Adab Menghormati Ulama

0

Adab Menghormati Ulama. Menjadi ulama adalah harapan setiap orang. Namun hal itu tidak semudah membalikkan tangan. Ada hal-hal yang harus dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu.

Dalam sebuah kesempatan Al-Habib Seif Alwi Ba-Alawy menyampaikan: Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang guru. sayyidina Ali ra berkata: “Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, dimerdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.” orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan agamamu, adalah bapak dalam kehidupan agamamu.

Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru kami berucap : “bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka memelihara, memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada kaum ahli agama(berilmu) yang tengah dalam pengembaraan pencarian ilmu. Kalau ternyata nanti bukan putranya yang alim, maka cucunyalah nanti (yg akan mnjd orang alim).”

Termasuk arti menghormati guru adalah:
1. Jangan berjalan di depannya,
2. Duduk di tempatnya, (tidak mengobrol dan tidak bercanda).
3. Tidak memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya,
4. Tidak berbicara macam-macam kepadanya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya,
5. Jangan mengetuk pintu rumahnya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.

Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhaka kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya(keluarganya).

Syech Burhanuiddin Shahibul Hidayah pernah bercerita bahwa ada seorang imam besar di Bukhara, pada suatu ketika sedang asyiknya di tengah majlis belajar ia sering berdiri lalu duduk kembali. Setelah ditanyai kenapa demikian, lalu jawabnya : ada seorang putra guruku yang sedang main-main dihalaman rumah dengan teman-temannya, bila saya melihatnya sayapun berdiri demi menghormati guruku.

Qodli Imam Fakhruddin Al-Arsyabandiy yang menjabat kepala para imam di marwa yang sangat di hormati sultan itu berkata : “Saya bisa menduduki derajat ini, hanyalah berkah saya menghormati guruku. Saya menjadi tukang masak makanan beliau, yaitu beliau Abi Yazid Ad-Dabbusiy, kami tidak turut memakannya.”

Wallahu A’lam

Share.

Leave A Reply