Allah Menyuruhmu Mendekat kepada Nya – Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi

0

Allah Menyuruhmu Mendekat kepada Nya – Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi.

Allah berfirman di dalam hadis qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِي، وَأنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكُرُنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِيْ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِى مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ خَيْرٌ مِنْهُ، وَإنْ اقْتَرَبَ إليّ شِبْرًا تَقرّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ اقتَرَبَ إليّ ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإنْ أتَانِى يَمْشِى أتَيْتُهُ هَرْوَلَة.

Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku.

Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku.

Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku.

Dan apaila ia mengingat-Ku (menyebut nama-Ku) dalam suatu perkumpulan manusia, maka Aku akan menyebut namanya di dalam suatu perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulannya (baca: perkumpulan malaikat).

Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya se-hasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku se-hasta maka Aku akan mendekat kepadanya se-depa.

Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil.

(HR. Bukhari, Ahmad, Tirmidzi).

Allah SWT ingin mengingatkan kepada kita bahwa kunci itu berada di tangan kita.

Apabila kita memulai diri kita dengan ketaatan, maka Allah akan memberikan anugerah dan karunia-Nya tanpa batas.

Apabila kita mendekat kepada Allah maka Allah akan lebih mendekat kepada kita.

Dan apabila kita menjauh dari Allah maka Ia akan memanggil kita.

Allah SWT ingin agar kita mengerti bahwa Ia telah meletakkan kunci surga di tangan kita.

Di setiap tangan kita ada penunjuk jalan yang akan mengantarkan kita ke surga atau ke neraka.

Oleh karena itu apabila engkau memenuhi janji Allah maka Ia akan memenuhi janji-Nya. Jika engkau mengingat Allah maka Allah akan mengingatmu.

Jika engkau menolong Allah maka Allah akan menolongmu.

Allah berfirman,

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

Dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi janji-Ku kepada kalian; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk). (QS. Al-Baqarah [2]: 40).

Allah berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu. (QS. Al-Baqarah [2]: 152).

Allah berfirman,

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad [47]: 7).

Jadi hanya dengan modal iman, Allah akan mengencangkan tali kendalimu.

Apabila engkau mengharapkan agar Allah mendekat kepadamu se-hasta maka mendekatlah kepada-Nya se-jengkal.

Tali kendali itu ada di tanganmu sendiri.

Apabila engkau ingin agar Allah mendekat kepadamu se-depa maka mendekatlah kepada Allah se-hasta.

Dan apabila engkau menginginkan agar Allah mendekatmu dengan berlari maka mendekatlah kepada-Nya dengan berjalan. Jadi, seolah-olah Allah berkata kepada kita, ‘kalian beristirahlah Aku yang akan mendatangimu’.

Allah telah meminta kepadamu agar engkau hadir di hadapan-Nya lima kali dalam sehari.

Tetapi apakah Allah akan menolakmu jika engkau ingin hadir di hadapan-Nya kapan saja ?

tentu tidak,

justru Allah akan membuka pintu-Nya lebar-lebar.

Kapan saja engkau boleh berdiri dihadapan-Nya. Dan sesungguhnya Allah itu tidak membosankan bagi hamba-hamba-Nya.

Di dalam adatmu, jika engkau ingin menjumpai salah seorang pejabat negara misalnya, maka engkau harus terlebih dahulu meminta janji untuk bisa bertemu.

Dan adakalanya permintaannya ditolak dan adakalanya diterima. Jika permintaan janjinya diterima maka ia akan menentukan waktu dan tempatnya, dan terkadang pejabat itu akan menanyakan terlebih dahulu alasan apa yang melatar belakangi keinginanmu untuk bertemu.

Adapun Allah SWT dan Dia memiliki permisalan yang agung yang ada di langit dan di bumi- akan membuka pintu-Nya lebar-lebar di hadapan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mereka dapat bertemu dengan-Nya kapan dan dimana saja.

Jadi,

siapakah yang menentukan waktu pertemuannya dengan Allah?!,

tentu si mukmin itu sendiri. Allah SWT hanya menetukan lima waktu itu saja, adapun waktu selebihnya sepenuhnya ada di tanganmu.

Engkau dapat memanfaatkan waktu-waktu sisa itu untuk berdiri dihadapan Allah SWT.

Jadi seolah-olah Allah berkata kepadamu,

beristrirahatlah engkau karena Akulah yang akan berjalan kepadamu, karena dengan berlari kepada-Ku mungkin engkau akan lelah, tetapi Aku tidak akan lelah’.

Seolah-olah Allah tidak meminta apapun dari hamba-Nya selain hanya perasaan ingin bertemu dengan tuhannya.

Oleh karena itu masalahnya ada di tanganmu, ada di dalam keimananmu kepada Allah, dan di dalam keinginanmu untuk selalu mengadakan hubungan dengan Allah.

Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. (QS. Al-Maidah [5]: 54).

Ketika orang-orang yang beriman itu mencintai Allah maka Allah akan mencintai mereka dengan cinta yang lebih, dan mereka akan membalas cinta Alah itu dengan cinta yang berlebih pula dan Allah akan membalas cinta ini dengan cinta yang lebih besar lagi dan begitu seterusnya sampai mereka merasakan nilai cinta yang sebenarnya.

Dan cinta Allah tidak terbatas.

Setelah membaca ayat di atas kita mendapati bahwa cinta Allah disebutkan terlebih dahulu dari pada cintanya orang-orang yang beriman kepada Allah, yaitu di dalam ayat

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

Hal itu karena Allah telah mengetahui sebelumnya bahwa mereka akan berjalan menuju Allah, maka Allah mencintai mereka.

Oleh karena itu ketika mereka telah di datangkan, mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menjadikan mereka dicintai oleh Allah.

Pada saat engkau membaca Al-Qur’an engkau akan mendapatkan pengetahuan bahwa Allah mencintai beberapa golongan dari makhluk-Nya karena mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang menjadikan mereka dicintai oleh-Nya.

Allah berfirman,

وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah [2]: 195).

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah [2]: 222).

Allah berfirman,

فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Aali Imran [3]: 76).

Allah berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Aali Imran [3]: 146).

Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al-Maaidah [5]: 42).

Mereka semua adalah orang-orang yang berhak mendapatkan cinta dan rahmat Allah Swt. Oleh karena itu Allah berfirman,

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-A’raf [7]: 56).

Yang menetukan kedekatan seseorang dengan rahmat Allah itu adalah orang itu sendiri.

Apabila ia berbuat baik maka rahmat-Nya akan dekat dengannya.

Tali kendali sepenuhnya ada di tangannya.

Apabila engkau ingin agar rahmat Allah dekat denganmu maka jadilah orang baik.

Inilah anugerah dan kebaikan Allah SWT, Ia hendak memberikan karunia-Nya dengan syarat kita harus menjadi orang yang siap menerimanya, karena Allah hendak memberikan kenikmatan-Nya yang besar kepadamu.

Bacalah firman Allah,

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. (QS. Ibraahiim [14]: 7)

Bersyukur berasal dari hamba untuk tuhannya, sedangkan tambahan nikmat datang dari Allah kepada hamba-Nya.

Manusia ketika menghadapi segala persoalan dengan metode yang telah diajarkan Allah maka Ia Maha Asy-Syakuur (maha berterima kasih), karena Allah telah meridhai hamba yang berjalan di atas metode dan jalan-Nya.

Dan ketika Allah telah meridhai seseorang maka Ia akan memberikan tambahan kenikmatan yanng besar.

Allah berfirman,

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. mereka Itulah penghuni syurga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus [10] : 26).

Lafazh الحُسْنَى pada ayat di atas bermakna surga. Adapun lafazhالزّيَادَة sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya adalah melihat Allah.

Cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah terus-menerusnya limpahan anugerah dan rahmat-Nya kepada mereka.

Ini di dunia, adapun di akherat Allah akan menjumpai mereka sehingga mereka akan melihat-Nya dengan mata kepala.

Dan lafazh Az-Ziyadah (tambahan nikmat) yang dimaksud dengan ayat di atas adalah tambahan nikmat yang sesuai dengan sifat Allah Swt.

Allah berfirman,

إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلا كَرِيمًا

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS. An-Nisaa’ [4]: 31).

Ketika engkau berusaha menjauhi dosa-dosa besar maka Allah tidak hanya menghindarkanmu dari siksaan, tetapi Ia juga akan memasukkanmu kedalam tempat yang mulia.

Dan tempat yang mulia itu harus sesuai dengan siapa yang memasukkanmu ke dalamnya (baca: Allah). Apa itu tempat yang mulia yang diberikan kepada hamba-Nya dan bagaimana bentuknya?!.

Rasulullah SAW bersabda,

إذَا دَخَلَ أَهْلُ الجَنّةِ الْجَنَّةَ يَقُوْلُ اللهُ تبَارَكَ وتعَالَى: تُريدُوْنَ شَيئًا أزيْدُكُمْ؟، فيقُوْلُوْنَ: ألمْ تُبَيِّضْ وُجُوْهَنَا؟ ألَمْ تُدْخِلْنَاَ الْجَنّةَ وتُنْجِيْنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيُكْشَفُ الْحِجَابُ، فَمَا أعْطُوْا شيئًا أحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ

Apabila penduduk surga telah masuk ke dalam surga, Allah Swt. berkata kepada mereka, ‘apa lagi yang kalian minta maka akan Aku kabulkan?’, mereka menjawab, ‘bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami, menyelamatkan kami dari api neraka dan memasukkan kami ke dalam surga?’. Nabi berkata, “maka terbukalah hijab dan mereka baru merasakan bahwa semua nikmat yang mereka rasakan itu tidak ada yang melebihi nikmatnya memandang wajah Allah Swt.”. (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi).

Sebagian ulama mengatakan bahwa firman Allah,

فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ

Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 284).

Allah SWT menjadikan ampunan-Nya bergantung kepada hamba-Nya.

Apabila engkau ingin agar Allah mengampuni dosa-dosamu maka perbanyaklah kebaikan-kebaikanmu sampai Allah menghapus kejelekan-kejelekanmu dengan kebaikan itu.

Dan apabila engkau ingin agar Allah menyiksamu -tentu hal ini tidak diinginkan oleh seorangpun-maka engkau jangan melakukan kebaikan.

Hal ini membuka pemahaman kita bahwa ketika Allah meminta kita untuk beriman, Ia juga menyerahkan tali kendali sepenuhnya kepada kita.

Jadi,

dengan hanya beriman kepada Allah maka kita telah menerima dari-Nya hak dan kebebasan untuk memilih -yang baik atau buruk-.

Dan inilah salah satu bentuk kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Ketika engkau memanggil-Nya maka Ia akan menjawab,

ketika engkau menjadikan-Nya sebagai tujuan Ia akan melindungimu,

ketika engkau mencintai-Nya Ia akan mencintai-Mu,

ketika engkau mentaati-Nya Ia akan mencukupi segala kebutuhanmu,

ketika engkau memberikan sedekah dengan harta-Nya maka Ia akan membersihkan jiwamu dan mengampuni dosa-dosamu,

ketika engkau berpaling dari-Nya Ia akan memanggilmu, dan ketika engkau mendekati-Nya Ia akan memberikan hidayah-Nya kepadamu.

#Maksud lafazh ‘Adz-Dzhikr’

Tidak adanya penjelasan lebih lanjut yang menerangkan maksud lafazh dzikr di dalam hadis qudsi di atas, menjadikan adanya perselisihan pendapat di kalangan para ulama.

Imam Malik berpendapat,

apabila engkau menyembelih hewan yang dihalalkan Allah tetapi engkau tidak mengingat / mengucapkan nama Allah -baik disengaja maupun lupa- maka engkau tidak boleh memakannya’.

Adapun imam Abu Hanifah berpendapat,

jika engkau tidak mengatakan bismillah karena lupa maka makanlah, tetapi jika engkau sengaja tidak mengucapkan bismillah engkau tidak boleh memakannya’.

Adapun imam Syafi’i berpendapat,

selama yang menyembelih hewan itu seorang mukmin, baik ia mengucapkan bismillah atau tidak, baik karena lupa atau disengaja maka makanlah sembelihannya karena iman orang itu menjadi dzikirnya kepada Allah’.

Syeikh Mutawalli As-Sya’rawi, Al-Ahaadiits Al-Qudsiyah

Baca Juga : Mutiara Hikmah abuya Muhammad bin Alawi Al Maliki

 

Share.

Leave A Reply