Apa Itu Hakikat Ibadah Kepada Allah?

0

Allah berfirman,

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan. Tetapi kebaikan adalah beriman kepada Allah, iman kepada hari kemudian, iman kepada malaikat-malaikat, iman kepada kitab-kitab, dan iman kepada nabi-nabi.

Juga memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), orang-orang yang meminta-minta, orang yang (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dalam peperangan. Mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 177).

#MAKNA UMUM

Ketika Allah memerintahkan nabi Muhammad dan kaum muslimin untuk memindahkan kiblat mereka dari Baitul Makdis menuju Ka’bah, orang-orang yahudi mencibir mereka. Dan pada saat kaum muslimin membutuhkan alasan untuk menjawab cibiran orang-orang yahudi, Allah menurunkan ayat di atas. Ayat ini menunjukkan bahwa hakikat ibadah kepada Allah tidak terletak pada arah yang dituju, akan tetapi hakekat ibadah adalah:

  1. Di dalam Iman kepada Allah dan sifat-sifat-Nya dengan keyakinan yang membuat hati dan badan menjadi khusu’. Di dalam iman kepada hari akhir dan apa-apa yang ada di dalamnya baik itu hari kebangkitan, hari perhitungan amal, maupun hari pembalasan dengan keyakinan yang menyebabkan seseorang bersiap-siap untuk menghadapinya.

Dan beriman kepada malaikat dengan keimanan yang global maupun terperinci, serta meyakini bahwa mereka adaah hamba-hamba Allah yang mulia yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya. Para malaikat selalu melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah kepada mereka. Juga beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul yang telah disebutkan secara terperinci di dalam Al-Qur’an, dengan tanpa membedakan antara rasul yang satu dengan rasul yang lain.

  1. Seorang mukmin hendaknya segera menginfakkan harta yang paling dicintainya untuk orang-orang yang membutuhkan, baik itu anak-anak yatim, dan orang-orang miskin yang tidak meminta-minta atau para peminta-peminta.

Juga disertai dengan sikap menepati janji dan sabar menerima musibah dalam peperangan yang sengit dan segala kondisi yang membutuhkan kesabaran. Sesungguhnya orang-orang yang bisa mengumpulkan antara akidah, ibadah, dan amal di dalam dirinya akan naik ke maqam shiddiqiin (orang-orang yang benar) di dalam iman dan amalnya.

Allah berfirman,

أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 4).

# PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK

  1. Ketaatan kepada Allah bukanlah hanya sebatas pengakuan atau gerakan-gerakan tanpa ruh dan makna, akan tetapi ketaatan adalah kesatuan antara akidah yang benar, ibadah yang ikhlas, dan amal saleh.
  1. Hendaknya manusia tidak terlalu menyibukkan diri dengan zaahir ibadah, namun ia juga harus memperhatikan hati dan inti ibadah. Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk dan badan manusia, tetapi Allah melihat pada hati dan amal mereka.

Baca Juga : Segala Pujian Dan Kekuasaan Hanya Milik Allah Swt (Tafsir Surah Al-Faatihah Ayat 1-4)

 

 

Share.

Leave A Reply