Allah Paling Tidak Senang Diduakan

0

Allah berfirman di dalam hadis qudsi,

أَنَا أغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشَرِكَهُ

Aku paling anti dengan persekutuan. Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang diniatkan untuk-Ku dan untuk yang lain, maka Aku akan tinggalkan orang itu dan apa yang disekutukannya.

Allah berfirman,

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

Dan tuhanmu adalah tuhan yang Mahaesa. Tidak ada tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah [2]: 163).

Ayat di atas menjelaskan tentang dua kaidah dasar keimanan. Kaidah yang pertama ditunjukkan dalam lafazh وَإِلهُكُم yang berarti bahwa yang disembah adalah tuhan yang satu. Sedangkan kaidah yang kedua adalah لاَ إِلَهَ إِلاّ هُوَ yang berarti tiada tuhan selain Dia. Dua kaidah ini berfungsi untuk menangkal sifat lupa manusia yang menjadikan mereka menyembah kepada tuhan-tuhan selain Allah.

Al-Qur’an mengatakan dengan jelas لاَ إِلَهَ إِلاّ هُوَ (tiada tuhan selain Dia), karena ketika manusia sedang lupa mereka akan memberikan sifat-sifat ketuhanan Allah untuk selain Allah atau memberikannya untuk Allah dan untuk tuhan-tuhan selain-Nya.

Al-Qur’an juga mengatakan لاَ إِلَهَ إِلاّ هُوَالرّحْمنُ الرّحِيْم (tiada tuhan melainkan Dia yang maha pengasih dan penyayang), yang berarti bahwa tiada tuhan selain Allah. Dan selain Allah itu adalah nikmat-nikmat Allah atau orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah Swt.

Oleh karena itu selama segala sesuatu selain Allah itu dikatakan sebagai nikmat atau orang-orang yang diberi nikmat maka janganlah engkau mengatakan bahwa nikmat atau orang-orang yang mendapatkan nikmat itu sebagai tuhan.

Ketika engkau meyakini bahwa Allah memiliki sekutu-sekutu maka engkau telah melelahkan dirimu dan engkau telah menyesatkan dirimu di dalam kesesatan yang nyata.

Allah berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja). Adakah kedua budak itu sama halnya? segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Az-Zumar [39]: 29).

Bayangkanlah seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh sepuluh tuan. Tentu ringan bagi hamba sahaya itu seandainya semua perintah mereka itu sama. Namun ini sungguh mustahil karena tentu saja setiap mereka memiliki perintah yang berbeda.

Tuan yang satu mengatakan ‘kemarilah’, tuan yang lain berkata ‘pergilah’. Tuan yang satu mengatakan ‘makanlah’, tuan yang lain mengatakan ‘tidurlah’. Seorang hamba sahaya yang dimiliki oleh banyak tuan hidupnya akan sengsara, karena pikiran tuan-tuannya tidak pernah sama. Mereka sering berselisih pendapat dalam urusan mereka.

Apabila ia sedang melaksanakan perintah seorang tuannya, maka tuan yang lain memerintahkan untuk menghentikannya, dan begitu seterusnya sehingga ia berada dalam kondisi yang sangat payah dan lelah.

Di sini seolah-olah Allah ingin menjelaskan kepada kita tentang perbedaan antara orang yang hanya tunduk kepada satu tuan dengan orang yang tunduk kepada banyak tuan dimana mereka akan berselisih dan berbeda pendapat dalam urusan-urusan mereka.

Orang yang hanya tunduk pada satu tuan akan ringan dan tidak kesulitan dalam menjalankan tugasnya. Sedangkan orang yang memiliki banyak tuan akan mengalami kondisi susah, bingung, dan lelah. Itu wajar karena tentu ia tidak mengerti bagaimana cara menggabungkan keinginan-keinginan tuannya yang berbeda-beda.

Apabila seorang tuan senang dengan pekerjaannya belum tentu tuan-tuan yang lain juga senang dengan pekerjaannya. Oleh karena itu selamanya Ia berada dalam kondisi yang melelahkan badan dan pikiran.

Hamba yang dimiliki oleh seorang tuan, ia tidak akan menerima perintah dan larangan kecuali dari seorang tuan saja. Oleh karena itu jika engkau besikap seperti itu wahai mukmin maka engkau akan ringan dalam menjalankan pekerjaanmu.

Karena tenaga dan pikiranmu hanya berfokus untuk memenuhi perintah dan larangan dari Allah saja. Jadi, di alam ini engkaulah yang menjadi tuannya karena di sini tidak ada yang bisa mengambil sifat penghambaanmu, karena penghambaanmu hanya tertuju kepada pemiliki alam semesta ini, Allah Swt.

Allah berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. (QS. An-Nisaa’ [4]: 36).

Sesungguhnya orang yang menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah, karena Allah telah berfirman bahwa Ia sangat anti dengan persekutuan dan Ia akan membiarkan orang itu bersama dengan sekutuannya. Orang itu tidak akan mendapatkan bagian dan keuntungan apapun dari Allah Swt. meski badan dan pikirannya lelah.

Kaidah dasar keimanan yang telah dipaparkan di atas mengandung pelajaran bahwa Allah Swt. ingin agar kalian mengetahui dan meyakini bahwa Allah adalah tuhan yang satu yang tiada sekutu baginya. Oleh karena itu ketika engkau meyakini bahwa Allah adalah tuhan yang satu yang tiada sekutu baginya maka engkau telah masuk ke dalam benteng yang aman.

Rasulullah Saw. bersabda,

أَشْهَدُ أنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ الله وَ أَنِّى رَسُوْلُ اللهِ، لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَكٍّ فِيْهِمَا إلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba yang bertemu dengan Allah dengan membawa keyakian -bahwa Allah adalah tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya- tanpa kerugaan sedikitpun kecuali ia akan masuk surga”. (HR. Muslim).

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa’ [4]: 48).

Perintah untuk tidak menyekutukan Allah dengan selain Allah bukanlah untuk kebaikan Allah, tetapi untuk kebaikan kalian sehingga tidak akan ada tuhan manusia di dalam umat manusia. Oleh karena itu tidak akan ada manusia yang terzalimi dan tidak akan ada manusia yang merasakan hidupnya hina dan sengsara karena harus tunduk dan patuh kepada orang yang berkuasa, orang kuat, orang pandai, atau orang kaya.

Allah Swt. telah memerintahkan kepada kita untuk tunduk kepada satu saja (baca: Allah), karena sesungguhnya ketertundukanmu kepada satu itu telah mencukupi ketertundukanmu kepada yang lain. Bekerjalah untuk satu saja maka pekerjaanmu itu telah mencukupi pekerjaan untuk yang lain. Oleh karena itu orang-orang yang beriman akan ringan hidupnya.

Jadi, iman telah mengajarkan kepada kita akan nilai kehormatan dan kemuliaan. Dari pada engkau merendahkan dirimu kepada banyak makhluk, maka sujudkanlah wajahmu kepada Zat yang menciptakan alam semesta raya dengan seluruh sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna Ia menciptakan kalian, dan penyembahan kalian kepada-Nya sama sekali tidak menambah kesempurnaan-Nya karena sifat-sifat-Nya telah sempurna sejak zaman azali.

Apa manfaat syahadatmu bagi Allah?!, sesungguhnya manfaat dari syahadatmu itu akan kembali kepadamu saja. Jadi, kemaslahatan dan manfaat dari pengakuan hamba akan keesaan Allah akan kembali kepada dirinya sendiri.

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi, Al-Ahadiits Al-Qudsiyah

Share.

Leave A Reply