Apakah Berlebih-Lebihan Dalam Memuji Rasulullah Itu Dilarang?

0

Bismillah, walhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala sayyidina Rasulillah, waalihi wa shohbihi wa man walah, wa ba’d. Allah SWT mengutus nabi Muhammad SAW ke jazirah Arab ketika masyarakat dan suku-sukunya saling bercerai-berai dan berperang. Pada saat itu tidak ada suatu payung pemersatu yang menjadikan mereka berkumpul dan bersaudara dibawahnya.

Dan ketika nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul, beliau menyeru dan mengajak kepada seluruh penduduk jazirah Arab untuk bersatu dibawah satu agama yaitu agama Islam. Karena Islam akan menyelamatkan mereka dari bahaya berpecah-belah dan gelapnya peperangan. Sebagian mereka ada yang beriman lalu mengikuti ajakan nabi, dan sebagian lainnya mengingkarinya. Dan diantara yang kafir dan ingkar kepada nabi adalah para penyair.

Para penyair yang kafir banyak membuat dan mempertontonkan syair-syair yang bertujuan menghina dan merendahkan nabi Muhammad SAW. Hal ini membuat penyair-penyair Islam tidak tinggal diam. Mereka membalasnya dengan membuat syair-syair yang berisi pujian-pujian mengenai kepribadian, kehormatan, dan kemuliaan nabi Muhammad SAW. Diantara penyair Islam itu adalah Hasan bin Tsabit. Diriwayatkan dari al-Barro’ bin ‘Azib rodliyallahu ‘anh, nabi Muhammad SAW berkata kepada Hasan, “lawan mereka!, sesungguhnya Jibril bersamamu”. (HR Bukhori, Muslim).

Pujian-pujian dari umat Islam kepada nabi Muhammad adalah bukti bahwa mereka mencintai nabinya, dan rasa cinta adalah satu pondasi dari beberapa pondasi iman kepada Allah SWT. Firman Allah,

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad), jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq. (QS. At-Taubah: 24).

Nabi Muhammad SAW bersabda, “tidak beriman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dicintainya dari pada orang tua dan anaknya”. (HR Bukhori). Nabi juga bersabda, “tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya dari pada anaknya, ayahnya, dan manusia semuanya”. (HR Muslim, an-Nasa’i).

Cinta kepada nabi Muhammad SAW adalah ekspresi cinta kepada Allah SWT. Barangsiapa yang mencintai raja, maka ia akan mencintai utusanya. Dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang membawa kebaikan kepada semua umat. Dialah yang menanggung tugas dan memikul beban berat untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada seluruh umat.

Allah SAW telah mensifati nabi-Nya dengn sifat yang menunjukkan kemuliaannya. Firman Allah,

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sungguh engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. (QS. Al-Qolam: 4).

Para ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pujian-pujian kepada nabi adalah syair-syair yang mengandung pujian dan sanjungan kepada nabi Muhammad SAW yang menceritakan sifat-sifatnya yang mulia -baik sifat yang berkaitan dengan anggota badan maupun hati-. Syair-syair ini adalah ungkapan rasa rindu seseoang yang ingin melihat dan berjumpa dengan nabi Muhammad SAW. Perasaannya selalu mendorongnya untuk pergi ke tempat-tempat yang suci yang berhubungan dengan nabi Muhammad SAW. Disamping itu syair-syair ini juga menceritakan mukjizat dan keistimewaan nabi Muhammad SAW, baik dari segi fisik maupun batin.

Syair-syair pujian kepada nabi Muhammad SAW dibuat dengan kejujuran hati dari para pengarangnya. Mereka tidak pernah membohongi diri mereka dengan mempercantik bait-baitnya tanpa penghayatan hati dan perasaan. Dan dengan syair-syair itu para penyair berharap mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Mekipun jutaan syair telah keluar dari mulut dan pena para penyair, semua itu belum cukup untuk menggambarkan kesempurnan dan kemuliaan pribadi nabi Muhammad SAW.

Syekh al-Bajuri mengatakan di dalam pembukaan kitab al-burdah, “kesempurnaan nabi Muhammad SAW tidak terhitung dan kemuliaannya tidak terbatas. Karena begitu agungnya kemuliaan nabi Muhammad, para penyair tidak mampu menggambarkan hakekat kemuliaannya di dalam syair-syairnya. Allah sendiri telah memuji nabi Muhammad dengan pujian kemuliaan. Seandainya seluruh makhluk mulai dari nabi Adam sampai makhluk yang terakhir memuji-muji nabi Muhammad, semua itu tidak cukup untuk melukiskan hakekat keagungan sifat dan akhlak kekasih Allah, Muhammad SAW. (syarh baijuri ‘al al-burdah).

Setelah agama Islam berkembang luas tersebar ke seluruh penjuru dunia, syair dan pujian untuk nabi Muhammad terus keluar dari lidah-lidah para pencintanya. Akan tetapi sejak zaman jahiliyyah, nabi Muhammad juga telah disanjung-sanjung. Seseorang yang hidup di zaman nabi yang bernama Ummu Ma’bad telah memuji-muji nabi Muhammad dengan sifat yang mulia. Ia berkata kepada suaminya, “telah melewati kita seseorang yang wajahnya tersenyum, suaranya lembut, tidak tinggi dan tidak pendek, matanya memancarkan kasih sayang, jika berbicara terlihat kewibawaannya, jika diam tampak ketenangannya.

Memiliki muka yang paling bagus diantara para sahabatnya. Jika ia memerintah, maka para sahabat akan segera melaksanakannya, dan jika ia melarang, para sahabat akan segera meninggalkannya. Apabila aku melihatnya kembali, maka aku akan mengikutinya dan berusaha mentaati semua perintahnya”. (al-mu’jam at-Thobroni).

Banyak orang yang mengatakan bahwa syair-syair kenabian itu satu cabang ilmu tersendiri yang muncul setelah abad 7 Hijriah. Dan orang yang pertama kali menciptakan syair pujian untuk baginda nabi adalah al-Bushoiri dan Ibnu Daqiq al-‘Iid. Ini tidak benar, dan yang benar adalah syair-syair pujian kepada nabi Muhammad SAW telah ada sejak masa hidupnya. Diantara para penyair Islam yang hidup pada zaman nabi adalah Hasan bin Tsabit, Ka’b bin Malik, Ka’b bin Zuhair, dan Abdullah bin Rowahah.

Di dalam syareat Islam syair hukumnya boleh berlandaskan pada dalil bahwa nabi Muhammad menerima dan tidak menolak syair-syair yang dibuat oleh para penyair. Ketika Ka’b bin Zuhair bin Abi Salma melantunkan bait-bait syairnya dihadapan nabi, beliau memujinya bahkan memberinya sorban/selendang.

Diriwayatkan dari Khuraim bin Aus bin Haristah, beliau bekata, “ketika kami sedang bersama dengan nabi Muhammad SAW, Abbas bin Abdul Mutholib berkata kepada nabi, “wahai Rasulullah! sesungguhnya aku ingin memujimu”, lalu nabi berkata, “mana berikan!, Allah tidak akan melukai mulutmu”. Kemudian Abbas mulai memuji beliau, “ketika engkau dilahirkan, bumi dan langit menjadi terang benderang, dan karenamu kami berada dalam cahaya jalan yang lurus”. Hadits ini menunjukkan bahwa nabi Muhammad menyetujui perbuatan pamannya, dan tidak menolaknya. Dan ini termasuk dalil mengenai bolehnya hukum syair dan pujian kepada nabi Muhammad SAW.

Adapun hadits nabi yang mengatakan, laa tathruuni kama athrotin nashoorobna maryam, fa’innama ana ‘abduh, faquuluu ‘abdullah wa rasuuluh (HR Bukhori), artinya: “janganlah kalian memujiku sebagaimana orang-orang nasrani memuji nabi Isa. Sesungguhnya aku ini hamba-Nya, panggillah aku ‘hamba Allah dan Rasul-Nya”. Kata al-Ithro pada hadits di atas bermakna pujian yang tidak baik. Pujian orang nasrani tidak diperbolehkan karena mereka menganggap bahwa nabi Isa adalah tuhan atau anak tuhan (fathul bari, Ibnu Hajar). Hadits di atas menerangkan bahwa nabi tidak melarang pujian secara mutlak, tetapi nabi hanya melarang pujian yang berlebihan.

Nabi Muhammad SAW akan melarang orang yang memujinya dengan berlebihan yang sampai mensifatinya dengan sifat yang hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT. Pada zaman nabi ada seorang wanita yang berkata, “diantara kita ada nabi yang mengetahui apa yang akan terjadi esok”, lalu nabi berkata kepadanya, “janganlah engkau berkata seperti itu!”. (HR Bukhori, Abu Dawud). Sesungguhnya yang mengetahui hal-hal yang ghaib hanya Allah SWT, karena Rasulullah tidak mengetahui hal-hal yang ghaib kecuali yang telah diberitahukan-Nya.

Dan kumpulan syair yang bernama al-kawakib ad-durriyyah fi madhi khoiril bariyah yang lebih dikenal dengan sebutan al-burdah adalah kitab qoshidah yang paling bagus dan terkenal diantara umat Islam di seluruh penjuru dunia. Di dalam syair-syair ini pengarang menceritakan perjalanan hidup nabi Muhammad SAW dari lahir hingga wafatnya, mukjizat dan hal-hal yang luar biasa, serta keistimewaan-keistimewaan nabi Muhammad SAW.

Ada sebagian orang yang sangat gemar mencela qoshida burdah ini. Mereka mengatakan bahwa qoshidah ini terlalu berlebihan dalam memuji nabi Muhammad SAW. Kita akan menjawabnya, bahwa kalimat-kalimat yang keluar dari lidah orang-orang yang mengesakan Allah harus ditafsiri dengan makna-makna yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar tauhid. Kita tidak boleh menuduh seseorang dengan tuduhan kafir, fasik, sesat, atau ahli bid’ah tanpa bukti yang kuat. Islamnya seseorang adalah salah satu tanda yang kuat dimana kita tidak boleh menafsiri perkatan orang ini dengan makna dzohir -yang tampak dari kata-katanya-. Ini adalah kaidah umum yang harus dipegang oleh seorang muslim ketika mereka mendengar ungkapan-ungkapan yang keluar dari saudaranya sesama muslim.

Diantara contoh bait syair yang mereka anggap berlebih-lebihan adalah, Muhammadun sayyidul kaunaini watstsaqolain # walfariqoini min ‘urbin wa min ‘ajami (Muhammad adalah sayyid (tuan)nya manusia dan jin, dan juga tuannya orang arab dan orang non arab). Kita memahami bahwa makna yang dimaksud dari bait ini adalah menjelaskan kedudukan Rasulullah SAW bahwa beliau adalah sayyid (tuan) bangsa jin dan manusia. Dia adalah tuannya bangsa arab dan bangsa non arab. Dan mengenai hal ini para ulama Islam tidak berselisih pendapat, karena nabi Muhammad SAW bersabda, ana sayyidunnaasi yaumal qiyamah. (HR Bukhori Muslim), artinya: “aku adalah sayyidnya seluruh umat manusia pada har kiamat”.

Dan bait syair, yaa akromar rusli ma li man aludzu # siwaka ‘inda hululil haditsi (wahai Rasul yang termulia!, tidak ada yang aku mintai pertolongan kecuali dirimu pada hari kiamat nanti). Yang dimaksud dengan lafadz al-hadits pada syair di atas adalah hari kiamat. Semua manusia akan mencari para nabi untuk meminta syafa’at. Dikatakan di dalam hadits yaitu pada hari kiamat -ketika semua manusia berada dalam keadaan genting- mereka mencari syafa’at kepada para nabi. Mereka mendatangi nabi Adam, tetapi beliau tidak diberi wewenang oleh Allah untuk memberi syafa’at, lalu mereka mendatangi nabi Nuh, tetapi beliau juga tidak bisa.

Lalu mereka mendatangi nabi Ibrahim, tetapi beliau juga tidak bisa. Kemudian mereka mendatangi nabi Musa tetapi tidak bisa, lalu mereka mendatangi nabi Isa, tetapi tidak bisa. Lalu mereka mendatangi nabi Muhammad SAW, lalu nabi Muhammad SAW bersabda, “mereka semua mendatangiku, lalu aku meminta izin kepada Allah, lalu aku bisa melihat Allah kemudian aku bersujud kepada-Nya. Lalu Allah SWT berkata, “angkatlah kepalamu dan mintalah apa saja!, maka permintaanmu akan didengar. Mintalah! maka engkau akan diberi, berilah syafa’at kepada siapa saja yang engkau kehendaki!, maka orang itu pasti akan mendapatkan syafa’at”.

Lalu aku mengangkat kepalaku kemudian aku memuji-muji tuhanku dengan puji-pujian yang telah Ia ajarkan kepadaku, lalu aku memberi syafa’at. Aku mengeluarkan banyak orang dari neraka, lalu aku memasukan mereka ke dalam surga. Kemudian aku kembali bersujud kepada Allah, dan Allah berkata, “Hai Muhammad!, berkatalah maka engkau akan didengar, mintalah maka engkau akan diberi. Berilah syafa’at kepada siapa saja yang engkau kehendaki!”. Lalu aku mengangkat kepalaku dan aku memuji Allah dengan pujian-pujian yang diajarkan kepadaku, kemudian aku memberi syafaat, aku keluarkan banyak orang dari neraka dan aku masukkan mereka ke dalam surga, dan begitu seterusnya” .(shohih Muslim).

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa pujian kepada nabi Muhammad SAW adalah ibadah yang mulia. Melantunkannya di masjid akan mendatangkan pahala yang besar.

Tuduhan sebagian orang yang mengatakan bahwa syair-syair pujian nabi itu berlebihan adalah tuduhan yang batil. Sesungguhnya jika kita mengetahui makna dan maksud dari syair itu, tentu perasan kita akan terbawa untuk mencintai nabi Muhammad SAW. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

 

Syekh Ali Jum’ah, Al-bayan

Share.

Leave A Reply