Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Murid Apabila Tidak Menemukan Guru Tarekat

0

Apa Yang Harus Dilakukan Oleh Murid Apabila Tidak Menemukan Guru Tarekat. Ada dua macam bentuk ‘ketiadaan seorang syekh’, yaitu ketiadaan nisbi dan ketiadaan kulli (menyeluruh). Ketiadaan nisbi maksudnya adalah bahwa syekh itu ada di dunia ini, namun sang murid belum menemukannya. Misalnya seorang syekh itu ada, tetapi di negara lain, sehingga seorang murid tidak mungkin bertemu dengannya.

Adapun ketiadaan kulli maksudnya adalah seorang guru memang tidak ada di dunia ini. Allah SWT telah mengambil semua guru yang ada. Mari kita memohohon kepada Allah SWT agar mencabut nyawa kita sebelum datangnya zaman tidak adanya guru. Amiin.

Apabila sang murid belum menemukan guru sejati, ia harus berusaha keras untuk mencarinya. Apabila ia mengetahui bahwa di daerah lain ada seorang guru yang terpercaya, sebaiknya ia pergi ke daerah yang ditempati oleh mursyid tersebut.

Dan apabila memang benar-benar tidak ada guru sama sekali, lalu apa yang akan kita lakukan?. Para ulama telah membahas masalah ini, dan salah seorang dari mereka telah mengarang sebuah kitab yang berjudul hidayatu robbi ‘inda faqdil murabbi (hidayah Allah ketika guru telah tiada). Kitab berisi anjuran agar kita tetap terus berusaha mencari dan menemukan guru.

Dan apabila tetap tidak ditemukan, sang murid tidak boleh diam saja. Apabila murid tidak menemukan guru, hendaknya ia mengikuti kebaikan-kebaikan yang dianjurkan oleh nabi Muhammad SAW. Beliaulah sang panutan yang mengajari kita tata cara beretika, beradab, dan bersopan santun kepada Allah SWT.

Dan cara yang paling mudah untuk menciptakan hubungan dengan nabi Muhammad SAW adalah dengan memperbanyak membaca shalawat. Sesungguhnya shalawat memiliki kemuliaan yang amat besar. Cahaya nabi Muhammad SAW jauh lebih utama dan sempurna dari cahaya alam mulk, malakut, rohimut, jabarut, dan lahut.

Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada nabi Muhammad SAW. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah, dan ucapkanlah salam kepadanya”.[1] Beberapa keutamaan shalawat diantaranya hati menjadi bersih, dosa-dosa akan diampuni, aib akan ditutup, dan segala urusan akan dimudahkan.

Setiap amalan manusia kadang diterima dan terkadang ditolak, kecuali shalawat. Shalawat dari setiap orang akan selalu diterima oleh Allah SWT, baik itu shalawatnya orang fasik maupun pelaku maksiat.

Shalawat kepada baginda nabi Muhammad SAW tidak memerlukan niat dan ikhlas, karena berhubungan langsung dengan nabi Muhammad SAW. Nabi SAW bersabda, “barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat (memberikan rahmat-Nya) sebanyak 10 kali”.[2]

Dalam hadits di atas tidak disyaratkan harus dengan ikhlas, takwa, ataupun maqom. Oleh karena itu, shalawat adalah cara terbaik untuk menarik diri menuju jalan Allah dalam keadaan apapun. Shalawat merupakan bagian dari dzikir.

Jalan menuju Allah pada hakekatnya hanya ada satu. Perbedaan itu ada karena ketidakpahaman sang murid. Oleh sebab itu, thoriqoh membutuhkan seorang murobbi (pendidik). Sang murobbi adalah seorang pewaris nabi. Sosok guru ini seakan-akan mencerminkan diri nabi Muhammad SAW.

Ia mampu mencerminkan akhlaq nabi, karena ia adalah kekasih yang dipilih. Dia adalah mursyid yang menjadi panutan. Dialah figur insan sempurna. Ia tidak akan marah kecuali karena Allah. Hatinya selalu tenang dengan berdzikir dan mengingat Allah. Ruhnya selalu ada bersama dengan Allah SWT.

Allah memberikan hidayah kepada banyak orang melalui tokoh ini. Barokah Allah SWT yang dianugerahkan pada orang ini mengalir kepada orang-orang di sekitarnya dan membuka pintu-pintu hati yang masih tertutup.

Terkadang kita menemukan murobbi, mursyid kamil (sempurna) yang mengetahui segala hal mengenai thoriqoh. Ia mengetahui tata cara yang baik untuk menuju Allah, maqom-maqom, dan cara mendidik murid-murid. Ada seorang mursyid kamil yang diberi anugerah oleh Allah mampu mengajak orang-orang menuju Allah tanpa ucapan atau lisan.

Saat ia duduk bersama banyak orang, mereka akan menjadi berfikir dan merenungkan kebesaran Allah SWT. Dengan melihat wajah mursyid saja, seorang murid dapat terketuk hatinya untuk melihat Allah SWT. Ia dapat merasakan nasehat, kasih sayang, kebenaran, dan kema’rifatan yang diajarkan oleh sang guru.

Wajah gurunya seolah-olah mampu melepaskan hati sang murid dari keburukan-keburukan dan menghiasinya dengan kebaikan-kebaikan. Hal ini menjadikannya siap untuk melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT.

Inilah gambaran maqom baginda Muhammad SAW. Ketika beliau melihat seseorang, seketika orang tersebut akan menjadi sahabat yang hatinya berhias dengan sifat-sifat yang mulia. Kita semua tunduk dan hormat kepada para sahabat karena sifat-sifat mulia mereka.

Sifat-sifat itu berasal dari sifat nabi Muhammad SAW yang menular kepada mereka melalui wajah dan penglihatannya. Ini adalah salah satu keistimewaan nabi Muhammad SAW. Inilah minhah robbaniyah (anugerah ilahi) yang diberikan kepada nabi-Nya dan diwarisi oleh orang yang paling bertaqwa diantara umatnya.

Disamping itu, ada seorang mursyid yang diberi karunia oleh Allah bisa mendidik para murid dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya bagaikan semilir angin penyejuk kalbu. Allah berhak memberikan karomah (kemuliaan) kepada wali-wali dikehendaki-Nya. Semoga Allah segera mempertemukan kita dengan mursyid yang sempurna. Amiin.

Syekh Ali Jum’ah, At-Thariq ila Allah

[1]               Surat Al-Ahzab ayat 56

[2]               Hadits riwayat Muslim

Share.

Leave A Reply