Apa Hukumnya Duduk-Duduk Dan Membaca Al-Qur’an Untuk Si Mayat Di Dalam Acara Ta’ziyah?

0

Ta’ziyah adalah perbuatan seseorang untuk menghibur orang yang terkena musibah atau orang yang ditinggal mati salah satu anggota keluarganya. Ta’ziyah dapat dilakukan dengan cara menghiburnya dengan janji pahala atau mendo’akan kepada si mayit dengan ampunan.

Tidak ada perbedan pendapat diantara para ulama mengenai kesunahan ta’ziyyah untuk orang yang terkena musibah. Adapun dalil kesunahannya adalah sabda nabi Muhammad SAW, man ‘azza mushoban falahu mitslu ajrihi (barang siapa yang berta’ziyah kepada orang yang terkena musibah maka ia mendapatkan pahala sama seperti pahala orang yang terkena musibah) (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

Sabda nabi Muhammad SAW, ma min mukminin yu’azzi akhohu bimushibatin, illa kasallahu min hilalil karomati yaumal qiyaamah (barang siapa yang melakukan ta’ziyah dan menghibur saudaranya, maka Allah akan memakaikan baju karomah untuknya pada hari kiamat) (HR Ibnu Majah).

Adapun mengenai perbuatan duduk-duduknya keluarga si mayit di suatu tempat untuk menerima ta’ziyah, para ulama berbeda pendapat. Sebagian ada yang memakruhkannya, karena hal ini dapat membangkitkan dan mengundang kesedihan bagi banyak orang, tetapi sebagain dari mereka membolehkannya. Seorang ulama yang bermadzhab Maliki -syekh Muhammad bin Muhammad- mengatakan bahwa tidak apa-apa hukumnya duduk-duduk untuk melakukan ta’ziyah.

Sayyidah Aisyah rodliyallahu ‘anha berkata, “ketika Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Tholib, dan Abdullah bin Rowahah wafat, nabi Muhammad SAW duduk-duduk di masjid dan wajahnya memancarkan kesedihan”. (HR Abu Dawud dan al-Hakim). Syekh al-Khithob al-Maliki mengatakan bahwa hadits ini banyak dijadikan dalil oleh para ulama yang membolehkan duduk-duduk dalam acara ta’ziyah, baik itu di masjid atau di tempat lain.

Imam Ibnu ‘Abidin mengatakan bahwa tidak apa-apa hukumnya duduk-duduk untuk berta’ziyyah di rumah orang yang sedang terkena musibah, selama tiga hari. (khasyiyah ibnu ‘abidiin).

Dari paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa tidak ada larangan duduk-duduk untuk melakukan ta’ziyah dengan diiringi bacaan al-Qur’an, baik di rumah orang yang sedang terkena musibah maupun di tempat lainnya, dengan syarat hal itu tidak mengundang kesedihan orang lain, tidak mengganggu tetangga karena kerasnya bacaan al-Qur’an, atau merugikan orang lain karena memenuhi jalanan dengan mendirikan tenda-tenda yang mengganggu hak-hak orang lain. Apabila kita bisa menghindari itu semua, maka boleh hukumnya duduk-duduk untuk melaksanakan ta’ziyah. Wallahu ta’ala a’la wa a’lam.

Syekh Ali Jum’ah, Al-Bayan Lima Yusyghilul Adzhaan

 

 

 

 

 

Share.

Leave A Reply