Apakah Agama Islam Menganjurkan Seorang Murid Untuk Mencium Tangan Gurunya?

0

Cara menghormati seseorang kepada orang lain berbeda-beda menurut budaya dan adat masing-masing. Di negara-negara Arab, kita menyaksikan anak-anak muda yang mencium hidung ayahnya sebagai bentuk ungkapan rasa hormat kepadanya. Dan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang alim, mereka mencium kepalanya. Hukum asal tindakan itu semua adalah boleh di dalam agama Islam.

Agama Islam membolehkan tindakan seseorang yang mencium tangan seorang alim yang wira’i. Disamping itu Islam juga membolehkan mencium seorang pemimpin yang adil, kedua orang tua, guru, dan setiap orang yang berhak untuk dihormati dan diagungkan.

Dari Ibnu Umar rodliyallahu ‘anh ia berkata, “pada suatu hari aku berada di medan peperangan bersama dengan nabi Muhammad SAW”, lalu menuturkan kisahnya sampai ia berkata, “kemudian kami mendekat kepada nabi dan kami mencium tangannya”. (HR Abu Dawud dan al-Baihaqi).

Para ulama ahli fiqih telah bersepakat mengenai ketidakharaman mencium tangan orang yang alim yang soleh. Kebanyakan mereka justru menyatakan kesunahan dan kebolehannya. Ulama madzhab Hanafi berpendapat bolehnya mencium tangan orang alim untuk tujuan mengharap berkah.

Imam al-Khaskafi al-Hanafi mengatakan bahwa tidak apa-apa hukumnya mencium tangan seorang yang alim dan orang yang wira’i karena tujuan mendapatkan barokah. Beliau juga mengatakan bahwa mencium tangan seorang pejabat pemerintah yang adil juga diperbolehkan. (ad-dur al-mukhtar).

Ibnu Najim mengatakan bahwa mencium tangan seorang alim dan pejabat pemerintahan/pemimpin yang adil hukumnya tidak apa-apa. Diriwayatkan dari Sufyan, ia berkata, “mencium tangan seorang alim dan pemimpin yang adil hukumnya sunah. (al-bakhrur roiq).

Adapun para ulama yang bermadzhab Maliki juga berpendapat bolehnya mencium tangan seorang alim. Imam an-Nafrowi mengatakan, “diantara dalil yang membolehkan mencium tangan ulama adalah kisah tentang seorang arab yang berkata kepada nabi, “tunjukkanlah kepadaku kekuasaan Allah!”, lalu nabi berkata, “pergilah menuju pohon itu! (seraya menunjukkan pohonnya) kemudian berkatalah padanya bahwa nabi Muhammad memanggilmu”.

Peristiwa yang menakjubkanpun terjadi. Pohon itu melenggak-lenggok berjalan menuju ke arah nabi, lalu berkata kepadanya, “assalamu’alaika ya rasulallah!”. Lalu nabi berkata kepada orang itu, “sekarang katakanlah padanya ‘kembalilah!’”, lalu pohon itupun kembali. Orang itu kemudian mencium tangan dan kaki nabi Muhammad SAW dan ia menyatakan diri untuk masuk Islam.

Beliau juga mengatakan bahwa para sahabat juga mencium tangan nabi Muhammad. Dan diantara para sahabat juga saling mencium tangan. Dan Inilah yang menjadi pendapat madzhab Maliki. (al-fawaaqih ad-diwaani).

Sementara para ulama yang bermadzhab Syafi’i mengatakan kesunahan mencium tangan ulama dan mencium tangan orang-orang yang memiliki keutamaan (red: dalam ilmu agama). Imam Nawawi mengatakan, “disunahkan untuk menghormati seseorang yang baru datang dengan berdiri, jika orang itu adalah seorang yang alim, wira’i, soleh, dan memiliki kemuliaan.

Dan hendaknya ia berdiri dengan tujuan untuk menghormati, bukan untuk tujuan riya’. Adapun mencium tangan seseorang karena kekayaan, dunia, dan kekuasaannya hukumnya sangat makruh. Imam al-Mutawalli bahkan mengatakan keharamannya”. (al-majmu’).

Imam Zakariya al-Ansori mengatakan, “disunahkan untuk mencium tangan orang yang soleh, orang-orang ahli agama, orang zuhud, dan ahli ilmu, sebagaimana para sahabat juga mencium tangan nabi Muhammad SAW, berdasarkan riwayat Abu Dawud dengan sanad yang sohih. Dan makruh hukumnya apabila ia mencium karena sebab kekayaannya atau urusan lain yang berkaitan dengan keduniaan”. (asnal matholib).

Ibnu Qosim al-‘Ibadi mengatakan, “disunahkan mencium tangan orang soleh sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasulullah SAW. Dan makruh hukumnya apabila ia mencium karena sebab kekayaannya dan yang semisalnya. Dan disunahkan untuk berdiri untuk menghormati orang yang memiliki kemuliyaan yang tidak ada maksud riya’atau sombong”. (khasyiyatu ibnu qoshim al-‘ibadi).

Adapun para ulama yang bermadzhab Hambali memiliki pendapat yang sama dengan ulama madzhab sebelumnya. Ibnu Muflih mengatakan bahwa mencium tangan seorang alim yang mulia dan pemimpin yang adil itu hukumnya boleh. (al-adab as-syar’iyyah). Imam as-Safarini mengatakan, “hendaknya seorang murid berlebih-lebihan dalam bersikap tawadhu’ kepada seorang alim. Ekspresi dari sikap tawadhu’ ini dilakukan dengan mencium tangan sang alim”.

Beliau juga mengatakan bahwa apabila seseorang mencium orang lain karena kekayaannya, sesungguhnya telah diriwayatkan man tawadlo’a lighinaahu faqod dzahaba tsulutsa diinihi (barang siapa yang bersikap tawadhu’kepada seseorang karena kekayaannya, maka hilanglah 1/3 bagian dari agamannya). (ghodza’ul albaab).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mencium tangan orang alim yang soleh itu hukumnya sunah. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak pendapat ini. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

 

Share.

Leave A Reply