Allah Maha Mengetahui

0

Allah Maha Mengetahui. Allah Swt telah mengatakan bahwa segala sesuatu meskipun itu kecil dan tidak terlihat oleh mata manusia, semua itu diketahui dan diperhitungkan oleh Allah di akhirat kelak. Setiap urusanmu wahai Muhammad dan urusan semua makluk diketahui oleh Allah, dan semuanya telah tertulis di catatan lauhul mahfuzh.

Sejak zaman azali, Allah Swt. mengetahui setiap perbuatan dan perkatan kita -baik yang telah lewat maupun yang akan terjadi di masa yang datang-. Dan malaikat akan mencatat setiap perbuatan itu beserta niatnya masing-masing, supaya menjadi bukti apabila seseorang yang akan dilemparkan ke dalam neraka meminta keadilan dan mendebat Allah Swt., juga menjadi bukti bahwa seseorang pantas masuk ke dalam surga.

Allah Swt. telah melimpahkan kepada sebagian makhluk-Nya anugerah kenikmatan cahaya ilahi sesuai dengan kadar usaha dan semangatnya. Dan jika Allah telah melimpahkan cahaya itu kepadamu maka janganlah engkau mengatakan bahwa itu berasal darimu, tetapi katakanlah ia berasal dari Zat yang mengetahui segala yang gaib. Atau ketika engkau melihat orang yang diberi anugerah cahaya ilahi janganlah engkau mengatakan bahwa orang itu mengetahui hal gaib karena ia adalah seorang wali Allah, tetapi katakanlah bahwa ia diberitahu oleh Allah tentang hal-hal yang gaib.

Sesuatu yang gaib adalah sesuatu yang tidak tampak dari pandangan manusia. Dan terkadang sesuatu yang menurut orang tertentu dianggap gaib, bagi orang lain hal itu tidak gaib. Oleh karena itu perkara gaib itu bersifat nisbi. Misalnya kakbah bagi orang yang pernah melihatnya bukan termasuk hal yang gaib, namun bagi orang yang belum pernah melihatnya baginya kakbah adalah barang gaib. Begitupula dengan rahasia-rahasia ilmu alam semesta, seperti ilmu grafitasi bumi, unsur plus minus di dalam aliran listrik, hembusan angin yang dapat menjatuhkan air yang ditampung oleh awan sehinga menghasilkan hujan, dan lain-lain. Itu semua adalah hal yang gaib (tidak diketahui) oleh banyak orang di zaman dahulu. Namun seiring berjalannya waktu, Allah berkehendak membuka rahasia-rahasia-Nya, sehingga hal-hal yang sebelumnya gaib tidak lagi menjadi gaib.

Jadi di alam semesta ini ada sebagian hal-hal gaib yang kemudian menjadi hal yang tidak gaib, baik didahului oleh penelitian yang panjang dan mendalam yang dilakukan oleh manusia atau muncul dan diketahui ketika melakukan proses penelitian yang sebenarnya itu bukanlah tujuan dari penelitian itu. Terkadang seorang peneliti ingin meneliti suatu hal tetapi Allah menghendakinya menemukan hal-hal lain diluar rencananya. Hal itu karena Allah telah mengijinkan sesuatu yang gaib itu muncul meskipun manusia tidak ingin memunculkannya. Dan rahasia-rahasia Allah yang terkuak secara tiba-tiba lebih banyak dari pada yang didahului dengan penelitian sebelumnya dengan tujuan agar kita paham bahwa itu semua adalah semata-mata anugerah Allah yang Mahaesa yang kemunculannya tidak bergantung kepada usaha dan kehendak manusia -tetapi bergantung pada kehendak Allah Swt.-.

Disamping itu ada hal-hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah dan tidak mungkin ada upaya dan penelitian yang mampu mengantarkannya pada penemuan hal gaib itu karena Allah tidak berkehendak untuk memunculkannya.

Allah berfirman,

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (٥٩)

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al-An’aam [6]: 59).

Dari ayat di atas kita dapat memahami bahwa Allah tidak memberikan kunci kegaiban kepada seorangpun, dan Allah adalah Zat yang maha mengetahui kemutlakan ilmu. Adapun hal gaib yang telah dibuka oleh Allah Ia berfiman,

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ (٢٥٥)

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 255).

Maksud ayat illaa bimaa syaa’ (dengan apa yang dikehendaki) di atas adalah izin dari Allah bahwa Ia akan memberikan anugerah-Nya kepada sebagian makhluk-Nya dengan memberikan pengetahuan mengenai hal-hal yang gaib -dimana pengetahuan ini sebelumnya tertutup dan tersembunyi- lalu dengan izin-Nya Ia menampakkan rahasia-rahasia-Nya.

Segala sesuatu yang ditemukan dan disingkap oleh akal manusia pada awalnya berada di alam gaib. Dan setelah beberapa waktu Allah mengizinkan rahasia-rahasia itu muncul sehingga manusia akan mengetahui dan melihatnya.

Allah berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ (٢٧)

(Ia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib. Ia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. (QS. Al-Jinn [72]: 26-27).

Allah Swt. adalah tuhan yang mengetahui alam gaib. Ia tidak mempelihatkan hal-hal yang gaib kecuali kepada orang yang diridloi dan dipilihnya karena Ia berhak melimpahkan ilmu kegaibah kepada sebagian hamba-hamba-Nya.

Allah Swt. telah melimpahkan karunia yang sangat besar kepada utusan-Nya, nabi Muhammad Saw. Dan Rasulullah Saw. adalah sang panutan bagi umatnya. Barangsiapa yang mencontoh prilaku Rasulullah Saw. dan mengikuti jejak hidupnya maka Allah akan memberikan limpahan karunia yang bisa dilihat oleh banyak orang, sehingga orang-orang akan mengetahui bahwa orang yang benar-benar mengikuti manhaj (metode) Rasulullah Saw. di dalam hidupnya dan menjadikannya sebagai suri tauladan yang baik maka Allah akan menganugerahkan cahaya-cahaya ilahi kepadanya.

Allah Swt. ketika berkehendak untuk menampakkan rahasia-rahasia-Nya kepada sebagian makhluk pilihannya, Ia akan menjaga dan melindunginya dengan beberapa malaikat yang akan menjauhkannya dari bisikan syetan. Sehingga apa yang diilhamkan oleh Allah kepada mereka memang murni dari Allah dan tidak tercampur dengan tipu daya jin dan bisikan iblis.

Wali-wali Allah Swt. adalah orang-orang yang diaunugerahi limpahan anugerah cahaya-cahaya ilahi. Dan ketika kita membaca firman Allah,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٦٢)

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Yuunus [10]: 62).

Kita akan menemukan lafazh awliyaa’ (wali-wali Allah) yang dalam bahasa arab berarti orang yang dekat dengan Allah. Bagi mereka, Allah adalah satu-satunya Zat yang menjadi sandaran dan tempat meminta pertolongan, dan Allah pasti akan menjadi penolong dan pelindung mereka karena mereka telah menjadi kekasih-Nya.

Barangsiapa yang mendekat kepada sorang ‘alim maka ia akan mengambil darinya sebagian dari ilmunya. Dan barangsiapa yang mendekat kepada orang yang kuat maka ia akan memanfaatkan sebagian dari kekuatannya. Barangsiapa yang mendekat kepada orang kaya maka ketika sedang membutuhkan ia akan mendapatkan manfaat dari kekayaannya yang mungkin si kaya itu akan memberinya atau meminjamkannya.

Jadi wali artinya adalah orang yang dekat, yang melindungi, dan yang menolong. Dan terkadang waliy dikatakan untuk menyebut nama Allah Swt.

Allah berfirman,

فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ (٩)

Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya). (QS. Asy-Syuuraa [42]: 9).

Hal itu karena Allah dekat dengan semua makhluk-Nya. Ini berbeda dengan makhluk-makhluk-Nya yang terkadang saling berdekatan dan terkadang saling berjauhan. Allah adalah waliy muthlaq (Zat yang selalu dekat dengan semua makhluk-Nya), dan kedekatan-Nya kepada sebagian makluk tidak menghalangi-Nya untuk berdekatan dengan makhluk lainnya.

Allah berfirman,

هُنَالِكَ الْوَلايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ (٤٤)

Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang hak. (QS. Al-Kahfi [18]: 44).

Barangsiapa yang menghendaki perlindungan Allah maka hendaknya ia mendekat kepada-Nya. Allah akan melimpahkan wilayah (perlindungan) kepada orang-orang yang petuh dan mengikuti manhaj (aturan)-Nya. Sesungguhnya Allah Swt. dekat dengan orang-orang mukmin, begitu pula orang-orang mukmin juga dekat dengan Allah Swt. Dan perlindungan itu mutlak hanya milik Allah Swt.

Allah Swt. tidak diatur oleh suatu aturan. Dengan sifat kemahakuasaan-Nya, jika Ia melihat ada suatu kebaikan di dalam diri seseorang maka Ia akan memuliakannya dahulu, sehingga pada akhirnya ia akan menjadi hamba yang bertakwa. Engkau pasti pernah mendengar ada seorang ahli maksiat yang tidak pernah melakukan suatu kebaikan, tetapi kemudian Allah memuliakannya karena melakukan satu kebaikan, yang kemudian satu kebaikan itu memberinya hidayah.

Barangsiapa yang mengikuti manhaj Allah maka ia akan mendapatkan cahaya ilahi. Apabila Allah melihat seseorang yang melakukan suatu perbuatan yang sesuai dengan manhaj-Nya maka Ia akan mendekatkan orang itu kepada-Nya dengan pendekatan yang lebih besar dari pada pendekatan yang dilakukannya. Dan akibat dari kedekatan ini Allah akan menganugerahkan suatu pemberian yang khusus baginya yang bisa disaksikan oleh manusia disekitarnya. Hal itu bertujuan agar manusia menjadikannya sebagai suri tauladan di dalam menjalani kehidupan.

Allah berfirman di dalam hadis qudsi,

يَا بْنَ آدَم أَنَا لَكَ مُحِبٌّ، فَبِحَقِّى عَلَيْكَ كُنْ لِى مُحِبًّا

Wahai manusia Aku mencintaimu. Maka demi kebenaranku! cintailah Aku.

Allah berfirman di dalam hadis qudsi,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى، وَ أَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلاَءٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ

Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku, dan Aku bersamanya selama ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya di dalam diri-Ku. Dan apabila ia mengingat-Ku dan menyebut nama-Ku di depan sekelompok orang, maka Aku akan menyebut namanya di depan sekelompok makhluk yang lebih baik dari pada manusia (baca: sekelompok malaikat).

Allah Swt. meletakkan tanggung jawab kedekatan kepada Allah di tangan manusia sendiri. Barangsiapa yang beriman kepada Allah kemudian ia melakukan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya maka Ia akan mendekatkan dirinya kepada-Nya.

Syekh Mutawalli As-Sya’rawi

 

 

Share.

Leave A Reply