Al-Arifbillah Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Mukhsin Al-Hamid ra.

0

Salah satu hal yang paling mudah untuk mendatangkan rahmat Allah adalah menyebutkan nama-nama para kekasih Allah. Para ulama mengatakan, “di dalam menyebut-nyebut nama Allah itu akan turun rahmat”. Oleh karena itu hendaknya kita senang untuk menulis atau membaca biografi para ulama dan kekasih Allah.

Dialah “Habib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid”, atau yang terkenal dengan panggilan Habib Sholeh Tanggul (Jember – Jawa Timur).

Do’a dari Habib Sholeh ini memang dilakukan dengan penuh rasa keikhlasan dan tidak tercampur sedikitpun dengan urusan duniawiyah. Wajarlah, bila setiap do’a yang ia panjatkan sangat cepat dikabulkan oleh Allah SWT.

Ada orang bertanya mengenai resep agar do’anya cepat terkabul :
“Ya, Habib Sholeh. Apa sih kelebihan ibadah Habib Sholeh yang tidak orang lain lakukan, sehingga do’a Habib Sholeh cepat terkabul?”, Habib Sholeh menjawab, “Mau tau rahasianya, saya tidak pernah menaruh pispot di kepala saya”, Orang itu bertanya lagi, “Apa maksudnya ya Habib”, Jawab Habib Sholeh, “menaruh pispot di kepalamu dalam beribadah, Artinya, janganlah membanggakan dunia”.

Orang itu bertanya, “Contohnya bagaimana ya Habib?”, Habib menjawab, “Pispot walaupun terbuat dari emas murni yang terbaik di dunia dan bertahtakan intan berlian yang terbaik, Kalau dibuat topi, tetap akan membuat malu”, Ia berkata, “masih kurang paham Bib”.

“Kalau orang mau membanggakan dunia, bermodalkan dunianya. Semisal untuk membanggakan diri tujuannya untuk mencari dunia, lihat saja orang itu akan terjerembab oleh dunia. Karena amal orang itu dipamerkan”, jawab Habib Sholeh.

Habib Sholeh juga berkata, “jangan melakukan dosa syirik”.

Habib Ali Bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang) juga pernah bertanya kepada Habib Sholeh, “Wahai Habib Sholeh, engkau adalah orang yang do’anya selalu terkabulkan dan engkau sangat dicintai oleh Tuhanmu dan segala permohonanmu selalu dikabulkan”, Habib Sholeh pun menjawab, “Bagaimana tidak, sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat Allah murka, tidak pernah melanggar aturan Allah”.

Demikianlah Habib Sholeh Tanggul memberikan beberapa resep agar doa-doa yang dipanjatkan, cepat terkabul.

Habib Sholeh bin Mukhsin Al-Hamid lahir di Kurbah, Ba Karman (Wadi Amd) Hadramaut pada tahun 1313 H. Ayahnya adalah Habib Mukhsin bin Ahmad yang terkenal dengan sebutan Al-Bakry Al-Hamid, seorang yang saleh dan wali yang arif dan dicintai serta dihormati oleh masyarakatnya. Banyak orang yang datang kepadanya untuk bertawasul dan memohon do’a demi tercapainya segala hajat mereka. Ibundanya seorang wanita shalihah bernama Aisyah dari keluarga Alabud Ba Umar dari Masyayikh Alamudi.

Habib Sholeh memulai mempelajari kitab suci Al-Quran dari seorang guru yang bernama Said Ba Mudhij, di Wadi Amd, yang juga dikenal sebagai orang saleh yang tiada henti-hentinya berzikir kepada Allah Swt. Sedangkan ilmu fikih dan tasawuf ia pelajari dari ayahnya sendiri, Habib Mukhsin Al-Hamid.

Sewaktu kecil Habib Sholeh sebagaimana teman sebayanya, pernah menggembala kambing. Selain itu, ia ternyata mempunyai hobi menembak dengan senapan angin.

Bahkan kemampuannya, bisa dikatakan luar biasa, karena ia dikenal sebagai penembak yang jitu.

Pada usia 26 tahun, tepatnya pada bulan keenam tahun 1921 M, dengan ditemani Assyaikh Al-Fadil Assoleh Salim bin Ahmad Al-Asykariy, Habib Sholeh meninggalkan Hadramaut menuju Indonesia.

Mereka berdua sempat singgah di Gujarat (India) beberapa waktu, kemudian baru ke Jakarta. Kemudian sepupu beliau, Habib Mukhsin bin Abdullah Al-Hamid, seorang panutan masyarakat, mengajaknya singgah ke kediamannya di Lumajang.

Ia menetap di Lumajang untuk beberapa saat. Kemudian pindah ke Tanggul (Jember), dan akhirnya menetap disana.
Pada suatu saat ia melakukan uzlah (mengasingkan diri dari manusia) selama lebih dari tujuh tahun. Selama itu pula ia tidak menemui seorang pun dan tidak seorang pun manusia menemuinya.

Dalam khalwatnya itu, ia banyak membaca Al-Quran dan kitab Dalailul Khoirat yang berisi selawat dan salam kepada Rasulullah SAW, “Aku bertemu dengan Rasulullah yang memancarkan sinar dari wajahnya yang mulia.”

Hingga tibalah di akhir masa khalwat, datang Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf kepadanya dan memberikan satu sorban hijau dengan mengatakan, “Ya Habib Sholeh, datang kepadaku Rasulullah SAW dan mengutusku untuk menyerahkan sorban hijau ini. Ini adalah pertanda kewalian qutb (kutub) atasku jatuh ke pundakmu”, sambil menyematkan sorban hijau itu ke pundak Habib Sholeh.

Habib Sholeh saat itu merasa dirinya kecil dan belum pantas, maka ia bertanya,”Pantaskah saya menerima anugrah Allah SWT yang sedemikian besar ini, Mampukah saya mengembannya”. Dalam khalwatnya, ia menangis terus dan tidak pernah keluar dari kamarnya dan minta petunjuk kepada Allah SWT.

Saat itu rumahnya masih sangat sederhana terbuat dari bilik bambu. Padahal sudah banyak habaib, saudara, orang-orang kaya datang kepadanya untuk membongkar rumahnya, tapi beliau tidak pernah mau.

Ia sering berkata, “Jangan dibetulkan, jangan diapa-apakan, biarkan saja, saya takut Rasulullah SAW tidak datang lagi ke tempat ini”. Saya setiap hari berjamaah shalat lima waktu dengan Rasulullah SAW di rumah ini. Jangan dibongkar rumah ini”.

Khalwatnya itu berlangsung selama kurang lebih tujuh tahun. Hingga suatu saat ia mendapat isyarat dari Rasulullah SAW agar menziarahinya di Madinah. Ketika ia mengutarakan maksud dan tujuannya akan berangkat ke Baitul Makkah dan Madinah.

Ketika ditanya oleh banyak orang, Habib Sholeh dengan tersenyum menjawab :

“Sebelum rumah ini dibangun saya telah diberitahu oleh Rasulullah SAW dan biarkan rumah ini dibangun.”

Sebuah pertanda, Habib Sholeh Al-Hamid telah dipandang mampu mengemban amanah dan dipercaya menyandang khilafah kenabian serta untuk menebarkan kemanfaatan kepada umat manusia.

Lalu “Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf” menyuruhnya datang ke kediamannya di Gresik. Sesampainya di rumah, ia menyuruh Habib Sholeh Hamid mandi di jabiyah (kolam mandi yang khusus miliknya). Setelah itu, sang guru memberinya mandat dan ijazah dengan memakaikan jubah imamah dan sorban kepadanya.

Dakwah Habib Sholeh kepada masyarakat sekitar diawalinya dengan membangun mushala di tempat kediamannya.

Habib Sholeh Tanggul selalu mengisinya dengan kegiatan Shalat berjemaah dan hizib Al-Quran antara Magrib dan Isya’ di mushala ini.

Ia juga menggelar pengajian-pengajian yang membahas hal-hal mana yang dilarang oleh agama dan mana yang diwajibkan agama, kepada masyarakat sekitar.

Setiap selesai Shalat Asar, ia membacakan kitab An-Nasaihud Dinniyah, karangan “Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad”, yang diuraikannya ke dalam bahasa keseharian masyarakat sekitar, yakni bahasa Madura.

Beberapa tahun kemudian, ia mendapatkan hadiah sebidang tanah dari seorang muhibin, orang yang mencintai anak-cucu keturunan Nabi Muhammad, yakni H. Abdurrasyid.

Tanah ini lalu ia wakafkan. Di atas tanah inilah ia membangun masjid yang diberi nama Riyadus Sholihin. Di masjid ini kegiatan keagamaan semakin semarak. Kegiatan keagamaan, seperti Shalat berjemaah, hizib Al-Quran, serta pembacaan Ratib Al-Hadad, rutin dibaca di antara Magrib dan Isya’.

Dalam kesehariannya, ia selalu melapangkan dada orang-orang yang sedang dalam kesusahan. Bahkan orang-orang yang sedang dililit utang, ia bantu untuk menyelesaikannya. Jika ia melihat seorang gadis dan jejaka yang belum menikah, ia dengan segera mencarikan pasangan hidup dengan terlebih dahulu menawarkan seorang calon. Apabila ada kecocokan di antara keduanya, segeralah mereka dinikahkan. Bahkan, sering Habib Sholeh yang membantu biaya pernikahannya. Pernah pula, dalam waktu sehari ia mendamaikan dua atau tiga orang yang bermusuhan.

Wasiat atau ajarannya yang paling terkenal : “Hendaklah kamu menjaga Shalat lima waktu. Jangan pernah tinggalkan Shalat Subuh berjemaah. Muliakan dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua. Jadilah kamu sekalian sebagai rahmat bagi seluruh alam. Berbuat baik jangan pilih kasih, kepada siapa pun dan di mana pun.”

Dalam kehidupan kemasyarakatan, ia juga terlibat sangat aktif. Antara lain, Habib Sholeh Tanggul juga tercatat sebagai pemberi spirit dengan meletakkan batu pertama pembangunan Rumah Sakit Islam Surabaya. Bahkan ia tercatat sebagai kepala penasihat rumah sakit. Ia juga tercatat sebagai ketua takmir Masjid Jami’ yang didirikan di kota Jember, yang pembangunannya juga dapat diselesaikan dalam waktu singkat berkat doa dan keikutsertaannya dalam peletakan batu pertama.

Kekaramahan dan derajat kewalian Habib Sholeh telah mencapai tingkatan Qutub. Yakni, sebagai pemimpin dan pemuka bagi para pembesar aulia di masanya.
Dalam konteks ini, berkata Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Abdrurrahman Assegaf : “Habib Sholeh adalah orang yang do’anya selalu terkabul dan orang yang sangat dicintai dan disegani”.

Bahkan, salah seorang ahli waris keluarga Habib pernah mendengar salah seorang saleh yang dapat dipercaya bercerita kepadanya. Ia pernah bermimpi melihat Habib Sholeh sedang duduk di suatu tempat dan tangan kanan Habib Sholeh memegang tiang dari nur yang sinarnya berkilauan sampai ke langit, lalu terdengar ucapan : “Sesungguhnya Habib Sholeh adalah orang yang mujabud dakwah – doanya selalu diijabah.”

Dikisahkan, suatu waktu ia sedang berjalan bersama Habib Ali bin Abdurahman bin Abdullah Al-Habsyi Kwitang Jakarta, dan ia juga berkunjung ke kediaman Habib Ali bin Husein Al-Attas di Bungur Jakarta.

Saat melintasi sebuah lapangan, ia melihat banyak sekali orang berkumpul untuk melakukan Shalat Istisqa, Shalat khusus untuk meminta hujan, karena pada saat itu Jakarta sedang dilanda kemarau panjang.

Habib Sholeh Tanggul pun berkata :
“Serahkan saja kepadaku, biar aku yang akan memohon hujan kepada Allah.”

Tak lama kemudian, setelah Habib Sholeh Tanggul menengadahkan tangan ke langit, seraya membaca doa meminta hujan, hujan pun turun.

Adapun, mengenai kedermawananya, tak seorang pun meragukanya. Bahkan ia selalu memberikan apa yang ada di tangannya mana kala ada seorang yang meminta, atau bahkan memberi salah satu dari kedua pakaiannya.

Berkata salah seorang ulama mengenainya :

“Seandainya ia tak memiliki apa pun kecuali rohnya, ia pun akan menyerahkannya kepada yang memintanya.”

Banyak yang meyakini, Habib Sholeh Tanggul adalah seorang wali yang dekat dengan Nabi Khidir. Karena itu pula ia terkenal dermawan, seolah apa pun yang ia miliki ingin ia berikan kepada setiap orang yang membutuhkan.

Menjelang wafatnya, tidak menunjukan tanda apa-apa. Hanya beliau sering mengatakan kepada keluarganya : “Saya sebentar lagi akan pergi jauh. Yang rukun semua yah, kalau saya pergi jauh jangan ada konflik,” kata Habib Sholeh saat di bulan puasa.

Waliyullah yang doanya selalu terkabul itu wafat dengan tenang pada 7 Syawal 1396 H (1976) dengan meninggalkan 6 putra-putri yakni : Habib Abdullah (alm), Habib Muhammad (alm), Syarifah Nur (alm), Syarifah Fatimah, Habib Ali, dan Syarifah Khadijah. Jenazahnya kemudian dimakamkan di komplek pemakaman Selatan PJKA, Tanggul – Jember – Jawa Timur.

Wallahu A’lam

 

Share.

Leave A Reply