandung pendustaan akan sifat amanah dan sifat adilnya nabi.

Keputusan nabi Muhammad SAW untuk tidak membunuh mereka membawa kemaslahatan yang besar pada masa hidup nabi maupun sesudah nabi wafat. Hikmahnya adalah orang-orang tidak lari dari nabi sebab mendengar nabi membunuh sahabat. Karena tingginya akhlak Muhammad, ia tidak mempergunakan kebolehan Allah untuk membunuh mereka.

Kebolehan untuk membunuh mereka telah disebutkan di dalam surat al-Ahzab. Allah berfirman, “sungguh jika orang-orang munafik, orang-orang yang memiliki penyakit di dalam hatinya, dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah tidak berhenti menyakitimu (Muhammad), niscaya Kami perintahkan engkau untuk memerangi mereka. Kemudian mereka tidak lagi menjadi tetanggamu di Madinah kecuali hanya sebentar dan dalam keadaan terlaknat. Dimana saja mereka dijumpai, mereka akan ditangkap dan dibunuh tanpa ampun”. (QS. al-Ahzab: 60-61).

Adapun pada masa khulafaurrosyidin -yaitu pada masa Umar bin Khottob- ada seseorang yang berkata kepada Umar, ‘wahai Umar, ada sekelompok orang Islam yang keluar dari agama Islam. Mereka masuk kedalam golongan orang-orang musyrik dan mereka ikut berperang bersama mereka’. Lalu Umar mengucapkan istirja’ (inna lillahii wa inna ilaihi rooji’uun). Sahabat Anas berkata, “apakah mereka wajib dibunuh?”, Umar menjawab, “aku akan mengajak mereka untuk bertaubat dan masuk Islam kembali. Apabila mereka enggan maka aku akan memenjarakan mereka”. (HR Al-Baihaqi). Riwayat ini menjelaskan bahwa Umar tidak memutuskan untuk membunuh mereka.

Peristiwa diatas mendorong para ulama fiqih untuk meneliti dan mencari bagaimana hukumnya membunuh orang murtad. Setelah penelitian yang panjang mereka menyimpulkan bahwa permasalahan hukuman mati bagi orang murtad tidaklah berhubungan dengan masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Dalil-dalil yang ada -baik dari al-Quran maupun al-Hadits- yang mengatakan agar orang yang keluar dari Islam itu dibunuh tidak dipahami hanya sebatas pada faktor keluarnya dari agama Islam. Keluar dari Islam bukanlah sebuah tindak kejahatan yang membenarkan tindakan hukuman mati kepadanya. Meskipun tetap saja keluar dari Islam adalah sebuah tindakan penghianatan besar kepada hukum agama dan undang-undang pemerintah Islam.

Syekh Saltut -mantan grend syekh universitas Al-Azhar Kairo Mesir mengatakan bahwa hukuman mati bagi orang yang murtad bukanlah hukum Islam. Beliau mengatakan bahwa hudud (hukuman tindak pidana) tidak bisa ditetapkan dengan hadits ahad (hadits yang hanya melewati satu jalur periwayatan).

Kekufuran seseorang tidak boleh menjadi alasan untuk dibunuh. Akan tetapi yang membolehkan dibunuhnya seseorang adalah karena ia memerangi kaum muslimin, menciptakan teror, dan menyebarkan fitnah.

Hukuman mati bagi kaum murtad tidak boleh dilakukan hanya sebatas alasan murtad. Akan tetapi mereka dihukum mati karena melakukan tindakan-tindakan lain selain kemurtadannya. Seperti melakukan tindakan memecah-belah kaum muslimin atau memaksa orang-orang muslim untuk menjadi murtad.

Itulah tindakan-tindakan yang termasuk dalam kategori memerangi agama Islam sebagaimana firman Allah, “dan segolongan ahli kitab berkata kepada sesamanya, berimanlah engkau atas apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada siang hari dan ingkarilah di waktu malam, agar mereka kembali kepada kekafiran”. (QS. Ali-Imron: 72).

Menguatkan hal itu syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menceritakan bahwa nabi telah menerima taubatnya sekelompok orang murtad, dan beliau memerintahkan untuk membunuh kelompok murtad lainnya.

Karena mereka yang dibunuh telah melakukan tindakan yang menyakiti dan menciptakan bahaya terhadap orang-orang Islam, seperti perintah nabi untuk membunuh Muqoyyis bin Hababah pada peristiwa fathul makkah. Hal ini karena disamping murtad ia juga membunuh dan mengambil harta-harta orang muslim, dan setelah itu ia tidak bertaubat.

Nabi juga memerintahkan untuk membunuh Quronain, ibnu Khotul, Ibnu Abi sarah. Selain murtad mereka juga membunuh, merampok, dan melakukan tindakan penipuan terhadap kaum muslimin.

Dari penjelasan diatas, maka jelas bahwa permasalahan hukuman mati terhadap orang yang murtad tidak pernah dipraktekkan sepanjang sejarah di zaman nabi maupun khulafaur rosyidin. Hukuman mati dilaksanakan jika orang murtad itu melakukan tindakan yang menyakiti umat Islam. Wallahu a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhan

Share.

Leave A Reply